Senin, 01 Juli 2013

Dari Candi Klero ke Tamansari dan event #raceplorer2

Gowes libur weekend: joining #raceplorer2

Gegara Ranz nyidam mendapatkan tas selempang yang bakal didapatkan jika mendaftar menjadi partisipan di event #raceplorer2 yang diselenggarakan oleh Dagadu Jogja. jadilah kita gowes bareng (lagi) tanggal 21 – 23 Juni 2013.

Jumat 21 Juni 2013 (Semarang – Solo)

Aku meninggalkan Semarang sekitar pukul 07.00 dari Sukun dengan menaiki bus; Austin – sepeda lipat 20” downtube nova – terlipat rapi duduk di bagasi. Sekitar pukul 09.00 aku turun di Klero, sekitar 10 kilometer (kata Ranz nih) dari Terminal Tingkir Salatiga. Ranz mengajak janjian bertemu di minimarket Al*****t, tapi aku menunggunya di In********. LOL. Setelah bertemu, kita gowes bareng ke Candi Klero. (Sudah lupa darimana kita tahu bahwa di kawasan itu ada candi, sedangkan ketika aku bertanya pada pegawai mini market yang kudatangi tidak pernah dengar bahwa di daerah situ ada sebuah peninggalan cagar budaya berupa candi.) Karena Ranz sudah pernah gowes ke Candi Klero (pulang pergi Solo – Klero – Solo), maka perjalanan hari itu pun lancar, tidak perlu acara tanya-tanya orang sana sini, maksudku.
dari luar Candi Klero - Tengaran
Kita tidak bertemu dengan Bapak si penjaga candi mungkin karena itu hari Jumat, sehingga beliau perlu bersiap-siap untuk pergi shalat Jumat. Suasana candi sangat sepi, menyenangkan untuk bermeditasi harusnya ya? Jadi aku tidak tahu apa-apa tentang sejarah Candi Klero, kecuali bahwa jika ditilik dari bentuknya nampaknya ini adalah candi Hindu. Bersihnya kawasan di sekitar candi menunjukkan bahwa perhatian yang diberikan ke candi ini lumayan bagus.

Setelah berkunjung ke Candi Ngawen bulan Mei lalu, kulihat bentuk Candi Klero jauh lebih sederhana karena tidak banyak dekorasi disana sini. Di ‘pintu masuk’ candi, juga tidak terlihat dekorasi, misal patung binatang tertentu. We didn’t spend much time disini, mungkin kurang dari 20 menit.

Dari Candi Klero, kita langsung gowes ke arah Boyolali, untuk having brunch di salah satu rumah makan kesukaanku – Soto Seger Mbok Giyem. Mungkin sudah lebih dari satu tahun aku tidak mampir makan di RM yang di Solo terletak di Jalan Bhayangkara. (kalau tidak salah ingat. LOL.) Maka, bisa dibayangkan betapa rasanya begitu lezat sekali aku menyerutup kuah sotonya, sangat segar! J

Dari Boyolali, kita terus gowes ke Solo. Trek yang kita lewati sangat menyenangkan karena full turunan meski halus. J (Bagiku pribadi, ini adalah ‘pembalasdendaman’ karena setahun yang lalu aku melewatinya dengan rute kebalik, Solo – Semarang.)

22 Juni 2013 (Solo – Jogja)

Kita meninggalkan rumah Ranz di kawasan Laweyan sekitar pukul 06.30. Pertama kali mampir ke sebuah mini market untuk membeli air mineral sebagai bekal. Ranz mampir di sebuah penjual jajanan di pinggir jalan untuk membeli capcay (a la Solo) tapi ternyata tidak ada. Ya sudah, kita langsung berangkat.
Seperti biasa kita lewat jalur perkampungan dan pedesaan sampai daerah Pakis, dimana kita mulai gowes di jalan raya. Meski tanpa ngemil apa pun, ternyata Ranz tahan juga gowes sampai kita tiba di RM Djatayu, tempat kita mampir makan bulan Maret 2013 lalu dalam perjalanan ke Purworejo. Kita menempuh jarak dengan waktu lebih cepat satu jam (dibandingkan Maret lalu), karena Ranz terus memacu Pockie dan kita berdua kebetulan tidak kebelet sesuatu dan mampir ke pom bensin. LOL.
jelang berangkat, di mini market dekat Laweyan

