Kamis, 04 Juli 2013

Bikepacking Libur Lebaran 2012 : Gowes AKAP Semarang ke Tuban

BIKEPACKING LIBUR LEBARAN 2012 : GOWES AKAP SEMARANG KE TUBAN

Bikepacking (baca è kegiatan bersepeda yang membutuhkan lebih dari satu hari) sebenarnya mudah dilakukan oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang telah terbiasa mengayuh pedal sepeda sejauh puluhan atau ratusan kilometer per hari. Akan tetapi, bikepacking tidak mudah dilakukan bagi mereka yang tidak punya waktu luang. Mungkin karena mereka tidak bisa mendapatkan cuti dari kantor tempat mereka bekerja, atau mungkin mereka tidak mudah mendapatkan izin dari keluarga. Hal ini biasanya penyebabnya adalah dalam keluarga tidak ada yang memiliki ‘passion’ yang sama dalam bersepeda.


jelang berangkat, dengan Lawangsewu sebagai background

Maka, bikepacking adalah satu hobi yang mewah bagi sebagian orang. Pun buatku dan Ranz, soul mate sepedaanku. Libur lebaran tahun 2012 kita pilih untuk merealisasikan salah satu rencana bikepacking kita, meski itu berarti kita menghabiskan libur lebaran dengan keluarga masing-masing hanya 3 hari (pertama) 19 – 21 Agustus. Bahkan buat Ranz hanya 2 hari, karena pada hari Selasa 21 Agustus Ranz telah memulai bersepeda dari Solo menuju Semarang. Tanggal 22 Agustus kita akan memulai bikepacking kita : bertamasya dari Semarang ke Tuban dengan naik sepeda lipat (gegara obsesi gowes antar kota antar propinsi! :) )

Penampilan Pockie (dengan tas panniernya) dan Snow White

Hari pertama Rabu 22 Agustus target kita adalah mencapai kota Rembang yang terletak sekitar 125 kilometer dari Semarang. Kita bertemu di dekat Tugumuda – salah satu landmark kota kelahiranku – pukul 06.00. Setelah membetulkan tas pannier yang beratnya mencapai 25 kg di rak boncengan Pockie – seli pockrock 20” – beberapa jepret untuk dokumentasi, kita berangkat menuju Demak. Dalam perjalanan ini aku naik Snow White – seli urbano 3.0 20”.


di Masjid Agung Demak
Jalur pantura lumayan ramai. Pemberhentian pertama adalah alun-alun Demak, 30 kilometer dari Tugumuda. Kita mampir ke sebuah mini market untuk beli beberapa botol air mineral dan istirahat. Entah mengapa Ranz terlihat kurang fit dalam mengayuh Pockie, meski dia tetap terlihat excited. Kurang lebih setengah jam kemudian kita melanjutkan perjalanan, setelah foto-foto di depan masjid agung Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijaga. Selain kita berdua, banyak orang lain (yang mungkin juga pemudik yang sedang lewat) juga menggunakan kesempatan untuk bernarsis ria.

bersama beberapa polisi yang bertugas di alun-alun Kudus

aku berdua Cipluk di teras rumahnya - Kudus

Kurang dari 10 kilometer setelah itu Ranz kuajak mampir ke sebuah rumah makan yang berjualan menu utama ayam bakar untuk sarapan karena kulihat Ranz sangat kepayahan menggowes Pockie, kupikir tentu karena dia lapar. (Sesampai Tuban hari Jumat baru ketahuan kalau Ranz ternyata tidak sehat.)
Sesampai Kudus kita mampir ke rumah Cipluk, seorang teman gowes. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Ternyata Cipluk telah menyiapkan makan siang yang lezat buat kita berdua: sup sosis dan nugget kesukaan Ranz. Inilah nikmatnya bersilaturrahmi. J Usai makan sembari ngobrol, beristirahat dan shalat Dzuhur, kita melanjutkan perjalanan ke Pati pukul 13.00. Matahari bersinar panas, namun posisinya sekarang berada di belakang kita karena kita menuju Timur.
rest area dii halaman pabrik kacang Dua Kelinci

ke Rembang? atau ke Jepara? :)

Rezeki berikutnya adalah secangkir kopi lezat! Dalam rangka libur lebaran, pabrik kacang Dua Kelinci yang berlokasi di Pati menyediakan rest area yang nyaman dan secangkir kopi bagi para pemudik yang mampir. Ini adalah cara pemasaran yang jitu karena tentu banyak dari para pemudik itu akan membeli merchandise atau pun kacang yang disediakan di sebuah ‘counter’ di rest area tersebut.
Ranz di alun-alun Juwana - Pati

berdua di Rembang malam hari

Usai menikmati secangkir kopi dan beristirahat sepuluh menit kita melanjutkan perjalanan. Lepas dari alun-alun Juwana sayangnya jalannya rusak: berupa makadam sejauh 20 kilometer! Perbaikan jalan yang dilakukan sejak beberapa bulan sebelum lebaran belum selesai.

