Cari Blog Ini

Selasa, 14 Maret 2023

Serba-serbi J150K 2023 #3

 


Masih dari "serba serbi #J150K2023"


 

Dulu, awal aku kenal Ranz, dia suka memotret, namun tidak suka dipotret😊


di tiap event sepedaan yang kami ikuti bersama, jelas dia bawa kamera untuk memotret. Maka, aku ga pernah berburu foto yang disediakan panitia seusai event, (Mripate ngasi jereng ndaaa metani foto siji2!) karena pasti aku sudah punya foto sendiri yang dijepret oleh Ranz.

 

Selama pandemi, kami ga pernah ikut event (kecuali Jamselinas 10 yang pendaftarannya sudah dibuka sebelum pemerintah mengumumkan Indonesia darurat covid19 sehingga event diselenggarakan secara virtual.) kami berdua hanya dolan-dolan sendiri (itu pun hanya ke Jogja pp). Ranz masih suka membawa kamera di tasnya, tapi belum tentu dia keluarkan untuk memotret. 

 

(Dulu, mottonya adalah kamera itu sejenis kondom, wajib dibawa in case dibutuhkan😜ketimbang ga bawa, eh, ketemu spot cantik, sayang kan ga dipotret.)

 

Keabsenan kami ikut event selama kurang lebih 2 tahun ternyata membuat Ranz kagok motret lagi selama event. Padahal dulu itu, dia sangat lincah memotret dari atas sepeda, bahkan saat trek nanjak maupun turun. Maka, saat ikut Jamselinas 11 di Purwokerto kemarin, aku kudu berburu foto event setelah selesai😕

 


Setelah ikut #J150K the Next Level Endurance 2023 ini aku masih males berburu foto. Banyak fotografer yang bertebaran di sepanjang jalan yang berarti butuh usaha lebih 'keras' untuk menemukan foto. Most of them fotografer yang jualan. 

 

Eh, kemarin siang, aku di-DM an ex student di IG: "Miss Nanaaaa, how are you? I saw you joining a great event J150K. I found some photos of yours in one sports photographer. Here I bought some for you. Hope you like it." 

 

Waw! A real surprise! 

 

Ini satu foto yang masih ber-watermark


Thank you Michael, wherever you are now


P. S.:

Foti dijepret di atas tanjakan loh gaes #pamer

😆

 

=====================================================

 


 

(Masih dari serba-serbi #J150K2023)

 

X: "piye kabare mbak, wis suwi ora ketok (ning grup alumni)

Aku: "He-eh, aku sibuk pit-pitan, melu event ngepit 150 kilometer."

X: "Hah? Tenane? 150 kilometer?"

Aku: (aku tunjukin foto rute di strava)

X: "Edun ik, entek sate pira? 😱😱😱"

 

Aku: Sajiane:

Water station 1 : pisang + air mineral

Check point 1 : lemper + air mineral

Water station 2 : roti pisang + roti nanas + air mineral

Check point 2 : (maksi) nasi sop + teh + air mineral

Water station 3 : pisang + air mineral

Finish : bakso 

 

Gala dinner

* nasi gudeg

* buffet (ada gurame asam manis, ayam goreng, sup, sate ayam, capcay)

* kambing guling

* buah buahan + es krim

* soft drink

 

(Btw, aku ga sempet muterin semua sajian sih, so aku ga tahu semua. Itu pun aku hanya ambil yang di meja "buffet" plus buah dan es krim, sudah kenyang.)

 

Serba-serbi J150K 2023 #2

 

setelah mantengin ribuan foto, akhirnya nemu 1 foto ini 😢😥

Mbak RRM: "Jika masih nekad, kita masih memiliki semangat hidup!"

 

Yesss!

 

Kemarin Sabtu 4 Maret, setelah mencapai kilometer ke-130 adalah etape paling sulit bagiku, meski trek tinggal datar. R memutuskan untuk evak saja (yang aku syukuri ketimbang dia mau ngepit tapi super duper lelet sambil ngomelin orang-orang yang 'lodang loding' hingga aku kian lelah) jadi aku tinggal bersepeda sendirian. Masih banyaaak peserta di belakangku, tapi jaraknya jauuuh. Ada peserta di depanku, tapi ya begitulah jaraknya juga jauh dariku. Tenagaku tinggal sisa-sisa, ga bisa lagi menggeber Austin secepat mungkin untuk membersamai peserta yang di depanku. Yang bisa kulakukan ya menenangkan diri sambil berkata dalam hati, "You can do this, Nana. Come on, you are the tough one!"

