Rabu, 14 Desember 2016

Bikecamping ke Pulau Panjang Day 1

BIKECAMPING PULAU PANJANG – JEPARA

Akhirnyaaaa ... aku (pribadi) nambah lagi satu pengalaman merealisasikan jargon “there will always be the first time to do anything” : bikecamping! Yuhuuu ...

(well, waktu ngikut JOGLOATTACK tahun 2012 itu kita juga camping di camping ground Candi Prambanan, tapi waktu itu kita :hanya” gabung, tanpa ikut ribet nyiapin ini itu itu ini.)

Sebenarnya rencana telah kita canangkan sepulang kita berenam – para ‘velogirls’ dari kota Semarang – sejak sepulang dari mbolang Jogja bulan Juli lalu. Itulah sebabnya kita sangat excited waktu kita akhirnya mampu menjadikan keinginan ini menjadi kenyataan. Hanya saja, ketika kita mbolang ke Jogja itu kita hanya berenam (Raditya “hanya” menemani kita di hari kedua, waktu susur selokan Mataram, plus mengantar kita ke Situs Ratu Boko, sehingga kitaa bisa masuk situs itu g-r-a-t-i-s tisss.) kali ini kita ditemani beberapa teman laki-laki. Selain aku, Ranz, Tami, Dwi, Avitt, dan Hesti, ikut pula Edy Wi, Uak – yang sudah resmi jadi yayangya Tami sejak bulan Juni 2016 (ehem ...) Arif Daeng, meski dalam kondisi kurang sehat namun tetap nyidam pingin ikut (lol), plus Affrel, si adik bontot karena dia yang paling muda di antara kita semua. Sesampai Demak, Wachid – yang juga gabung kita dalam event Gowes Kartini – juga ikut bergabung.

Preparation

Sebelum hari H – berbulan-bulan sebelumnya – Ranz sudah mulai “mengumpulkan” pernak pernik yang kita butuhkan waktu camping: nesting; kompor; pisau lipat; lampu yang bisa dicharge; hammock; fly sheet, dll. Sejak tahun 2013 Ranz sudah punya tenda (single layer) yang waktu itu rencana akan kita gunakan di Pantai Klayar, namun tidak jadi. Karena Ranz mendadak sakit dalam perjalanan waktu itu, kita lebih memilih menginap di penginapan dimana dari situ kita tetap bisa memandang keindahan pantai Klayar yang aduhai.

Khusus untuk bikecamping ini, Ranz juga meminjam satu tenda (double layer) dari sepupunya. Plus, kita menyewa satu tenda lagi di satu tempat persewaan alat-alat outdoor. Dengan satu buah tenda yang dibawa Edy, kita membawa 4 buah tenda dalam bikecamping kali ini: 2 tenda (double layer) bisa dipakai untuk 8 orang (masing-masing tenda 4 orang); dan 2 tenda (single layer) bisa dipakai untuk 4 orang (masing-masing tenda 2 orang).

Sabtu 10 Desember 2016

Bulan Desember memang identik dengan hujan yang turun setiap hari. Alhamdulillah hari Sabtu pagi itu, Semarang hanya disaput mendung, tanpa butiran gerimis dari langit. “Restu dari Semesta!” begitu kataku pada diri sendiri. J




Seperti biasa kita berkumpul di Balaikota. Namun rencana paling lambat meninggalkan tikum pukul 06.30 terpaksa molor. Arif yang kurang sehat badannya – pilek dan tenggorokan gatal – datang dengan menaiki sepedanya yang sebenarnya juga kurang fit untuk dinaiki jarak jauh. LOL. Om Dije yang sempat datang untuk “say goodbye” tidak merekomendasi sepeda Arif itu untuk dinaiki. Akhirnya, Arif ganti Orenj. Untuk ini, dia harus ke rumah Dwi dulu untuk menukar sepedanya dengan Orenj.


orang lewat balaikota, yang tertarik pada kita :)

Kali ini, aku naik Austin; Ranz naik Pockie; Dwi naik Oddie; Hesti naik sepeda lipat barunya yang belum diberi nama (hanya kita sebut “adik bungsu” lol); Tami naik Siput (folker putih milik Uak), sedangkan Avitt yang barusan melepas kepemilikan Poliss kepada orang lain dengan berbesar hati menaiki sepeda motornya. Alhamdulillah yah, hingga dia bisa sangat membantu membawa sebagian beban yang sebelumnya nangkring di rak boncengan Pockie.

