Selasa, 07 Januari 2020

Dolan Ngawi 2019 Day 3


Rabu 25 Desember 2019


Di hari ketiga ini terus terang aku rada awang-awangen untuk gowes balik ke Solo. Ha ha ha … alasannya (1) gowes sehari sebelumnya cukup membuat kita 'ngoyo' je dengan elevasi gain di atas 1000 mdpl (2) jika ditambah dengan 'usaha' kita bersepeda dari Solo - Ngawi cukup membuat tubuh kita lungkrah. Kekekekeke … Namun satu hal penting: kita harus mampir Museum Trinil!


Ranz memberiku 3 tawaran. (1) bersepeda ke Trinil, kemudian balik ke terminal Kertonegoro untuk naik bus. Tapi, Ranz khawatir jika tiket busnya mahal. Hahahahaha … apalagi kita membawa sepeda lipat. (2) bersepeda ke Trinil, kemudian lanjut gowes ke Sragen. Sesampai Sragen, kita mencari loading car. (3) bersepeda ke Trinil, kemudian lanjut gowes sampai Solo. Ha haaa


Menu sarapan hari kedua ini adalah nasi plus oseng buncis dan telur dadar. Karena membayangkan bakal loading, pagi ini kita nyantai banget. Ranz baru memulai ritual paginya jam setengah 7. saat Ranz mandi ini, aku makan sarapanku. Setelah itu baru gantian aku mandi kemudian packing.


perempatan Kartonyono
Pukul 08.00 kita mulai mengayuh pedal sepeda masing-masing, menuju Museum Trinil. Sebelum meninggalkan area itu, aku meminta Ranz memotretku di perempatan Kartonyono yang membuat heran, apa istimewanya perempatan itu. Hohohoho … saat itu dia belum tahu ada satu lagu berjudul "Kartonyono medhot janji". Kekekekeke … 


10 kilometer mengayuh pedal, kita sampai di 'ujung' jalan masuk menuju Museum Trinil dimana ada tugu penanda Museum Trinil. Setelah foto-foto disini, kita mengikuti petunjuk.  Kita masih harus bersepeda sejauh 3 kilometer. Sesampai sana, kita tidak langsung masuk namun mampir ke satu warung terlebih dahulu, aku butuh ngopi. Saat kita datang, ada 4 kereta wisata masuk, dinaiki anak-anak PAUD/TK yang mengenakan seragam sekolah gamis. 



Museum Trinil ternyata sangat mungil, jika dibandingkan dengan Museum Sangiran. Di Trinil kita hanya menemukan 2 ruangan yang dipakai untuk memamerkan penemuan-penemuan benda pra-sejarah. Trinil dipilih untuk lokasi membangun museum untuk 'menghormati' bahwa di daerah sini untuk pertama kali E. Dubois menemukan peninggalan benda pra-sejarah, benda-benda yang diharapkan bisa menjelaskan missing link teori Darwin. 





Kita ga butuh waktu lama untuk menikmati 2 ruangan berisi pameran benda-benda pra-sejarah. Waktu keluar ke halaman, aku melihat 2 kereta wisata yang berisi anak-anak PAUD/TK itu meninggalkan museum. Satu hal yang mengherankan bagiku adalah anak-anak itu menyanyikan lagu "Kartonyono medhot janji". Mendengar lagu itu dinyanyikan anak-anak yang mengenakan busana gamis, entah mengapa aku langsung tertawa terbahak-bahak. Ranz pun heran apa yang membuatku tertawa seperti itu. Nah, waktu menjelaskan bahwa lagu yang dinyanyikan anak-anak itu berjudul "Kartonyono medhot janji" karya Denny Caknan (dikira Ranz yang nyanyi Didi Kempot) aku sekaligus menjelaskan mengapa aku tadi memintanya memotretku di perempatan Kartonyono. Ranz pun super heran bagaimana mungkin seorang Nana tahu lagu sejenis itu. Wakakakakaka …


Setelah meninggalkan museum, dan kembali ke jalan raya, Ranz bertanya di antara 3 pilihan yang dia tawarkan, mana yang kupilih. Karena Ranz nampak enggan kembali gowes ke arah (kota) Ngawi, aku memilih gowes ke Sragen, dengan catatan dia harus sabar menungguku gowes, ga boleh ngomel jika aku lelet. Lol. 