 

Di saat yang bersamaan, mataku mencari-cari petunjuk kira-kira Jombor kurang berapa kilometer lagi? 

 

Begitulah, 19 kilometer yang membuatku tegang, begitu merindukan Jombor!😛😜😝karena kalau telah sampai flyover Jombor, titik finish sudah terpampang di depan mata!


 

Aku nekad! Aku masih memiliki semangat hidup! Yeay! Je m'aime! I love myself!

 

Semarang 06.03.2023

 

===================================

 

Ning Tia Tia

 

Masih ingat obrolan kita selepas Tour de Pangandaran tahun 2016? Yang aku heran melihat sekelompok perempuan bersepeda di sekitar kilometer ke-90 karena mereka masih nampak kinclong? Dandanan mereka tetap cethar membahana? Gile ya, sudah bersepeda sejauh kurang lebih 90 kilometer, pipi mereka masih merah merona nggemesin, lipstick pun masih nampak menempel cantik?

 

Naaah

 

Kemarin di #J150K2023 ada yang seperti itu loh. Malah lebih mengherankan karena sepeda-sepeda mereka pun masih kinclong dan jersey yang mereka pakai masih nampak bersih padahal di 25 kilometer pertama itu peserta diberkahi hujan lebat sampai di Water Station 1. #nyinyir

 

Dan beberapa kali Ranz melihat "pasukan" naik sepeda lipat merk tertentu naik turun mobil. Mereka turun saat kira-kira water station atau check point sudah tinggal 3 - 4 kilometer di depan. Setelah melewati CP dan WS? Loading lagiiii


No wonder ya jika nganu


#julidpagi

 

Semarang 7 Maret 2023

 

Rabu, 08 Maret 2023

Serba-serbi J150K 2023 #1

 


Serba serbi 1:

 

#J150K2023: The Next Level Endurance

 

Sabtu dini hari hingga pagi 4 Maret 2023, Jogja diguyur hujan. Aku sempat gamang; duh males banget jika baru mau sepedaan (mana jarak jauh pula) kok sudah kudu kehujanan.

 

Pukul 05.30 R sudah mengajak berangkat. Aku sempat mikir mau langsung pakai mantel ga ya. Ternyata, setelah keluar dari hotel yang berjarak hanya 500 meter dari venue, sudah ga ada tetes hujan. Ok, ga usah pakai mantel.

 

Di dekat titik start, sudah lumayan banyak peserta. MC mulai menyapa peserta sekitar pukul 05.45. Dikatakan bahwa makna "the next level endurance" itu berarti peserta akan diuji ketahanan mentalnya, tidak hanya jarak yang panjang, trek yang aduhai, namun juga cuaca: hujan, panas, berangin.

 

Tak lama kemudian, gerimis turun lagi. Sebagian peserta kulihat mulai mengenakan mantel. R kutanya mau pakai mantel ga, dia jawab ogah. Dan, aku ikutan enggan

 

aku ingat saat bersepeda Ngawi - Solo Desember 2019, kami kehujanan, tanpa pakai mantel karena semula hanya gerimis, hingga sudah basah saat gerimis menderas. Oke, gapapa deh hujan-hujanan

 

Peserta diberangkatkan pukul 06.10 oleh Bupati Sleman. Gerimis sudah menderas, bahkan sempat lebat sekali. Menjelang kilometer ke-25 di Water Station 1, hujan mereda. Aku sudah ingin matahari muncul agar baju yang kupakai mengering


 


 

Selepas check point 1 di kilometer 51, sinar mentari mulai terasa membakar. Saat menuju Water Station 2 di kilometer 74, di area sekitar Pantai Depok, Pantai Samas, angin terasa mulai menghambat laju sepeda. Panas yang menyengat plus angin: cakep! Mana jalannya lurus panjaaaang di sisi kiri kanan sawah, sungguh terasa membosankan

😆

mendadak aku ingin hujan turun lagi.

