Selasa, 07 Januari 2020

Dolan Ngawi 2019 Day 1


Background:


Sudah lumayan lama aku pingin dolan ke Ngawi, tepatnya untuk mengunjungi Museum Trinil. FYI, aku jatuh cinta pada Museum Sangiran, telah mengunjunginya 3 kali dengan naik sepeda, sekali naik sepeda motor karena mengajak Angie, anakku. Maka, aku pun ingin membandingkannya dengan Museum Trinil. Namun, Ranz tidak menyetujui keinginanku bersepeda ke Ngawi karena jalan raya Solo - Surabaya itu dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan besar yang tidak pernah terlihat peduli dengan pengguna jalan lain, apalagi pesepeda. Bus-bus sejenis Sumber Kencono yang memang terkenal ngawur dan sopirnya tidak mau mengalah bakal menjadi 'kawan' seperjalanan kita. :)


Dan mendadak di akhir tahun 2019 Ranz begitu saja bersedia menemaniku bersepeda ke Ngawi! Nah lo! Satu destinasi wisata yang lumayan baru telah membuat Ranz penasaran hingga tanpa berpikir lebih panjang, dia langsung mengatakan, "Yuk bersepeda ke Ngawi!" Padahal semula kita mau bersepeda Semarang - Jogja - Solo. Hohoho … 


Kisah:


Usai menyelenggarakan event Gowes Hari Ibu di hari Minggu 22 Desember 2019 pagi, sorenya kita berangkat ke Solo naik travel. (Haha … tumben yak, ga naik kereta maupun bus? Well, kita kehabisan tiket kereta, dan Ranz males nungguin aku mengayuh pedal Austin menuju Sukun; apalagi jika kemudian kita ga dapat tempat duduk waktu naik bus. Hehehehe …)


Senin 23 Desember 2019


Kita mulai mengayuh pedal meninggalkan rumah Ranz di daerah Laweyan sekitar pukul 06.30. Kupikir kita menuju arah Karanganyar karena aku ingat waktu kita gowes ke Wana Wisata Alas Bromo, ada satu jalan dengan petunjuk "KE SRAGEN" maka aku bayangkan kita akan sarapan di warung timlo yang pernah kita mampir on the way ke Candi Cetho, atau sarapan di warung soto segeeer Mbok Giyem di kitaran daerah yang sama. Eh, ternyata setelah sampai Palur, kita belok kiri. Owh …😜

di jembatan penghubung kabupaten Karanganyar dengan kabupaten Sragen
 


Setelah meninggalkan fly over Palur kurang lebih 3 kilometer, Ranz menawariku untuk berhenti di satu rumah makan untuk sarapan. Karena aku sudah membayangkan soto Mbok Giyem yang segar itu, aku berharap menemukan warung makan yang berjualan soto ayam. Namun, hingga bersepeda 5 kilometer dari saat Ranz menawariku sarapan, kita hanya menemukan warung makan soto daging sapi. Hadeeeeh. Karena patah hati dan perut sudah keroncongan minta diisi, aku pun ga pilih-pilih, tapi, kebetulan warung yang 'akhirnya' kupilih terlihat menawarkan 'soto ayam' di geber yang dipasang. Waaah … akan tetapi, ternyata, aku terlalu berharap banyak, lol, si penjual hanya menyediakan soto daging sapi; jika pingin 'soto ayam' berarti dia akan menggorengkan ayam sebelum disajikan. Loh, kok begituuu. Lol. Untunglah dia juga menyediakan nasi pecel. Akhirnya pagi itu aku sarapan nasi pecel, sementara Ranz nasi soto daging.


Kita sudah bersepeda sejauh 19 kilometer sesampai warung tempat kita sarapan ini.


Usai makan, kita melanjutkan perjalanan. Kita berhenti untuk foto-foto ketika memasuki kabupaten Sragen. Kemudian lanjut. Trek terus menerus rolling meski lebih didominasi turunan. Ranz juga sempat memotretku di satu taman yang ada tulisan KOTA SRAGEN. Namun waktu akan foto-foto di alun-alun, alun-alun penuh orang-orang yang nampaknya baru selesai mengikuti upacara Hari Ibu. Kita tidak jadi foto-foto. 


Berikutnya kita berhenti di satu minimarket untuk membeli air mineral, sekalian nunut ke toilet.😅



Setelah melewati perbatasan propinsi Jawa Tengah - Jawa Timur, kita memasuki daerah Mantingan, yang ternyata sudah masuk kabupaten Ngawi, sekitar 53 kilometer dari Laweyan. Tak jauh dari situ, kita langsung 'disambut' hutan. Ga enak nih kalau lewat daerah hutan begini saat hari sudah gelap. 



Bagaimana dengan 'kawan-kawan' seperjalanan kita? Well, alhamdulillah karena sekarang sudah ada jalan tol, kita ga perlu terus menerus 'berhadapan' dengan bus-bus maupun truck. Jumlah kendaraan-kendaraan besar itu jauh berkurang, kata Ranz. Aku sering melihat bus EKA, MIRA, mapun Sugeng Rahayu, namun seingatku aku tidak melihat bus Sumber Kencono yang namanya terkesan membahayakan, lol. 