Tak disangka tak diduga ternyata aku mendapatkan energi yang full seperti saat berangkat hari Senin. Cieee … kali ini justru aku bisa menikmati trek rolling yang kita lewati dibandingkan waktu berangkat. Kita mampir ke satu rumah makan swalayan Mbak Henny untuk makan siang, meski saat itu baru pukul 11.30. Ranz bilang rumah makan seperti ini tentu berkurang pengunjungnya setelah jalan tol jadi. Orang-orang yang bepergian dari Solo ke Surabaya dan sebaliknya tentu lebih memilih lewat jalan tol, dan beristirahat di rest area yang disediakan dalam tol. Jadi lumayan lah ya, kita ikut melarisi.😊


Ketika melewati hutan, kita sempat mampir ke Monumen Gubernur Suryo untuk foto-foto. Ranz bilang tak jauh dari monumen itu ada wana wisatanya. Namun aku khawatir jika kemalaman sampai Solo (aku sudah membayangkan kita jadinya gowes sampai Solo, ga Cuma sampai Sragen kemudian memesan taksi online) aku menolak jalan-jalan ke dalam wana wisata.


Setelah melewati perbatasan Jawa Timur - Jawa Tengah, tak lama kemudian kita mulai disambut gerimis. Ranz langsung mengajak menepi ketika dia melihat ada satu 'gubug' yang mungkin di hari lain dimanfaatkan untuk warung makan. Dia harus melindungi kamera-kameranya. (Dia bawa 2 kamera!) aku sempat ragu akan mengenakan mantel atau tidak, akhirnya kuputuskan tidak memakai mantel dengan harapan gerimis ini ga akan berlangsung lama, dan berhenti.




Namun harapan ini tak terkabulkan. Gerimis tetap gerimis, meski kadang sedikit menderas, namun tak sampai menjelma hujan deras. Akan tetapi, bersepeda di bawah gerimis seperti itu dengan menempuh jarak puluhan kilometer, kita tentu tetap basah kuyub. 


Setelah melewati alun-alun Sragen, kemudian melewati taman kota yang ada tulisan KOTA SRAGEN tempat aku sempat berfoto di hari Senin, aku merasa sudah cukup dekat dengan area Palur. Aku lupa bahwa tentu kita harus melewati penanda meninggalkan Sragen untuk kemudian masuk area Karanganyar. Pikiran bahwa kita sudah dekat Palur ini benar-benar menyiksa: jarak tempuh terasa kian jauuuuh. Aku merasa kedinginan dan lapar. Rasanya pingin nangis. Hihihi … Mungkin Ranz menyadari ini hingga dia sempat mengingatkan aku jika aku pingin mampir ke satu warung atau rumah makan (mungkin dia melihat body language-ku yang setiap kali melewati rumah makan, aku menengok untuk ngecek masakan/makanan jenis apa yang disediakan. Kekekekeke … 


Di satu traffic light, aku hampir saja menabrak mobil yang terasa mendadak berhenti, dan aku tidak memiliki space untuk lewat. Aku langsung ngerem. Di pinggir kulihat ada warung susu dan roti bakar. Aku sempat membayangkan roti bakar yang hangat sebelumnya, maka aku langsung menoleh ke Ranz dan bilang, "Aku pingin roti bakar." Ranz ga yakin jika penjualnya sudah siap. Ketika aku melongok ke dalam, ternyata benar, di dalam warung belum ada apa-apa. Duh … aku rasanya kian kedinginan. Padahal tentunya Ranz juga ya?


Aku akhirnya melihat tanda-tanda bahwa kita telah sampai Palur. Waktu melihat ada rumah makan Padang, tanpa pikir panjang aku langsung belok. Seperti tadi siang, kita makan Cuma satu piring. Nasi yang hangat langsung terasa menghangatkan perutku, membuat tubuhku lumayan nyaman. Wedang jeruk hangat yang kupesan juga kian menghangatkan tubuhku. Jarak dari situ ke Laweyan masih sekitar 12 kilometer, kata Ranz. Gerimis masih turun; namun dengan tubuh yang lebih hangat dibanding sebelumnya, aku siap untuk melanjutkan perjalanan.


Setelah masuk area Solo, Ranz mengajakku lewat jalan Kota Barat; dia pingin mampir ke satu gerai yang berjualan sate taichan. Sementara Ranz menunggu  pesanannya, aku nyempetin ngelop area situ; aku kepingin jarak tempuh kita hari ini mencapai minimal 100 kilometer. Hohoho … saat ini aku baru ngeh, gerimis sudah berhenti. 


Ketika sampai rumah Ranz, aku ngecek strava: jarak yang kita tempuh hari ini 'baru' 96 kilometer. Maka untuk menggenapinya, aku ngelop jalan Agus Salim ke arah stasiun Purwosari kemudian belok kiri, belok kiri lagi dimana jalannya tembus hingga pasar oleh-oleh Jongke. Aku menempuh jalan ini dua kali. Setelah kembali ke rumah Ranz, strava menunjukkan jarak tempuh kita 100,7 kilometer. Yippeee. It is enough!


Setelah masuk rumah Ranz, ternyata dia sudah selesai mandi. Aku pun gantian mandi. 


Perjalanan kita usai sudah. Alhamdulillaaah. 



PT56 23.23 03-Januari-2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.