😱

 

😝

 

Di sini R mulai terlihat jenuh. Biasanya kami ga pernah berhenti mengayuh pedal saat sepedaan jarak jauh, kecuali jika memang niat berhenti, R sering berhenti setelah mengayuh sekitar 5 putaran. Aku kudu rajin ngerem untuk tetap berada di belakang/sampingnya. Suwi-suwi entek iki kampas rem Austin

 

Sesampai Check Point 2, saat makan siang dengan menu sop ayam yang lezat, R nampak excited lagi. Kemarin-kemarin aku sempat bilang ke R ga usah ngoyo kali ini, toh kita sudah 3 kali ikut J150K. Aku juga bilang sama mamas ga akan ngoyo mengingat cedera kaki yang belum benar-benar pulih plus sakit perut yang saat datang aku tak bisa bebas beraktifitas.

 

Kemarin Jumat waktu mengambil ride pack di pendopo Ambarrukmo, seorang dedengkot JFB bilang, "sesuk ora usah ngoyo mbak, santai wae wong kalian wis bola bali melu."

 

seorang kawan lawas lain bilang, "kok kalian belum pensiun? Aku cedera kaki dadi wis males melu event ngepit adoh-adoh ngene iki." Hoho dia ga tahu, aku juga cedera kaki.

 

Meninggalkan Check Point 2 di kilometer 100, R kembali terlihat ceria. Aku ngabarin mamas kayaknya aku akan lanjut gowes sampai titik finish, kan tinggal 50 kilometer lagi. Semesta menghadiahi kami dengan mendung setelah ini.

 

Namun ga lama, R mulai terlihat kendor lagi. Setiap papasan dengan mobil-mobil yang dipakai peserta untuk loading (mereka didampingi support car mereka sendiri) dan mereka turun saat mendekati water station maupun check point agar nampak full gowes, dia terlihat gusar dan kesal. Dan mulai ngomel.

 

Aku bilang, "don't compare yourself with them. Motivasi peserta J150K ini pasti macam-macam. Aku sendiri ingin "challenge" diriku sendiri masih mampu ga sih setelah cedera kaki plus jarang bersepeda jauh kecuali bersepeda ke kantor. Entah mereka. Meski nanti sama-sama finish, beda lah kepuasan yang kita rasakan." Dan ... R tetap ngomel-ngomel.

 

Aku sampai di water station bayangan terlebih dahulu ketimbang R karena aku mulai males kudu ngerem-ngerem melulu untuk tetap berada di belakang R. Kunikmati saja kayuhanku. Dari sini rute menuju Nanggulan. Aku gantian ngomel ke Ranz.

 

"Kalau mengayuh pedal pelan-pelan gini, aku kudu ngerem, aku capek! Ayuklah cepetan!"

 

Dijawab R, "aku tuh ga capek, aku cuma males!" Lha piye jal, yang capek tuh kan aku jika harus mengayuh pedal pelan2 plus ngerem bola bali. Katanya lagi "Kalau kamu mau duluan, sana duluan!" Aku langsung melesat menginggalkan R di belakang.

 

Sesampai di spot pembagian gelang, mas Totok seorang eks ketua JFB heran melihatku sendirian, "Balamu ndi mbak?" Aku langsung curhat dong, bla bla bla. Ada om Karjok juga di situ. Mereka berdua ngekek mendengar aku curhat, "R kesal melihat peserta yang lodang loding jadi dia aras-arasen ngepitnya."


"Water station 3 di sebelah mana sih?"

"Isih adoh mbaaak." Dijawab mas Totok. Duh, aku harus terus menyemangati diri sendiri.

 

Sesampai di Water Station 3, di kilometer 130, aku kembali ngemil pisang yang dibagikan panitia. Tak lama kemudian mas Totok sudah sampai. (dia marshall 'berjalan' naik motor.) Dia bilang, "kae R wis cedhak. Mau tak dorong. Entenana ya." Benar juga ga lama kemudian R muncul. Tapi, dia malah bilang, "mas, aku meh evak wae." Ya sudah, aku langsung melanjutkan perjalanan, sendirian lagi.

 

19 kilometer menuju flyover Jombor rasanya jauuuuh sekali. Traffic light yang ada dan jalanan yang penuh pengguna jalan kian memperlambat lajuku. Aku sebut-sebut nama Jombor siapa tahu tiba-tiba dia muncul di depan mata


Dan ... akhirnya aku pun sampai Jombor! Alhamdulilah! Kurang sedikit lagiiii!

 

Saat sampai Monjali dan menerima kalungan medali, aku langsung mengeluarkan hp, untuk motret. Ternyata R sudah sampai dan mencariku. Dia sudah pengen balik ke hotel untuk mandi.