Eh, dalam perjalanan akhirnya Tami naik Orenj; gantian dengan Arif. Nampaknya Orenj hanya ‘jinak’ pada pesepeda perempuan. LOL.


pas mau melewati rel KA, ada KA yang lewat :)

Rombongan meninggalkan tikum menjelang pukul tujuh pagi. (too late is better than never. Hahahahah ...) Atas rekomendasi Edy, kita tidak lewat Kaligawe, karena katanya kawasan itu banjir yang cukup dalam. Dari Balaikota kita belok ke Jalan Thamrin, kemudian belok menyusuri Kampung Kali, lurus sampai jembatan (baru) selepas Jalan Kartini hingga Jalan Gajah. Kita menuju arah Tlogosari. Dari Tlogosari kita menyeberang rel kereta api yang jalannya sempit namun penuh pengguna jalan. Waktu kita akan menyeberang, pas satu kereta api lewat!

Kita terus mengikuti Edy sebagai penunjuk jalan ... sampai di satu jalan ... kita disambut banjir! Hahahahaha ... Kita menghindari Kaligawe untuk menghindari banjir, namun ternyata memang banjir sangat amat ingin menyapa kita. LOL. Banjir di jalan itu nampak cukup dalam; mungkin bakal akan membasahi pannier yang berada di rak boncengan Pockie maupun “adik bungsu”. Akhirnya Ranz memutuskan untuk kembali, dan menyusuri jalan menuju Kaligawe.

Di jalan raya Kaligawe kita memang harus melewati genangan banjir, namun nampaknya tidak sedalam banjir yang tadi kita temui.



waktu berhenti di satu spbu, Arif mengistirahatkan diri :)

Selepas pertigaan Genuk, perjalanan lancar. Kita mengayuh pedal sepeda masing-masing dengan kecepatan sedang. Avitt pun berinisiatif “mengambil alih” tugas Ranz sebagai tukang dokumentasi. LOL. Avitt cukup menggunakan hapenya untuk memotret kita.

Kita sempat berhenti sebentar di satu pom bensin karena ‘nature calls’. LOL. Tidak lama, kita langsung melanjutkan perjalanan. Jelang sampai Karangtengah, Affrel pamit mau mampir ke rumah orang tuanya sebentar untuk mengambil hammock. Untuk menghemat waktu; kita tidak ikut mampir. Bahkan kita sarankan Affrel untuk naik motor; untuk sementara Avitt naik sepeda Affrel. J

Avitt menaiki sepedanya Affrel :)

Kita terpaksa berhenti lagi ketika di depan kita ada ‘pemeriksaan’ sepeda motor; apakah pengendaranya membawa SIM dan sepeda motor dilengkapi dengan STNK. Nah lo; tadi Avitt belum sempat menjelaskan pada Affrel dimana dia meletakkan STNK. Karena khawatir Affrel bakal kena masalah; kita berinisiatif berhenti, menunggu Affrel lewat. Kita mencoba menelpon Affrel; namun tidak diangkat.

Sementara yang lain menunggu Affrel; aku dan Arif melanjutkan perjalanan menuju warung soto di daerah Tembiring, untuk sarapan. Arif nampak sangat ‘mengkhawatirkan’, lol, mungkin disebabkan (1) tubuhnya memang kurang fit (2) belum sarapan.

sarapan,  kakak2 centil merubungi dedek ragil :D


Tak lama setelah aku dan Arif sampai di tempat sarapan – waktu event Gowes Kartini kita juga sarapan disini, atas rekomendasi Mas Tunggal, eks ketua Komselis – ternyata yang lain pun berdatangan. Rupanya, Affrel sudah cukup hafal kebiasaan para polantas di Demak: mereka mengadakan razia di tempat “tersebut” jelang pukul 10.00. dia – yang asli Demak – tahu bagaimana bisa sampai terminal Demak tanpa perlu melewati perempatan dimana para polantas mengadakan razia. LOL.

Seusai sarapan – sekitar pukul 10.50 – matahari besinar sangat terik. Wew. Ini terlalu siang.  Kita sempat khawatir kita sampai Pantai Kartini lebih dari jam 16.00 dan kita bakal ditolak untuk menyeberang ke Pulau Panjang. L



waktu istirahat di satu mini market, Arif istirahat lagi :)

Wachid bergabung dengan kita setelah kita melewati Trengguli. Kita beristirahat lagi sewaktu bertemu dengan mini market jelang masuk daerah Welahan. Mungkin ini sekitar pukul 12.00. Matahari tetap bersinar dengan terik.