Di satu area hutan jati ini kita berhenti di satu warung sederhana karena aku mengantuk, butuh minum kopi. Ranz memesan es kelapa muda. Ranz ngecek dari sini ke Museum Trinil, kita hanya butuh bersepeda sejauh 10 kilometer lagi. Waaah, sudah dekat! Tapi, setelah sadar bahwa banyak museum tutup di hari Senin, kita terpaksa mengubur keinginan mampir hari itu. 



Kita berhenti untuk foto-foto lagi di petunjuk "Museum Trinil" kurang lebih 2,9 kilometer. Cuma untuk foto-foto, setelah itu kita langsung melanjutkan perjalanan ke arah Ngawi.


Sekitar jam 13.30 kita melewati terminal Kertonegoro yang disebut dalam lagunya Didi Kempot yang berjudul "Dalan Anyar". (sobat ambyar detected! Lol.)  Tidak lama kemudian kita sampai di satu perempatan yang namanya menjadi satu judul lagunya Denny Caknan, yakni KARTONYONO. Aku melihat nama itu ditulis di satu gedung yang dicat warna putih. Weee lhaaa … ternyata ada beneran yak daerah bernama Kartonyono? 


Di perempatan itu, Ranz belok kiri, kemudian berhenti untuk ngecek alun-alun dari situ masih seberapa jauh lagi. Saat itu aku melihat tulisan "HOTEL AA NUANSA", kupikir Ranz akan mengajakku menginap disitu, namun karena Ranz ingin memastikan jarak yang masih harus kita tempuh, dia berhenti untuk ngecak gmap. 


Nah, waktu kita berhenti itu, seorang petugas dari Dishub nyamperin kita; dia tertarik karena kita naik sepeda lipat, dan nampak kalau kita pendatang. 😍 Dia menyapa dan mengajak ngobrol. Dari dia aku tahu ternyata di Ngawi sudah ada komunitas sepeda lipat dengan nama SELINGAR singkatan dari Sepeda Lipat Negeri Ngawi Ramah. Dia juga menyarankan kita menginap di hotel AA Nuansa karena tarifnya yang murah; selain itu, dia menyarankan kita berkunjung ke benteng 'pendhem' bernama Van Den Bosch.


Setelah check in di hotel, (tarifnya memang sangat bersahabat buat kantong kita, kita memilih kamar yang terletak di lantai 2 dengan tarif Rp. 160.000,00 per malam dengan fasilitas 2 single bed, kamar mandi dalam, AC, plus sarapan. Waaaah!!! We loved this!) Ranz mengajak ke benteng Van Den Bosch setelah dia cek di gmap ternyata lokasinya hanya sekitar 3 kilometer dari hotel. 



Belum ada jam 16.00 kita sudah sampai di benteng. Dari luar nampak benteng ini dirawat dengan semestinya. Tiket masuk Rp. 5000,00. Mungkin karena saat itu sedang musim libur akhir tahun, kita melihat banyak wisatawan yang datang, dengan naik mobil yang plat nomornya sangat variatif, misal dari Surabaya, Madiun, Blora/Cepu, Solo, bahkan ada yang dari Bandung dan Bogor!




Kondisi benteng ternyata tidak seterawat yang kuharapkan ketika sampai di gerbang masuk. Secara tidak sengaja aku membandingkannya dengan benteng Vandeburg Jogja dan benteng Van Der Wijk Gombong. Namun, yang namanya peninggalan zaman kolonial Belanda tetap saja menarik untuk dikunjungi. Jika seseorang memiliki mata yang jeli, bisa menghasilkan jepretan foto yang wah. 


Di antara bangunan-bangunan yang sudah rubuh disana sini, ada satu area yang mungkin sudah direnovasi, di dalamnya kita bisa menemukan pajangan foto-foto benteng zaman dulu, dan diorama sederhana berisi sedikit benda peninggalan. 


Ssebelum adzan maghrib berkumandang, kita sudah meninggalkan lokasi menuju alun-alun, mencari warung makan untuk makan siang yang kesorean (atau makan malam yang terlalu awal, lol). Kita berhenti di satu warung yang berjualan Chinese food; aku memesan capcay, Ranz memesan apa ya, lupa, ayam bumbu lada hitam kalau tidak salah. Ternyata, kita tidak sanggup menghabiskannya karena porsinya lumayan besar untuk perut kita; akhirnya kita minta untuk membungkusnya dan kita bawa pulang ke hotel.


Usai mandi, kita kembali ke alun-alun, kali ini kita jalan kaki. Di alun-alaun ada pasar malam dengan berbagai macam atraksi mainan, selain orang-orang yang berjualan makanan atau baju atau mainan anak.


Jam 22.00 kita sudah kembali ke hotel untuk beristirahat, persiapan untuk gowes hari kedua.
Jarak bersepeda: Laweyan -- Hotel AA Nuansa 87,3 kilometer dengan elevasi gain 515 mdpl. Dari hotel ke benteng Van Den Bosch pp 8 kilometer.


To be continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.