perbatasan masuk kota Klaten

di Klaten
RM Jatayu, (telah) tiga kali kita mampir makan disini
Having brunch and rest di RM Djatayu selama kurang lebih 30 menit. Kemudian kita langsung melanjutkan perjalanan. Sebenarnya aku ingin mampir ke Candi Sambisari waktu kulihat petunjuk ke Candi Hindu ini, namun Ranz yang sudah ‘kebelet’ istirahat menolak keinginanku. Ya sudah. Kita langsung gowes menuju Malioboro. Kita berencana menginap di sebuah hotel di kawasan Dagen yang di bulan Mei kemarin kita tunjukkan ke Stephan (meski dia tidak jadi menginap di situ).
masuk Jalan Solo Jogja


dengan kolam Tamansari sebagai latar belakang

kolam yang konon dulu menjadi tempat mandi selir raja, dan Sang Sultan mengintai dari kamar yang ada di ujung itu
 Usai meletakkan tas pannier yang penuh barang kita berdua di dalam kamar, kita lanjut gowes ke Tamansari, taman peninggalan yang dibangun oleh Sultan HB I di tahun 1758 – 1765/9. Ini adalah kunjungan ke Tamansari yang pertama kali bagi Ranz, sedang bagiku kedua kali. Pertama aku kesana bulan November 2008, ketika B2W Semarang mengadakan kunjungan persahabatan ke B2W Jogja.
dekorasi di gerbang bagian atas Tamansari
Di kunjungan pertama – ada sekitar 13 pesepeda dari Semarang – suasana cukup sepi (kita sampai di Tamansari pagi hari, sekitar pukul 09.00) dan kita didampingi tour guide yang mengantar menyusuri lahan yang cukup luas itu. Kali kedua hanya berdua dengan Ranz, sampai sana sekitar pukul 12.00 dan suasana sangatlah ramai. Mungkin karena bertepatan dengan libur sekolah di Indonesia dan libur summer season bagi para wisatawan manca negara sehingga banyak sekali kulihat turis-turis bule yang berkeliaran. Kali ini aku berdua Ranz mencoba peruntungan dengan masuk Tamansari tanpa menyewa guide. Dan ... ternyata ingatanku sangat buruk sehingga tidak bisa mengingat dengan baik lokasi yang akan membawa kita ke lorong bawah tanah dimana kita bisa melihat bekas masjid yang terletak di bawah tanah. Meskipun begitu, Ranz cukup puas dengan pemandangan kolam yang konon di zaman dulu dipakai mandi para selir raja.
di pintu masuk/keluar Tamansari 
Sekitar satu setengah jam kemudian kita meninggalkan Tamansari. Ranz mengajak ke Yogyatourium dimana terletak kantor pusat Dagadu (yang baru) untuk mengambil pernak-pernik event #raceplorer2. Yogyatourium yang terletak di Jalan Gedong Kuning ini berjarak kurang lebih 3-4 kilometer dari Malioboro. Ketika gowes di sepanjang jalan dari Malioboro ke Gedong Kuning inilah Ranz baru sadar bahwa permukaan jalan-jalan di Jogja lebih bervariasi naik turun dibandingkan dengan Solo yang memang cenderung flat kemana pun kita gowes.

Ada sedikit kesulitan menemukan gedung Yogyatourium di Jalan Gedong Kuning gara-gara penulisan nomor di jalan itu yang sedikit membingungkan, LOL, akhirnya kita temukan juga kantor pusat Dagadu itu. Thomas sang ketua panitia event dengan ramah menjelaskan peraturan yang harus kita ikuti selama event karena kita berdua tidak hadir di acara technical meeting satu hari sebelumnya. Usai urusan, kita langsung gowes balik lagi ke hotel tempat kita menginap di Malioboro untuk beristirahat.

Selepas Maghrib kita keluar lagi untuk ‘menikmati’ kemacetan Malioboro yang semakin gila di musim liburan. Kita makan malam lesehan di salah satu ‘kafe tenda’ yang tersedia di jalan yang paling terkenal di seantero Indonesia ini. Kemudian kita menikmati rembulan yang hampir purnama dengan nongkrong di pojok jalan Malioboro. Wuahhh, pengunjung yang lalu lalang bak air bah! Ramai sekali!

Sekitar pukul setengah sepuluh malam Mas Totok, salah satu anggota JFB (Jogja Folding Bike) nyamperin kita berdua untuk kemudian nraktir. Aseeekkk. J Kita pulang ke hotel sekitar pukul 23.30.