 

Terima kasih kawan-kawan facebook yang menyemangati. I thank you so very much


Monjali 05.03.2023

 

Selasa, 28 Februari 2023

Sunmori ke Waduk Cengklik

 


Karena aku kembali harus 'rajin' dolan ke Solo untuk terapi, weekend tanggal 24 - 26 Februari 2023 aku berada di Solo lagi. Di hari Sabtu 25 Februari, aku sepedaan sendiri, sarapan di warung soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara, kemudian muter lewat jalan-jalan yang aku merasa 'aman' aku ga bakal tersesat, hihihi. Sesampai stadion Manahan dan melihat street food court baru yang tertata rapi, aku berhenti dan nongkrong lumayan lama di sana.

 

Ranz bertanya aku pengen bersepeda kemana di hari Minggu, aku manut dia sajalah mau bersepeda ke mana. Seminggu sebelumnya kan dia sempat bilang mau mengajak ke Sukoharjo, ke RM ayam goreng Mbah Karto, tapi malah jadinya ke Omah Prahu Waduk Cengklik. One thing dari perjalanan itu: lumayan asyik juga lewat jalan yang jarang kita lewati. Aku dan Ranz kan cukup sering bersepeda ke arah Sukoharjo (plus lanjut Wonogiri), dan ke arah Jogja. Terakhir ke Waduk Cengklik (sebelum tahun ini) kalau tidak salah itu tahun 2015, waktu mengajak Dwi dan Tami ke Jembatan Landa.

 

Ranz menawari ke Waduk Cengklik lagi, tapi bukan ke Omah Prahu. Aku ya oke-oke sajalah, gapapa. Tapi waktu dia bertanya apakah aku ada ide, aku bilang aku pengen ke Alas Bromo (lagi). Terakhir ke sana waktu gowes virtual Jamselinas 2020. Ranz nampak rada ragu-ragu ke sana, dia bilang, "Tapi ini musim hujan, bla bla bla." Ya sudahlah, makanya aku manut dia mau nemenin aku bersepeda ke mana.

 

Minggu 26 February 2023

 

Seperti seminggu sebelumnya, pagi ini kami berdua sama-sama mager, lol. Setelah mandi, Ranz bertanya tujuan kita ke mana, lol. Piyeee, aku sudah membayangkan ke Waduk Cengklik (bahkan juga sudah membayangkan ke Omah Prahu lagi, aku juga tidak keberatan), malah Ranz ga jelas begitu. Lol.

 

Menjelang jam 8 baru kami meninggalkan rumah, menuju arah Colomadu untuk lanjut ke Waduk Cengklik. To our surprise, setelah melewati gapura Makuta Dewa, di sepanjang jalan (duh, aku lupa nama jalannya) ada CFD Colomadu. Perjalanan jadi tersendat, tapi ya gpp, toh kami ga terburu-buru mau kemana.

 


 

Di perempatan setelah melewati kawasan AU, Ranz mengajak belok kiri. Seminggu yang lalu, kami lurus masuk ke Kabupaten Boyolali. Oh ya, aku bilang ke Ranz aku pengen masuk ke Waduk Cengklik Park. Sesampai area Waduk Cengklik, ternyata suasana jauuuh lebih ramai ketimbang seminggu sebelumnya! Kami sarapan di satu warung di dekat WCP. Usai sarapan, aku mengajak Ranz masuk ke WCP, tapi melihat kerumunan para pengunjung yang banyak sekali di pintu masuk, Ranz ogah. Ya sudah, manut. (Aku manutan ya? Hihihi)

 

nasi pecel wader

 

Otw balik ke Solo, Ranz mengajak memutar ke arah Omah Prahu dulu. Kirain dia mau mengajak ke sana lagi, foto-foto lagi! Ternyataaaa engga! Cuma mlipir lewat sana doang. Ranz malah mengajak mampir foto-foto di De Tjolomadoe. Hokeee.

 

Setelah foto-foto di De Tjolomadoe (di tempat parkirnya doang, ga masuk gedung, so ga perlu beli tiket masuk), kami langsung pulang. Jarak tempuh 31 kilometer. Sesampai rumah, hujan turun, sampai malam!