Waktu melanjutkan perjalanan, Ranz mengeluh asam lambungnya kumat. L (Dia hanya makan satu dua sendok soun dalam sotonya waktu sarapan.) jika asam lambungnya kumat, Ranz tentu bakal kesulitan jika harus mengayuh pedal dengan cepat, apalagi beban pannier yang cukup berat di rak boncengan Pockie. Padahal kita harus secepat mungkin sampai Pantai Kartini; agar tidak keduluan hujan; hingga kita bisa menyeberang ke Pulau Panjang. :D

Disinilah Avitt menjadi savior. Pelan-pelan dia mendorong laju Pockie agar Ranz tidak terlalu harus kerja keras. Kadang gantian Uak yang mendorong. Sesampai gapura selamat datang Jepara, Uak kembali lagi untuk gantian mendorong Hesti dan Dwi; ini untuk kali pertama buat mereka gowes jauh dengan membawa pannier di rak boncengan; naik sepeda lipat. J

debut Hesti gowes jarak jauh naik seli :)



duet folker :)

Kita semua sampai di gapura pukul 14.30. alhamdulillah ... ternyata tidak “selama” yang kita perkirakan semula. Gapura ini menjadi ‘tanda’ bahwa tanjakan yang harus kita lewati telah berlalu. LOL. Trek selanjutnya tinggal trek yang menyenangkan. :D

Sekitar pukul 15.10 kita sampai di pertigaan yang jika belok kanan kita menuju terminal. Disini kita berbagi tugas. Avitt, ditemani Uak dan Tami ke mini market untuk belanja kebutuhan kita selama di Pulau Panjang; sedangkan Ranz ke pantai Kartini untuk memastikan bahwa masih ada perahu yang bersedia menyeberangkan kita ke Pulau Panjang. Yang lain juga langsung menuju Pantai Kartini.

(Note : waktu event Gowes Kartini yang lalu, para pesepeda bisa masuk Pantai Kartini gratis, kali ini kita harus beli tiket; harganya Rp. 7000,00 per orang. Wedew. LOL.)

Syukurlah tak sulit bagi kita untuk mendapatkan perahu yang akan membawa kita bersebelas – plus 10 sepeda – menyeberang. Kita ‘cukup’ membayar Rp. 330.000,00. Setelah mendapatkan kepastian kita bisa menyeberang, sambil menunggu Avitt, Uak, dan Tami yang sedang berbelanja, kita mampir ke warung yang ada untuk sekedar mengisi perut.

wajah2 lelah, meski tetap ceriah :D

Kita menyeberang ke Pulau Panjang sekitar pukul 16.30, dalam kondisi gerimis mulai turun. (big thanks to dua kru perahu yang membantu para perempuan yang ada membawakan sepeda-sepeda ke dalam perahu, ketika 4 laki-laki yang ada sedang shalat di mushalla. Avitt dkk waktu itu belum balik dari belanja.) oh ya, ternyata waktu akan menyusul  ke Pantai Kartini, mereka bertiga ‘tersesat’ masuk ke kawasan tempat menyeberang ke Karimun Jawa! LOL.

sebelum memasang tenda di pinggir pantai, kita letakkan sepeda disini

Apa pun yang terjadi ... sekitar pukul 17.00 kita telah sampai di Pulau Panjang dengan selamat, disambut gerimis. Syukurlaaaah. J

Gerimis yang datang dan pergi, menemani kita mendirikan tenda, mumpung sinar mentari masih bisa kita andalkan memberi penerangan. J Saat empat tenda telah berdiri, suasana masih belum begitu gelap.






FYI, kelompok kita bukan satu-satunya yang berkemah di Pulau Panjang di malam minggu itu. Ada beberapa kelompok lain yang juga melakukan hal yang sama dengan kita. Mungkin karena para ‘campers’ ini lah; satu warung tetap buka sampai malam, in case, para campers tidak membawa bekal. Warung ini juga menyediakan jasa ngecharge loh. J Toilet dengan air berlimpah juga ada.

Gerimis masih menggoda kita hingga pukul 20.00. Namun, setelah itu, cuaca terang. Dengan penuh tanggung jawab dan rasa kasih sayang pada sesama (halah :p), kulihat Uak mengeringkan ‘mmt’ yang kita gelar di depan tenda hingga kita semua bisa nongkrong di atas lapak yang bersih dan kering; di bawah cahaya rembulan dan bintang.


Indahnya merealisasikan impian menjadi kenyataan. :D 

To be continued







Tidak ada komentar:

Posting Komentar