Serba serbi
1:
#J150K2023:
The Next Level Endurance
Sabtu dini
hari hingga pagi 4 Maret 2023, Jogja diguyur hujan. Aku sempat gamang; duh
males banget jika baru mau sepedaan (mana jarak jauh pula) kok sudah kudu
kehujanan.
Pukul 05.30
R sudah mengajak berangkat. Aku sempat mikir mau langsung pakai mantel ga ya.
Ternyata, setelah keluar dari hotel yang berjarak hanya 500 meter dari venue,
sudah ga ada tetes hujan. Ok, ga usah pakai mantel.
Di dekat
titik start, sudah lumayan banyak peserta. MC mulai menyapa peserta sekitar
pukul 05.45. Dikatakan bahwa makna "the next level endurance" itu
berarti peserta akan diuji ketahanan mentalnya, tidak hanya jarak yang panjang,
trek yang aduhai, namun juga cuaca: hujan, panas, berangin.
Tak lama
kemudian, gerimis turun lagi. Sebagian peserta kulihat mulai mengenakan mantel.
R kutanya mau pakai mantel ga, dia jawab ogah. Dan, aku ikutan enggan
aku ingat
saat bersepeda Ngawi - Solo Desember 2019, kami kehujanan, tanpa pakai mantel
karena semula hanya gerimis, hingga sudah basah saat gerimis menderas. Oke,
gapapa deh hujan-hujanan
Peserta
diberangkatkan pukul 06.10 oleh Bupati Sleman. Gerimis sudah menderas, bahkan
sempat lebat sekali. Menjelang kilometer ke-25 di Water Station 1, hujan
mereda. Aku sudah ingin matahari muncul agar baju yang kupakai mengering
Selepas
check point 1 di kilometer 51, sinar mentari mulai terasa membakar. Saat menuju
Water Station 2 di kilometer 74, di area sekitar Pantai Depok, Pantai Samas,
angin terasa mulai menghambat laju sepeda. Panas yang menyengat plus angin:
cakep! Mana jalannya lurus panjaaaang di sisi kiri kanan sawah, sungguh terasa
membosankan

mendadak aku
ingin hujan turun lagi.


Di sini R
mulai terlihat jenuh. Biasanya kami ga pernah berhenti mengayuh pedal saat
sepedaan jarak jauh, kecuali jika memang niat berhenti, R sering berhenti
setelah mengayuh sekitar 5 putaran. Aku kudu rajin ngerem untuk tetap berada di
belakang/sampingnya. Suwi-suwi entek iki kampas rem Austin
Sesampai
Check Point 2, saat makan siang dengan menu sop ayam yang lezat, R nampak
excited lagi. Kemarin-kemarin aku sempat bilang ke R ga usah ngoyo kali ini,
toh kita sudah 3 kali ikut J150K. Aku juga bilang sama mamas ga akan ngoyo
mengingat cedera kaki yang belum benar-benar pulih plus sakit perut yang saat
datang aku tak bisa bebas beraktifitas.
Kemarin
Jumat waktu mengambil ride pack di pendopo Ambarrukmo, seorang dedengkot JFB
bilang, "sesuk ora usah ngoyo mbak, santai wae wong kalian wis bola bali
melu."
seorang
kawan lawas lain bilang, "kok kalian belum pensiun? Aku cedera kaki dadi
wis males melu event ngepit adoh-adoh ngene iki." Hoho dia ga tahu, aku
juga cedera kaki.
Meninggalkan
Check Point 2 di kilometer 100, R kembali terlihat ceria. Aku ngabarin mamas
kayaknya aku akan lanjut gowes sampai titik finish, kan tinggal 50 kilometer
lagi. Semesta menghadiahi kami dengan mendung setelah ini.
Namun ga
lama, R mulai terlihat kendor lagi. Setiap papasan dengan mobil-mobil yang
dipakai peserta untuk loading (mereka didampingi support car mereka sendiri)
dan mereka turun saat mendekati water station maupun check point agar nampak
full gowes, dia terlihat gusar dan kesal. Dan mulai ngomel.
Aku bilang,
"don't compare yourself with them. Motivasi peserta J150K ini pasti
macam-macam. Aku sendiri ingin "challenge" diriku sendiri masih mampu
ga sih setelah cedera kaki plus jarang bersepeda jauh kecuali bersepeda ke
kantor. Entah mereka. Meski nanti sama-sama finish, beda lah kepuasan yang kita
rasakan." Dan ... R tetap ngomel-ngomel.
Aku sampai
di water station bayangan terlebih dahulu ketimbang R karena aku mulai males
kudu ngerem-ngerem melulu untuk tetap berada di belakang R. Kunikmati saja
kayuhanku. Dari sini rute menuju Nanggulan. Aku gantian ngomel ke Ranz.
"Kalau
mengayuh pedal pelan-pelan gini, aku kudu ngerem, aku capek! Ayuklah
cepetan!"
Dijawab R,
"aku tuh ga capek, aku cuma males!" Lha piye jal, yang capek tuh kan
aku jika harus mengayuh pedal pelan2 plus ngerem bola bali. Katanya lagi
"Kalau kamu mau duluan, sana duluan!" Aku langsung melesat
menginggalkan R di belakang.
Sesampai di
spot pembagian gelang, mas Totok seorang eks ketua JFB heran melihatku
sendirian, "Balamu ndi mbak?" Aku langsung curhat dong, bla bla bla.
Ada om Karjok juga di situ. Mereka berdua ngekek mendengar aku curhat, "R
kesal melihat peserta yang lodang loding jadi dia aras-arasen ngepitnya."
"Water
station 3 di sebelah mana sih?"
"Isih
adoh mbaaak." Dijawab mas Totok. Duh, aku harus terus menyemangati diri
sendiri.
Sesampai di
Water Station 3, di kilometer 130, aku kembali ngemil pisang yang dibagikan
panitia. Tak lama kemudian mas Totok sudah sampai. (dia marshall 'berjalan'
naik motor.) Dia bilang, "kae R wis cedhak. Mau tak dorong. Entenana
ya." Benar juga ga lama kemudian R muncul. Tapi, dia malah bilang,
"mas, aku meh evak wae." Ya sudah, aku langsung melanjutkan
perjalanan, sendirian lagi.
19 kilometer
menuju flyover Jombor rasanya jauuuuh sekali. Traffic light yang ada dan
jalanan yang penuh pengguna jalan kian memperlambat lajuku. Aku sebut-sebut
nama Jombor siapa tahu tiba-tiba dia muncul di depan mata
Dan ...
akhirnya aku pun sampai Jombor! Alhamdulilah! Kurang sedikit lagiiii!
Saat sampai
Monjali dan menerima kalungan medali, aku langsung mengeluarkan hp, untuk
motret. Ternyata R sudah sampai dan mencariku. Dia sudah pengen balik ke hotel
untuk mandi.
Terima kasih
kawan-kawan facebook yang menyemangati. I thank you so very much
Monjali
05.03.2023