 

MS48 18.06 28.02.2023

 




Senin, 27 Februari 2023

Samori ke Omah Prahu

 


Tanggal 18 February 2023 yang jatuh pada hari Sabtu adalah hari libur isra' Mi'raj. This is really something buat saya dan Ranz karena hari Sabtu adalah hari kerja buatnya! So? Mari kita dolan! Hihihi … Semula saya mau mengajaknya bersepeda Solo - Jogja di hari Sabtu, dan hari Minggunya bersepeda balik lagi ke Solo, itung-itung latihan endurance lah buat J150K. (biasanya kami menginap 2 malam di Jogja, baru balik lagi ke Solo.) Namun ternyata Ranz yang sudah lama pengen dolan ke Srambang Park - Ngawi lagi malah bilang, "Nanti hari Minggunya kita ke Srambang Park yuk!" hohoho … ya jelas saya tidak menolak diajak ke Srambang Park lagi!

 

Hari Jumat 17 February 2023 saya ke Solo naik travel, seperti biasa. Perjalanan kali ini sekalian saya niatkan untuk terapi di hari Jumat itu juga. Namun ternyata mbak Rina -- therapist saya maupun Ranz -- pergi ke Bali bersama keluarga. Ya sudah, akhirnya di hari itu, saya hanya menemani Ranz latihan di fitness center langganannya.  Siangnya sekitar pukul 13.00, Solo diguyur hujan. Ya sudah.

 

Sabtu 18 February 2023

 

Awalnya Ranz bilang mau mengajak saya bersepeda ke arah Sukoharjo, sarapan di RM Mbah Karto yang ayam gorengnya terkenal, apalagi Jan Ethes suka makan di sini. Wah, sudah bertahun-tahun kami tidak kesana, tentu saya tidak menolak. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 35 kilometer pp. Ya lumayanlah.

 



 

Akan tetapi mendadak rencana ini berubah total. Ranz malah mengajak ke Waduk Cengklik, satu destinasi wisata yang pertama kali kami kunjungi saat saya pertama kali dolan ke Solo bawa sepeda lipat, 12 tahun yang lalu! Kali ini, ada tempat nongkrong baru yang bernama OMAH PRAHU. Jarak tempuhnya mungkin kurang lebih sama dengan ke arah RM Mbah Karto. Ya sudah, saya ngikut saja

 

Sabtu itu kami berdua sama-sama molor, lol. Hawa sejuk jelas membuat kami berdua malas bangun pagi. Hihihi. Di strava tercatat bahwa kami memulai gowes itu pukul 08.00 pagi. Makanya ga heran di perjalanan kami berpapasan dengan banyak pesepeda yang nampaknya juga baru berkunjung ke area Cengklik. Ternyata jarak yang kami tempuh dari rumah Ranz ke Omah Prahu hanya sekitar 13,5 km!

 



 

Di Omah Prahu kami hanya jajan gorengan karena perut saya tidak lapar sama sekali. (Jumat malam saya 'ngemil' mihun di Wedangan Pak Basuki, sementara biasanya saya 'puasa' makmal.) Foto-foto lebih penting di sini. Hohoho. Setelah kami rasa cukup, Ranz mengajak saya meninggalkan area, dan … dia mengajak ke Waduk Cengklik di arah yang berbeda: di titik yang pertama kali kami kunjungi.

 

Pulangnya Ranz mengajak sedikit memutar, dan kami 'brunch' di satu warung ayam bakar Taliwang di kawasan Banjarsari.

 

Sesampai rumah, jarak tempuh kami 31 kilometer. Ya gapapa, better than nothing lah. :D

 

MS48 20.38 27.02.2023

 beberapa foto lawas saat pertama kali saya dan Ranz ke Waduk Cengklik, di bulan Juni 2011, bisa dibaca di link ini. Link yang ini tentang gowes kami yang kedua ke lokasi yang sama. (hah! saya malah sudah lupa! hohoho)



Road to J150K 2023

 

dari event J150K 2019

Ini postingan curhat ya gaes :)

 

Semenjak Ranz mulai ngegym di pertengahan tahun 2020, dia nampak sangat menikmatinya, dia mulai kurang enjoy sepedaan. Semula hal ini tidak begitu saya rasakan; di tahun 2020 itu kami sudah daftar jamselinas 10, yang gagal terselenggara gara-gara pandemi, para peserta diminta melakukannya secara 'virtual'. So, kami hanya melakukannya berdua saja. You may check this link.