23 Juni 2013 – gowes sekitar Jogja + event #raceplorer2 plus pulang Solo

Semalam Mas Totok nawarin untuk mengantar kita gowes keliling Jogja sambil mampir UGM, tapi kita berdua lebih memilih untuk molor saja. LOL. Meskipun begitu, ternyata sekitar pukul 07.00 kita ninggalin hotel sejenak untuk mencari sarapan di ... ... ... UGM. hahahaha ...
aku di depan Masjid Syuhada' Kotabaru Jogja
Di hari Minggu pagi, di sepanjang jalan yang dekat lembah UGM hingga Jalan Olah Raga yang menuju Selokan Mataram penuh dengan warung ‘tiban’. Meskipun begitu sebenarnya tujuan kita adalah sarapan di warung langgananku makan zaman masih kuliah dulu. Rumah Makan ayam bakar Pak To ini terletak di pinggir Selokan Mataram. Sayangnya sesampai sana, ternyata rumah makan ini sudah tak ada lagi. Hikss ... entah tutup entah pindah kemana tidak jelas. Akhirnya ya kita sarapan di salah satu warung yang terletak di tengah-tengah ‘Pasar Minggu Pagi’ UGM.

Sekitar pukul 09.00 kita sudah balik ke hotel untuk (final) packing.
Sekitar pukul 10.00 kita meninggalkan hotel menuju Yogyatourium Gedong Kuning. Sesampai disana, sudah ada beberapa sepeda yang sedang dicek kelayakannya oleh panitia untuk mengikuti #raceplorer2. Aku dan Ranz pun langsung ikut antri. Para panitia dan beberapa peserta lain sempat terheran-heran melihat kita berdua naik sepeda lipat (seliers yang lain belum datang), mana di rak belakang Pockie sepeda Ranz ada tas pannier yang nampak penuh terisi pula.
Austin sedang dicek layak tidak mengikuti event :)

berdua Ranz di 'wall of fame' #raceplorer2
Usai ‘bike check’, kita foto-foto di ‘wall of fame’, dimana beberapa panitia terlihat antusias ikut memotret kita (yang sedang saling memotret LOL). bahkan memvideo kita berdua. Tahukah engkau mengapa mereka begitu ‘terhipnotis’ kepada kita? Uhukkk ... Tas pannier yang nangkring di rak boncengan Pockie pastinya. J
ki-ka: Ranz, Motik, Bunga, aku, Pak Eko, Dhany, dan Hagi duduk di depan

Kita sempat keluar sebentar untuk makan siang di rumah makan Padang di seberang jalan, tak jauh dari Yogyatourium. Ketika kita kembali ke lokasi, wah, suasana sudah semakin ramai! Beberapa teman Komselis yang namanya tercantum sebagai peserta (Uncle Duck, Pak Eko, Dhany Sus, dan si kecil Hagi) sudah datang, juga Bunga dan Motik dari Solo.
tampilan worksheep raceplorer2
Peserta yang (hampir) mencapai 300 orang – terbagi dalam 100 grup dimana satu grup terdiri dari 3 pesepeda – dibagi lagi menjadi 10 kelompok. Aku + Ranz (kita hanya berdua, tidak bertiga) masuk kelompok 10 dengan nama Mantrijero. Selidik punya selidik, di kelompok terakhir ini semuanya merupakan peserta yang berasal dari luar kota. Hanya aku dan Ranz yang naik seli, yang lain naik fixie atau mtb.
bersama beberapa rekan federal Jogja dan JFB 
Kelompok pertama diberangkatkan pukul 13.00 sedangkan kelompok Mantrijero sekitar pukul 13.30. Tujuan pertama adalah Balaikota dimana disana telah menunggu panitia yang membagikan ‘worksheet’. Di worksheet tersebut disediakan lima ‘soal’ yang berupa narasi, menjelaskan gedung ini digunakan untuk bla bla bla ... atau gedung ini dulunya dibangun untuk bla bla bla ... Peserta diminta memecahkan masalah ini untuk mencaritahu gedung apakah itu dan kemudian menuju ke lokasi gedung tersebut. Di gedung itu telah menunggu panitia event yang akan memberi kita tugas selanjutnya. Oh well, aku dulu memang pernah tercatat sebagai penduduk (sementara) Jogja ketika menimba ilmu di Kampus Biru Bulaksumur, namun aku adalah mahasiswa yang amat kuper sehingga tidak tahu banyak tempat. Wew. (ngeles gapapa yak? LOL.) Sedangkan Ranz hanyalah pengunjung Jogja once in a while. Maka ... ya begitu deh, kita tidak dengan mudah memecahkan masalah.
di check point yang terletak di Museum Sasono Budoyo
Singkat cerita, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa empat gedung yang harus kita datangi adalah Taman Pintar, Benteng Vredeburg (yang ternyata tidak termasuk ... hahaha), Museum Sasono Budoyo dan Museum (rumah peninggalan) Ki Hajar Dewantara. Yang satu kita blank. Yang pertama kita datangi adalah Taman Pintar. Namun karena Jogja memang sedang sangat penuh turis – Taman Pintar juga – kita tak melihat panitia #raceplorer2 dari luar, maka kita langsung menuju Museum Sasono Budoyo. Nah, disini justru terlihat menumpuknya peserta – hundreds of them – sedang nongkrong entah mengapa. Ternyata mereka sedang antri ‘dikerjain’ panitia. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 15.00. Padahal panitia memberi waktu (untuk kelompok satu) hanya sampai pukul 16.00 untuk sudah kembali ke Yogyatourium. Kelompok 10 diharap telah tiba pukul 16.30.
aku dan Tugu dari arah Jalan Mangkubumi