Kita sampai di pusat kota Rembang selepas waktu Isya. Malam pertama ini kita menginap di Hotel Kencana yang terletak tak jauh dari Pantai Dampo Awang (Kartini Rembang).


sebagian penjual tiban di Pantai Dampo Awang

becak air di dalam Pantai Dampo Awang

Hari kedua Kamis 23 Agustus kita putuskan sebagai hari santai untuk berwisata. Usai menikmati sarapan lezat yang disediakan hotel, kita berkunjung ke Pantai Dampo Awang yang amat ramai pengunjung. Kata resepsionis hotel Rembang memang selalu ramai semenjak lebaran hari pertama hingga perayaan ‘Kupatan’ yang jatuh tepat seminggu kemudian. Banyak penjual tiban mengais rezeki di luar maupun di dalam kawasan pantai. Mereka berjualan mulai dari pakaian, mainan anak, berbagai macam camilan ringan hingga peralatan dapur.
Dari pantai, kita berkunjung ke Museum Kartini. Museum ini sangat layak dikunjungi bagi mereka yang tertarik dengan sejarah kehidupan Ibu Kartini terutama setelah beliau menikah. Di museum ini kita bisa melihat kamar tidur, tempat tidur dan meja riasnya, kamar mandi dan bathtub, juga peralatan dapur yang dulu dipakai Kartini. Juga banyak foto diri, baik yang sendirian maupun dengan keluarganya.

di museum Kartini Rembang

bak mandi milik Kartini (dulu)

Setelah puas menjelajahi museum kita melanjutkan gowes ke arah Lasem. Dalam perjalanan kita melihat penunjuk arah ‘wisata pantai’ yang ketika kita ikuti, kita sampai ke Pantai Gedong Berseri Caruban. Pantai berpasir putih ini nampak masih perlu dipublikasikan karena waktu kita mampir kesana, suasana sangat sepi. Pasir putihnya sangat lembut sehingga akan sangat nyaman jika berkunjung kesini di sore hari untuk menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan laut lepas. Pantai ini terletak kurang lebih 4 kilometer dari jalan raya pantura. Sepanjang perjalanan kita akan menikmati hamparan tambak garam.

ada kamu di kacamataku :D

di Pantai Gedong Berseri - Caruban
Lasem, we are coming!

Sekitar pukul 14.00 kita sampai di hotel Wijaya Lasem dimana kita akan menginap semalam. Setelah meletakkan tas pannier, kita keluar lagi untuk menikmati kota Lasem yang juga dikenal sebagai “Le Petit Chinois” alias kota Tiongkok kecil. Kita berkunjung ke Kelenteng Tjoe An Kiong dan Gie Yong Bio yang konon adalah kelenteng yang paling tua di Pulau Jawa. Kita juga eksplor jenis pintu yang ada di kota ini yang menunjukkan ‘sisa-sisa’ bukti kejayaan pengaruh budaya China.

Pockie di depan Klenteng Tjoe An Kiong

contoh salah satu pintu khas di Lasem

Jika di hari pertama kita gowes sejauh 125 kilometer, di hari kedua kita gowes kurang dari 30 kilometer demi memenuhi hasrat berwisata.

Hari ketiga Jumat 24 Agustus kita meninggalkan hotel pukul enam pagi. Target jarak yang akan kita tempuh adalah 90 kilometer. Tanpa sarapan – kita hanya diberi segelas kopi dan segelas teh – kita melaju ke arah Timur. Tempat wisata pertama yang kita kunjungi adalah “Pasujudan Sunan Bonang” dimana di lokasi yang sama kita juga akan menemukan “Makam Putri Cempo”.

mejeng dulu di Sentra Terasi Desa Bonang - Lasem

di pintu gerbang menuju Pasujudan Sunan Bonang

Salah satu enaknya berbikepacking di musim libur lebaran kita mudah menemukan tempat untuk beristirahat. Banyak pom bensin maupun kantor polisi atau perusahaan yang menyediakan rest area yang nyaman. Maka, perjalanan agak ‘tersendat’ untuk istirahat sekaligus foto-foto narsis! Ini karena dalam perjalanan berikutnya kita terus dimanjakan dengan pemandangan pantai di sebelah kiri. Indah sekali!