 

Saya mulai merasakan keengganan Ranz ikut event saat kami ikut event ultah Seli Solo yangke-12. Ranz ngomel sejak awal mulai gowes, lol, dan berulang kali bilang mau pulang saja, ga ikut bersepeda sampai tujuan, Bale Rancah di Boyolali. Herannya, saat pulang, bukannya dia mengajak saya loading, dia tetap menemani saya bersepeda kembali ke Solo, karena "kamu pasti mau ngepit baliknya kan?" tuduhnya, lol. Memang iya sih. Hohoho.

 

Saat merayunya untuk ikut jamselinas 11, saya kembali merasakan keengganan Ranz. Pertengkaran-pertengkaran kecil gegara keengganannya ini membuat saya berkata pada diri sendiri, "sudahlah, ini adalah event terakhir kami ikut. Setelah ini ga usah ikut event apa-apa lagi. Sepedaan berdua saja. Atau kalau dia beneran sudah enggan bersepeda, ya sudah, saya sepedaan sendiri."

 

Ternyata waktu jamselinas di Purwokerto itu, saya mendapat info bahwa JogjaFoldingBike akan menyelenggarakan J150K untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-14. mendengar info itu, ternyata o ternyata, saya TERGODA untuk ikut, lol. Maka, saya pun kembali merayu Ranz, hohoho. "Let's see how much the registration fee is," katanya. "Kalau lebih dari 400ribu, ga usah!" lanjutnya. Hoke!

 

Saat JFB mengumumkan kapan dibuka pendaftaran dan biaya pendaftaran yang mencapai jumlah Rp. 600.000,00 Ranz langsung bilang "mahal! Ga usah!" tapi kemudian dia bertanya, J150K 2019 berapa biaya pendaftarannya, saya jawab Rp. 500.000,00. "Dapatnya apa saja?" tanyanya lagi. "Jersey, cycling cap, dan medali." setelah tahun J150K 2023 biaya pendaftarannya Rp. 600.000,00 namun peserta akan mendapatkan "jersey, cycling cap, medali, dan sling bag," saya pun merayu Ranz lagi. Wakakakakaka … meski, Ranz tetap terkesan ogah-ogahan.

 

Entah mengapa saat pendaftaran menjelang dibuka, Ranz memberi saya lampu hijau untuk mendaftar, dengan catatan saya yang harus 'bertarung' cepat-cepatan mendaftar, dia ga mau repot-repot rebutan mendaftar. Akan tetapi, saat saya bilang, "peraturan pendaftarannya sekarang setelah berhasil memasukkan data-data, kita harus segera membayar, hanya diberi waktu sekitar 15 menit sesudahnya. Padahal waktu pendaftaran itu saya berada di kelas, mengajar. Plus, saya yang masih conventional ini belum punya m-banking! Akhirnya? Ranz yang 'rebutan' mendaftar! Hohoho …

 

Ok. Nama kami berdua sudah fixed terdaftar. Then what? Menyadari bahwa saya sudah semakin malas sepedaan selain bike-to-work atau saat Ranz mau saya ajak bikepacking -- yang hanya bersepeda Solo - Jogja doang, lol -- saya tahu bahwa mulai bulan Januari saya harus memaksa diri untuk 'latihan'. Sehari harus bersepeda minimal 30-50 kilometer terus menerus. Hingga menjelang hari H.

 

Akan tetapi rencana tinggal rencana. Kenyataan tidak menyenangkan terjadi pada kami berdua.

 

Saat dolan ke Jogja akhir tahun 2022, Ranz terserang vertigo yang parah hingga kami praktis hanya bersepeda di hari pertama: Solo - Jogja. Rencana bersepeda ke Gumuk Pasir dan bersepeda balik Jogja - Solo gagal karena sampai di hari ketiga kami di Jogja, Ranz tetap dalam kondisi buruk. Dan kondisi ini terus berkepanjangan hingga akhir bulan Januari. Sementara itu, kondisi kesehatan saya juga ikut-ikutan memburuk, terutama keluhan di perut yang sangat amat tidak nyaman. Mana cedera kaki tahun lalu belum beneran pulih. Ditambah lagi kondisi Austin yang sudah tidak seprima beberapa tahun yang lalu, entah kok berulang kali saya bawa ke bengkel, kondisinya tidak terlalu berubah.

 

Di bulan Januari lalu, saya sempat bilang kepada Ranz jika tidak yakin dengan kondisi kesehatannya, dan dia membatalkan ikut event ini, saya akan 'menjual' dua tiket pendaftaran kami di grup id-foldingbike, di pertengahan bulan Februari. Namun ternyata Ranz nampak tidak kepengen menjual tiket pendaftaran kami, meski dia juga aras-arasen booking kamar hotel buat kami menginap di tanggal 3-5 Maret 2023. wis ta, pokokmen parah ra karuan. Lol.

 

Well, J150K 2023 akan segera diselenggarakan, tinggal 5 hari lagi. Wish us luck yaaa.

 

MS48 19.49 27.02.2023

 

Jumat, 06 Januari 2023

Sharing, flexing, and ruining

 

Candi Cetha, Januari 2013

Dari postingan saya kemarin yang berjudul "flexing, healing dan baper" ada yang menulis komen bahwa tidak pas jika kata 'flexing' dikontraskan dengan 'healing'; namun lebih pas jika kata 'flexing' dikontraskan dengan 'sharing'.

 

Komentar ini mengingatkan saya pada satu obrolan ringan dengan Radit, tentang destinasi wisata. Sekitar 11 tahun yang lalu, setelah saya mendapatkan partner dolan bersepeda, kami suka blusukan mencari lokasi yang menarik untuk dikunjungi dengan naik sepeda. Setelah itu, saya akan mengunggahnya di media sosial. Saya bermaksud sharing tentu saja, memberi ide para pembaca tulisan saya tujuan untuk bersepeda. Saya dengan suka cita akan menjelaskan letak lokasi sekaligus rute dan trek yang akan dilewati, jika ada yang bertanya secara detil.

 

Sebaliknya, Radit biasanya -- kadang -- hanya mengunggah foto lokasi yang dia tuju, atau yang dia lewati saat sepedaan, atau juga saat 'turing' naik motor lawasnya. Alasannya adalah: di zaman dimana orang-orang hobi foto, kemudian mengunggahnya di medsos, lokasi-lokasi eksotis seperti itu akan cepat diburu untuk dikunjungi, dan dijadikan background maupun objek foto.

 

Permasalahan bisa saja muncul setelah itu: jika para pengunjung itu tidak memedulikan kebersihan atau memelihara tempat tersebut, maka lokasi itu akan cepat menjadi lokasi yang kotor, rusak, dlsb.

 

Satu contoh. Tahun 2013 saya bersepeda dari Solo ke Candi Cetho, yang terletak di ketinggian sekitar 1400 mdpl. Orang-orang yang tahu saya -- perempuan, tak lagi bisa dikatakan masih berusia muda -- bisa kok mencapai Candi Cetho dengan naik sepeda. Masak yang laki-laki tidak bisa? Sekitar satu tahun kemudian, saya melihat unggahan foto serombongan orang bersepeda ke Candi Cetho. Yang saya sayangkan adalah mereka membawa serta (mengangkat melewati tangga) sepeda mereka, dan dengan sembarangan memarkirkan sepeda di tempat yang tidak semestinya: disandarkan di satu patung yang terletak tak jauh dari pintu pagar masuk. Itu patung pasti usianya sudah ratusan tahun. Mengapa mereka tidak punya kesadaran untuk turut menjaga peninggalan nenek moyang.

 

Candi Ngempon, Desember 2012

 

Contoh lain. Tahun 2012 saya bersepeda ke Candi Ngempon, yang terletak di daerah Bergas, Kabupaten Semarang. Saat itu, saya hanya berdua dengan pasangan dolan saya. Kami bebas membawa sepeda kami masuk area. Sebagai pecinta candi, tidak mungkin saya akan sembarangan memarkir sepeda saya dengan, misalnya, menyandarkan ke batu candi. Saya mengunggah kisah ini di blog saya.

 

Tahun 2017 saya ke Candi Ngempon sendiri. Si penjaga dengan galak melarang saya membawa masuk sepeda dengan alasan banyak orang yang sembarangan memarkir sepedanya saat masuk ke area yang seharusnya dijaga kelestariannya itu. Saya tahu setahun sebelumnya seorang kawan sepedaan menyelenggarakan event sepedaan rame-rame dengan tujuan Candi Ngempon, terinspirasi dari kisah saya bersepeda kesana.

 

 

Masih ada kisah lain lagi sih. Tapi nanti tulisan saya jadi terlalu panjang.

 

Salam ngeteh nasgitel di sore yang hujan.

 

PT56 17,18 06/01/2023