Aku dan Ranz menunggu – dengan nelangsa LOL – bersama ratusan peserta lain. Peserta ‘dikerjain’ panitia per grup, dimana katanya satu grup butuh waktu sekitar 5 menit. Padahal ada 100 grup, bukankah untuk menyelesaikan ‘ngerjain’ semua peserta butuh waktu 500 menit? Panitianya ga beres nih. L
Setelah menunggu selama kurang lebih 45 menit, aku dan Ranz memutuskan untuk quit ajah dari permainan ini. Toh, sejak semula yang diincar Ranz bukan sebagai juara event, melainkan hanya tas selempang, plus kaos dan bandana. 
Tugu Jogja yang bukan merupakan titik 0 Jogja :D
Dari Museum Sasono Budoyo kita langsung menuju Stasiun Tugu untuk membeli tiket kereta Pramex. Honestly, baru sekali aku sempat naik kereta api dengan membawa seli (Januari 2011, dari Semarang ke Jogja) dan kereta Banyubiru itu tak lagi beroperasi, maka aku sangat excited membayangkan naik kereta bersama Austin. (lebay yak? LOL.) Namun ternyata harapanku pupus melihat antrian calon penumpang yang begitu panjang! Karena khawatir setelah ngantri lama kehabisan tiket, atau mungkin bisa beli tiket namun bakal diusir karena membawa seli, akhirnya kita memutuskan gowes balik ajah ke Solo. Oh well ... Rada bosen sih dengan trek Solo – Jogja – Solo (maklum, baru juga kita tempuh di bulan Maret yang lalu plus sehari sebelumnya) but, apa boleh buat?
Alhamdulillah perjalanan lancar. (Kita gowes ditemani supermoon di langit!) Ranz yang sering komplain capek dalam perjalanan ini (karena hari Kamis dia baru ngikut ‘piknik’ ke Pacitan yang diadakan tempat dia bekerja, kemudian hari Jumat menjemputku ke Tengaran untuk ke Candi Klero) amazingly masih menyimpan tenaga ekstra dengan sesekali mendorongku agar gowes lebih cepat. Heheheheh ... Sekitar pukul 20.00 kita sampai di Kartasura dimana kita melewati rumah makan yang berjualan sate kambing yang baunya menggoda selera. Kita mampir untuk makan malam dan istirahat sejenak. Kita sampai rumah Ranz di kawasan Laweyan sekitar pukul 21.15.
tempat mampir makan malam dan istirahat
Aku pulang ke Semarang hari Senin pagi. Dari Kerten bus yang kutumpangi sudah sangat penuh hingga aku harus berdiri, pukul 04.45. Aku terus berdiri hingga turun di Sukun Semarang. Perfecto! Aku sampai sekolah tempat aku bekerja pukul 07.10.

Sampai jumpa di kisah Nana dan Ranz yang berikutnya!


PT56 17.07 300613

3 komentar:

  1. terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, cerita di blog Mbak juga sangat menarik,, senang sekali ya bisa keliling kota dengan gowes,
    Semoga dua tahun lagi ada raceplorer3 dan aku bisa ikut lagii :)
    Salam Gowes :)

    BalasHapus
  2. Lumayan jauh juga rutenya Mrs

    BalasHapus