salah satu angkutan umum di kota kecil yang kita lewati

Setelah melewati gerbang perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur yang terletak tak jauh dari pantai berpasir putih, kita mampir ke sebuah rumah makan yang lumayan besar untuk ‘brunch’. Jelang masuk kota Tuban, kita mampir lagi di sebuah rest area yang disponsori oleh sebuah perusahaan mie instan karena tergoda umbul-umbul mie instan tersebut.  hahaha ... Lucky us karena setelah itu trek sedikit rolling naik turun. :)


masuk ke Propinsi Jawa Timur

pantai di dekat gerbang perbatasan
selamat datang di kota Tuban! :)
saat melewati hutan nan meranggas gegara kebakaran

rest area dengan sponsor produk mie instant

Sekitar pukul empat sore kita memasuki kota Tuban dimana kita tergoda untuk mampir (lagi!) ke pantai yang terletak di pinggir jalan, meski pasirnya tak seputih Pantai Gedong Bersinar. Banyak pemudik juga yang mampir menikmati suasana pantai sore hari. Sekitar pukul lima kita telah memasuki Kelenteng Kwan Sing Bio yang konon adalah kelenteng terbesar se Asia Tenggara. Keistimewaan kelenteng ini selain bangunannya yang besar, juga letaknya tepat di hadapan laut lepas, dan di atas gerbang masuk kita akan menemukan patung kepiting besar dan bukannya ular naga seperti di kelenteng-kelenteng lain.


trek yang rolling

pantai di senja hari, di dekat terminal lama Tuban
siluet pantai senja hari, di lokasi yang sama 

pantai di seberang Kelenteng Kwan Sing Bio
mejeng dulu di depan gerbang Kelenteng Kwan Sing Bio, meski dengan wajah lusuh :P

Malam ketiga ini kita menginap di hotel Basra yang terletak di Jalan Basuki Rahmat. Malam ini suhu tubuh Ranz meninggi. Terjawab sudah mengapa di hari pertama gowes Semarang – Rembang Ranz nampak kurang bersemangat gowes Pockie: tubuhnya sedang berperang melawan virus!

Hari keempat Sabtu 25 Agustus jatah kita menjelajah Tuban yang dikenal sebagai “kota seribu goa”. Yoni – rekan gowes yang sedang pulang kampung – bersedia mengantar kita keliling. Untunglah pagi itu suhu tubuh Ranz telah turun setelah minum obat dan istirahat semalam penuh. J
berdua Ranz di depan pintu masuk ke kawasan wisata Goa Akbar

di lorong, antara pintu masuk ke Goa Akbar

Setelah berdiskusi, kita setuju untuk berkunjung ke Goa Akbar. Goa ini terletak di tengah kota, dimana lokasinya ada di bawah tanah. Dan di atas goa ada bangunan pasar. Pemerintah kota Tuban telah memoles Goa Akbar sebagai salah satu tempat layak kunjung untuk memperoleh pendapatan dari sektor pariwisata. Sesampai disana, banyak pengunjung yang datang berombongan. Harga tiket hanya Rp. 5000,00.

menuruni tangga untuk masuk ke goa

tangganya lumayan curam ya?

Di pintu masuk goa, telah dibangun tangga dan pagar di sisi kiri kanan sehingga memudahkan pengunjung masuk ke goa. Di dalam goa kita bisa melihat keindahan stalagtit stalagmit. Sudah ada jalan setapak di dalam goa sehingga kita mudah menyusuri goa. Pengunjung tidak perlu membawa senter karena di sana sini telah disediakan lampu temaram warna warni hingga suasana tidak gelap gulita. Di beberapa titik atap goa ada air yang menetes. Dan di beberapa titik lain ada sumber air yang mengalir deras yang oleh pengelola diatur dengan memasang kran. Di dekat pintu keluar, ada sebuah musholla yang disediakan bagi pengunjung yang ingin beribadah.

ambang pintu goa

di dalam Goa Akbar

langit-langit goa

Goa ini cukup akbar (alias besar) karena kita bertiga butuh waktu satu jam untuk mengelilinginya, sambil foto-foto tentunya.

Kita meninggalkan Goa Akbar pukul satu siang. Yoni mengajak kita mampir makan di sebuah warung sederhana yang harganya murah! Untuk makan kita bertiga siang itu dengan menu nasi pecel, mendoan, telur ceplok (untukku), ikan pindang (untuk Ranz), dua gelas es teh, satu gelas es kacang hijau, dan satu gelas teh panas, kita hanya bayar Rp. 17.000,00. Wah!

Karena waktu yang tidak memungkinkan kita tidak mampir ke tempat lain. Pukul empat kita meninggalkan Tuban naik bus. Seli kita lipat rapi, kita dudukkan di bangku bagian belakang. Kita sampai Semarang pukul sepuluh malam dengan hati gembira!

What a memorable bikepacking!


PT56 20.04 030713

P.S.:
Ditulis ulang untuk mengikuti Lomba Menulis "Kisah Perjalanan Bersepeda" yang diselenggarakan oleh www.nationalgeographic.co.id 

Kisah yang lebih lengkap dan beserta foto-foto bisa diklik di hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dan hari keempat. Suwun.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar