Cari Blog Ini

Jumat, 19 Juni 2020

Keselamatan di Jalan Raya

Dari obrolan virtual yang diselenggarakan oleh National Geographic Magazine Indonesia pada hari Kamis 18 Juni 2020 yang saya ikuti, saya ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Om Poetoet sebagai ketua Bike to Work Indonesia : keselamatan pengguna jalan raya itu tanggung jawab kita semua.

 

 


Mumpung sepedaan sedang ngetren setelah pemerintah Indonesia membuka diri menuju 'new normal' lifestyle, obrolan ini sangat menarik diikuti. Obrolan diawali oleh dokter Aristi yang seorang pesepeda dan peturing antarnegara menyampaikan pentingnya mengikuti protokol kesehatan yang ketat ketika bersepeda: memakai masker itu penting untuk melindungi diri sendiri, sekaligus juga melindungi orang lain, siapa tahu kita adalah OTG alias orang tanpa gejala. Selain itu, dia juga menyarankan mengenakan face shield agar kita merasa lebih aman dari 'serangan' droplet orang-orang yang mungkin kita temui di jalan. Selain mengenakan masker (dan face shield), kita juga sebaiknya bersepeda sendirian, atau maksimal dengan 4 orang lain, itu pun kalau bisa ya orang-orang yang serumah dengan kita, yang kita tahu pasti kesehariannya bagaimana, apakah dia positif/negatif covid. Memilih rute yang sepi dan waktu yang tepat juga penting agar kita bisa terhindar dari kemungkinan ketularan covid 19.

 

 

Om Poetoet yang diberi kesempatan untuk berbicara setelah dokter Aristi menyoroti pentingnya menjaga keselamatan diri dan orang lain.

 


 

"Saat kita keluar rumah kita harus memastikan bahwa dalam perjalanan nanti kita tidak celaka -- ini ada hubungannya dengan persiapan yang harus kita lakukan, misal ngecek sepeda yang prima kita naiki dll -- juga kita jangan sampai menyebabkan orang lain celaka disebabkan oleh kita."

 

 

Seperti yang kita tahu bahwa sepedaan yang ngetren beberapa minggu terakhir ini tentu melibatkan para 'pemain baru'. Para 'newbie' yang sedang senang-senangnya sepedaan (dan biasanya mereka melakukannya beramai-ramai, yang berarti melanggar kebijakan new normal (karena justru berkerumun) nampaknya berpikir bahwa mentang-mentang sepeda ini tidak memiliki mesin, mereka bisa sesuka hati melanggar lampu lalu lintas. (Eh, bukan  hanya newbie ya yang melanggar lampu merah? Lol) Mereka juga kadang terlihat enak saja bersepeda berjajar tiga sampai empat orang hingga memakan badan jalan dan pengguna jalan lain kesulitan untuk menyalip.

 

 

Hal ini membuat jagad dunia maya seolah terbelah menjadi tiga: orang-orang yang sama sekali tidak tertarik bersepeda mengatakan para pesepeda ini semacam hama di jalan raya sehingga mereka harus dibasmi (duh, rasane pingin ngumpat 'your grandpa!"); pesepeda yang secara inosen mengajukan 'excuse' "loooh, kita kan pesepeda, boleh dong ga ngikutin aturan?" dan jenis ketiga: pesepeda yang mengikuti aturan sehingga mereka terjepit antara kelompok satu dan dua.

 

 


Mengacu ke keluhan orang-orang dari kelompok pertama, Om Poetoet mengambil sikap, "ya silakan kalau pesepeda juga akan ditindak jika melanggar lalu lintas, tapi ingat, pesepeda juga dilindungi UU loh." UU lalu lintas nomor 22 tahun 2009 pasal 62 mengatakan bahwa (ayat 1) pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda; (ayat 2) pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas; dalam hal ini bisa berupa jalur sepeda.  Pasal 106 ayat 2 menyatakan "setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)".

 

 


Nah, jika tidak ada jalur sepeda, terpaksa pesepeda memakai jalur umum yang dipakai oleh kendaraan bermotor. Secara hirarki, di jalan raya, di Indonesia pejalan kaki dan difabel itu pihak yang paling harus dilindungi, yang kedua adalah pesepeda. Trotoar dibangun utamanya untuk pejalan kaki dan difabel, namun jika tidak ada jalur sepeda, pesepeda boleh menggunakan trotoar, terutama jika trotoar dalam kondisi memungkinkan pesepeda untuk lewat trotoar (pas jarang ada pejalan kaki atau difabel) dan badan jalan dipenuhi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor roda di atas 4 yang seyogyanya berada di jalur kanan yang paling harus menghargai keberadaan kendaraan bermotor roda 4 dan roda 2.

 

Keluhan mereka yang tidak bisa memahami pesepeda biasanya disebabkan mereka merasa ruang gerak mereka di jalan raya berkurang karena pesepeda. Nah, setelah tahu UU lalu lintas nomor 22 tahun 2009 harusnya paham dong bahwa pesepeda juga manusia, eh, pesepeda juga BERHAK menggunakan jalan raya bersama pengendara kendaraan bermotor.  Seandainya ada jalur sepeda namun pesepeda menggunakan jalur kendaraan bermotor, sila ditilang. Sebaliknya juga pengendara kendaraan bermotor menggunakan jalur sepeda, mereka juga harus ditilang.

 

Mengenai mereka yang melanggar traffic light saat lampu merah menyala, kira-kira berapa jumlah pesepeda / motorist yang melanggar? Mana yang lebih banyak? Lol. But, anyway, kita semua tahu bahwa melanggar lampu merah bisa jadi akan mencelakakan diri kita, namun bisa juga justru akan mencelakakan orang lain. Kembali ke pernyataan Om Poetoet, saat di jalan raya, jangan sampai kita mencelakakan diri kita, maupun mencelakakan diri orang lain. Kita SEMUA BERHAK selamat sampai tujuan.

 

PT56 16.04 19 Juni 2020


Kamis, 18 Juni 2020

Pemotor versus Pesepeda

Kebanyakan pemotor itu bisa naik sepeda, namun belum tentu pesepeda bisa naik motor; minimal saya punya dua orang kawan yang bisa naik sepeda, kuat mengayuh pedal sepedanya hingga lebih dari seratus kilometer sehari, namun tidak bisa mengemudikan kendaraan bermotor dengan lancar. :)

 

 


Tetapi, pemotor yang mungkin waktu kecil dulu bersepeda, apakah mereka masih bersepeda di masa dewasa? Kalau iya, apakah mereka bersepeda untuk berolahraga? Atau mereka memanfaatkan sepeda sebagai moda transportasi? Beda lho pengalamannya, meski sama-sama bersepeda.

 

 

Ini pengalaman pribadiku ya.

 

 

Kalau tidak salah, pertama kali aku dibelikan sepeda oleh ayahku saat aku duduk di kelas 4 SD, setelah aku bisa naik sepeda, dengan mencoba sepeda milik kakakku. Tentu saja sepeda ini hanya kumanfaatkan untuk bermain-main saja, karena sekolahku terletak hanya sekitar 200 meter dari rumah, jadi tidak perlu moda transportasi. Awalnya, ibuku tidak keberatan melihatku bermain sepeda, hingga aku ikut-ikutan kawan saat bersepeda aku duduk di bangku boncengan di belakang, jadi kakiku menjulur ke depan untuk mengayuh pedalnya. Nampaknya karena khawatir terjadi sesuatu pada selaput daraku -- gegara cara dudukku yang tidak lazim -- ibuku akhirnya sering melarangku sepedaan.

 

 

Kalau tidak salah, ketika aku duduk di bangku SMP, aku sudah sangat jarang sepedaan. Aku juga lupa apakah sepedaku masih ada di rumah, atau mungkin sudah berpindah pemilik entah siapa. Kakakku yang masih rajin bersepeda, dia berangkat sekolah dengan naik sepeda, juga mengantarku sekolah (SMP) dengan naik sepeda. Oh ya, aku pernah sekali naik sepeda ke sekolah waktu duduk di bangku kelas 3 SMP dengan alasan sepele: cowo gebetanku yang duduk di bangku kelas 1 naik sepeda ke sekolah. Lol.

 

Sejak kelas 2 SMA aku mulai naik motor. Kakakku juga sudah mulai naik vespa. Entah kemana sepeda-sepeda saat kita kecil itu.

 

Sekitar tahun 1990 kakakku pindah ke Cirebon, ternyata kesukaannya bersepeda berlanjut, dia membeli sepeda federal, yang saat itu sedang booming. Setelah itu, dia membeli satu sepeda lagi, yang dia kirim ke Semarang untuk adik-adiknya. Maka, terkadang aku sepedaan lagi, hanya untuk berolahraga, meski jarang sekali.

 

Tahun 2008, aku dijawil oleh beberapa kawan medsos untuk bersama 'membentuk' wadah pesepeda ke kantor di kota Semarang, Bike to Work Chapter Semarang. Karena merasa turut serta bergabung dalam satu komunitas pesepeda, aku pun mulai mempraktekkan bersepeda ke kantor, menggunakan sepeda yang dikirim oleh kakakku ke Semarang di tahun 1992 itu. Dan … aku mulai memperhatikan bagaimana tingkah laku pemotor terhadap pesepeda, tidak seperti dulu waktu kecil.

 

Tahun 2008 itu, sepeda masih merupakan satu moda transportasi yang tidak begitu lazim, (Well, duluuuu mungkin sepeda pernah menjadi 'raja jalanan' ya, dekade2 sebelum 1980-an. Ayahku pernah bercerita beliau pernah bersepeda keliling Jawa Tengah di dekade 1960-an, mungkin sebelum menikahi Ibuku.) terasa banget para pemotor itu -- baik naik kendaraan bermotor roda 2 maupun roda 4 -- tidak menganggap pesepeda itu berhak menggunakan jalan raya; apalagi kendaraan bermotor yang lebih besar, misal bus dan truck.

 

 

Bukan satu hal yang lebay jika kukatakan dengan terbentuknya wadah pesepeda, tahun-tahun berikutnya kian banyak orang bersepeda, meski bukan untuk berangkat kerja ke kantor. Kian banyak pihak-pihak tertentu yang menyelenggarakan event fun bike. Ini adalah satu kemajuan yang bagus karena aku sendiri mulai merasakan bahwa pengguna jalan lain mulai memperhatikan pesepeda. Jika di tahun 2008 aku sering diklakson orang ketika menyeberang jalan, semakin 'kesini' semakin kulihat mereka sedikit bersabar dengan menekan rem kendaraan mereka ketika melihat seorang pesepeda menyeberang.

 

 

Satu kali hal ini menjadi obrolan dengan kawan-kawan pesepeda. Jika seorang pemotor beralih menjadi pesepeda -- meski mungkin hanya seminggu sekali -- dia akan menjadi lebih sabar di jalan raya ketika naik motor dan berpapasan dengan pesepeda. Dia tidak akan grusa grusu melihat pesepeda menyeberang jalan, atau ketika ada rombongan pesepeda di depannya.

 

 

Aku pikir (well, berharap) bahwa akan kian banyak orang yang semakin menghormati keberadaan pesepeda di jalan raya. Namun nampaknya ini hanya menjadi angan-anganku belaka, entah sampai kapan. Ketika kaos lawas disain seorang kawan mendadak viral , komentar-komentar yang ditulis menunjukkan ketidaksadaran orang-orang bahwa bagaimana pun juga, saat lingkungan kian terpolusi, saat jumlah BBM kian menipis, sepeda adalah pilihan moda transportasi yang paling handal, apalagi di tengah pandemi covid 19 ketika orang-orang disarankan untuk mengurangi ketergantungan pada moda transportasi massal. Bersepeda ke tempat kerja atau dimana pun kita melakukan kegiatan adalah pilihan yang paling tepat: (1) kita berolahraga sehingga kita bisa meningkatkan imun tubuh (2) kita menjaga jarak dari orang lain karena tidak naik moda transportasi massal (3) tetap mengurangi polusi yang terbuang ke udara (4) tetap mengurangi ketergantungan pada BBM sekaligus mengirit keuangan.

 

 

Jadi, bagi para pemotor yang tidak pernah memahami pesepeda, bagaimana kalau anda mencoba bersepeda ke tempat kerja, minimal satu minggu saja, dan rasakan sendiri bahwa frasa "SING PINTER NGEREM SING GOBLOK NGLAKSON" itu memang benar adanya.

 

 

PT56 16.23 18/06/20


Selasa, 16 Juni 2020

PESEPEDA DAN ADAB SOPAN SANTUN

'Gerakan moral' Bike to Work Indonesia secara resmi berdiri pada tahun 2005, setelah para 'founding fathers' berkumpul untuk membahas dan menggodog gerakan ini sejak satu tahun sebelumnya. Mereka yang bergabung dalam 'founding fathers' ini adalah mereka yang hobi bersepeda dan ingin menyalurkan hobi ini dalam bentuk memanfaatkan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari, dan bukan melulu sebagai alat olahraga. Mereka berpikir bahwa jika mendirikan sebuah 'wadah' resmi seperti komunitas mereka akan bisa memiliki kekuatan hukum ketika berhadapan dengan pihak-pihak yang mungkin bisa diandalkan untuk membantu memasyarakatkan kegiatan yang sangat berorientasi ke masa depan -- misal: dengan bersepeda kita mengurangi polusi udara, kita juga mengirit penggunaan BBM.

 



Setelah B2W Indonesia 'terjun' ke masyarakat dan mengajak komunikasi pihak yang memiliki otoritas -- pemerintah -- UU lalu lintas no 22 tahun 2009 menyertakan beberapa ayat yang melindungi pesepeda.

 

Pasal 62 ayat (1) pemerintah harus memberikan kemudahan berlalulintas bagi pesepeda.

Pasal 62 ayat (2) pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.

Pasal 106 ayat (2) setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda.

Pasal 122 ayat (3) Pengendara gerobak atau kereta dorong yang berjalan beriringan harus memberikan ruang yang cukup bagi kendaraan lain untuk mendahului.

 

Khusus untuk pasal 122 ayat (3) di atas, pesepeda juga termasuk ya, apalagi jika sedang bersepeda berombongan.


 


Selain itu masih ada PP no 79 tahun 2013 pasal 114 (58) yang berbunyi:

  1. Trotoar disediakan khusus untuk pejalan kaki
  2. Trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan pesepeda apabila tidak tersedia jalur sepeda
  3. Penyedia trotoar sebagaimana dimaksud: (a) keamanan (b) keselamatan © kenyamanan dan ruang bebas gerak individu dan (d) kelancaran lalu lintas.

 

Nah, setelah mendapatkan perhatian dari pemerintah (better than nothing, ya gaes) kita harus tahu adab sopan santun di jalan raya dong ya.

 

SHARE THE ROAD

 

Sudah sekian tahun B2W Indonesia mengusung jargon SHARE THE ROAD alias berbagi jalan. Jika kita tidak mau pengendara kendaraan bermotor memenuhi jalan tanpa menyisakan ruang bagi pesepeda, (misal sama sekali tidak ada jalur lambat atau jalur sepeda)  maka selayaknyalah pengendara kendaraan bermotor menyediakan ruang bagi pesepeda.

 

Apakah kemudian pesepeda bisa sewenang-wenang memenuhi badan jalan?

 

Ya jelas TIDAK. Layaknya, pesepeda memilih jalur yang paling kiri. Jika ternyata ada yang menempati -- misal pejalan kaki karena tidak tersedia trotoar -- pesepeda bisa memilih jalur yang agak ke kanan. Yang paling penting disini adalah pesepeda memanfaatkan jalan raya dengan mengutamakan keselamatan untuk diri sendiri, juga untuk pengguna jalan lain. UU no. 22 tahun 2009 pasal 122 ayat (3) cukup memberi info yang jelas.

 



Akan tetapi, tidak semua pesepeda mengayuh pedal sepedanya pelan-pelan, ada atlit sepeda yang harus rajin latihan naik sepeda dengan kecepatan yang kadang menyamai kendaraan bermotor, misal dengan kecepatan sampai 30-40 km perjam. Khusus untuk rombongan ini, mereka diizinkan untuk mengambil lajur kanan, tentu dengan melihat kondisi jalan ya. Yang penting disini adalah saling menghormati pengguna jalan yang lain. Pengendara kendaraan bermotor menghormati pengendara kendaraan tidak bermotor, dan begitu juga sebaliknya.

 

Jangan sampai apa yang pernah terjadi di satu negara luar beberapa tahun lalu juga terjadi di Indonesia: ketidaksukaan pengendara kendaraan bermotor kepada para pesepeda membuat mereka menabrak pesepeda yang memenuhi jalan, ketika mereka mengikuti satu event sepedaan!

 

PT56 16.26 15-June-2020


Minggu, 14 Juni 2020

Pandemi Covid 19 dan Pesepeda

Di "awal2" pandemi (pertengahan bulan Maret 2020, saat pemerintah mulai menghimbau rakyatnya untuk 'stay at home') beberapa kawan yang berbisnis sepeda mengeluh penjualan mulai seret. (Well, sebenarnya (hampir) semua usaha seret ya? Tapi di tulisan ini saya cuma fokus ke bisnis penjualan sepeda.) Baik mereka yang memiliki toko sepeda (fisik) maupun mereka yang berjualan sepeda online.

 


Yang mengherankan mendadak sekitar awal /pertengahan bulan Mei seorang kawan menulis status di timeline-nya, "maaf, yang menelpon tidak bisa saya layani karena saya sibuk di toko." Selidik punya selidik ternyata saat itu mulai banyak orang tertarik membeli sepeda. Dan saya mulai memperhatikan jika saya sepedaan di pagi hari setelah sahur, apalagi jika di hari Minggu, saya berpapasan dengan banyak pesepeda.

 

Selepas Idul Fitri 24 Mei 2020, jalanan kian ramai dengan pesepeda, pagi dan sore, apalagi jika hari Sabtu/Minggu. Kebetulan hari Minggu 14 Juni 2020 saya lewat Kota Lama Semarang, yang menjadi destinasi wisata idola baru setelah direnovasi oleh pemerintah Kota Semarang. Situasinya ramai sekali, banyak pesepeda lewat, apalagi yang nongkrong untuk berfoto-foto. Selepas Kota Lama, sepanjang jalan Pemuda hingga Tugumuda pesepeda bertebaran dimana-mana, tidak jauh beda dengan kondisi ketika ada funbike.

 

Ini adalah fenomena yang menarik untuk dikaji menurut saya. Ada apa?

 

Saya sempat ngobrol tentang hal ini dengan adik saya yang juga memilih sepeda sebagai moda transportasi untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah, sekaligus berolahraga.

 

Kota Lama 14 Juni 2020 pagi


Untuk anak-anak yang masih usia sekolah -- sekitar 8 - 18 tahun -- mungkin mereka telah mencapai titik jenuh untuk terus berada di rumah. Bermain game online pun lama-lama membosankan. Akhirnya mereka memilih keluar rumah dengan bersepeda. Dua tiga anak, akhirnya mereka menularkan kegiatan satu ini ke kawan-kawan yang lain. Sekelompok anak-anak mengundang berkelompok-kelompok anak lain untuk melakukan hal yang sama. Yang mengherankan, ini tidak hanya terjadi di satu kota. Semarang, Solo, Pemalang, Bandung, dan mungkin juga kota-kota lain terjadi hal yang sama. Ranz yang tinggal di Solo bilang harga sepeda di Solo meningkat tajam!

 

Bagaimana dengan mereka yang berusia dewasa?

 

Beberapa hari lalu kebetulan saya membaca status seorang kawan facebook: dia berhasil 'ngompori' kawan-kawan sekolahnya dulu untuk bersepeda! Tentu ini ada hubungan dengan pandemi dimana pemerintah menghimbau rakyatnya untuk jaga jarak. Beberapa lokasi yang biasa menjadi tujuan untuk berolah raga (misal di Semarang lapangan 'Tri Lomba Juang' yang juga sempat menjadi primadona tempat berolahraga yang murah meriah) tutup; kolam renang umum juga tutup. Sementara itu, rakyat diharapkan untuk meningkatkan imun tubuh dengan salah satu caranya adalah berolahraga.  Bersepeda adalah salah satu solusi yang lebih menyenangkan ketimbang jalan kaki atau jogging. Dengan bersepeda kita bisa mencapai jarak yang lebih jauh dengan mudah ketimbang jalan kaki atau jogging, terutama bagi pemula. Selain itu, jogging lebih memberatkan tubuh dibandingkan bersepeda. Bersepeda santai -- misal dengan kecepatan rata-rata 10km/jam -- lebih disarankan untuk dilakukan mereka yang sudah berusia di atas 40 tahun ketimbang jogging.

 

Bersepeda sangat disarankan untuk dilakukan di masa pandemi seperti sekarang ini terutama jika kita melakukannya sendirian, atau maksimal dengan sekelompok orang tak lebih dari 5 orang, dan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat: mengenakan masker, memilih tempat yang sepi, waktu yang tepat, biasanya di pagi hari setelah Subuh dimana hawa masih segar dan belum banyak orang beredar di jalan raya. Usahakan untuk tidak mampir kemana-mana, misal angkringan/warkop; jika sampai harus mampir, lakukan protokol kesehatan seperti cuci tangan yang bersih menggunakan sabun dan air mengalir sebelum mulai makan/minum, dan selalu ingat untuk tidak menyentuh hidung, mulut, dan mata dengan tangan yang belum dicuci.

 

Pantai Cipta 14 Juni 2020


Sampai pertengahan Juni ini, saya masih tetap memilih bersepeda sendiri. Eh, lha memang biasanya sendiri, kecuali jika sedang bikepacking dengan Ranz. Dan kecuali-kecuali yang lain. Lol.

 

PT56 17.00 14-Juni-2020


Tata cara gowes New Normal bisa diklik disini


Senin, 08 Juni 2020

Gowes SMART menyambut NEW NORMAL

Le génie humain a des bornes, Mais la sottise n’en a pas.

 

"Humans genius has its limits, but stupidity does not." (Alexander Dumas)

 



Entah mungkin pemerintah 'hanya' latah untuk mengaplikasikan 'new normal' karena negara-negara lain mulai mengaplikasikannya, atau memang pemerintah telah mempertimbangkannya secara masak-masak saat menyatakan Indonesia akan segera memasuki era new normal.

 

Mengapa saya mengatakan begitu? Karena seperti kita tahu sampai tanggal 7 Juni 2020 peningkatan jumlah pasien positif covid 19 ada 672, sedangkan penambahan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh ada 591; sehari sebelumnya tanggal 6 Juni 2020 malah peningkatan jumlah pasien positif covid 19 ada 993, nyaris mencapai angka seribu, sedangkan peningkatan jumlah pasien sembuh ada di angka 464. (Data yang disampaikan oleh Bapak Achmad Yurianto.)

 

Satu alasan yang pasti mengapa pemerintah sudah ingin memberlakukan 'new normal' adalah untuk menyelamatkan keterpurukan sektor ekonomi. Seperti contoh yang saya tulis di artikel sebelum ini, contoh keterpurukan sektor ekonomi di daerah saya tinggal, Semarang, seorang pedagang soto ayam yang sebelum masa pandemi biasa memasak nasi 5 kilogram sehari dan habis dibeli orang, setelah masa pandemi dia memasak hanya 1,5 kg saja kadang tidak habis dia jual. Contoh lain banyak orang yang terpaksa dirumahkan dari tempat mereka bekerja karena memang perusahaan tempat mereka bekerja mendapatkan pesanan barang yang jauh berkurang ketimbang sebelumnya; satu portal berita memberitakan banyak PRT yang tidak lagi dipekerjakan karena banyak keluarga yang terpaksa mengirit  pengeluaran bersama dengan menurunnya income keluarga.

 

Akan tetapi nampaknya banyak masyarakat yang berpikir bahwa pemberlakuan new normal menandakan bahwa virus corona tak lagi semengerikan seperti yang digembar-gemborkan media di awal ditemukannya pasien pertama covid 19 di Indonesia. Apalagi dengan viralnya beberapa tulisan orang di media sosial tentang ketidakpercayaan mereka bahwa virus corona ini benar-benar ada, dan menuduh pemerintah hanya menakut-nakuti rakyat. :(

 

Entah karena masyarakat mulai bosan 'dikurung' terus dalam rumah, bosan merasa takut pada hal yang tak terlihat (virus), atau alasan yang saya tulis di paragraf sebelum ini, new normal ini ditandai dengan kembalinya jalan-jalan ramai (dan macet!), lokasi-lokasi tertentu dipenuhi masyarakat (misal GBK dikunjungi puluhan ribu orang pada hari Minggu 7 Juni untuk melakukan olahraga).

 

PESEPEDA

 

Kekhawatiran bahwa new normal akan membawa 'gelombang kedua' covid 19 (lah, gelombang pertama saja jumlah pasien covid 19 belum menurun!) kawan-kawan yang berkecimpung dalam gerakan moral BIKE TO WORK mengadakan diskusi virtual mengenai apa-apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pesepeda untuk membantu pemerintah menekan laju penyebaran covid 19. ini disebabkan melihat kian banyak para pesepeda yang melakukan kegiatan bersepeda beramai-ramai dengan komunitas masing-masing.

 

Dokter Aristi (yang juga seorang pesepeda senior) merumuskan gowes SMART.

 

S merupakan singkatan dari Solo (sendirian) atau Small group; jangan bergerombol. Kalau pun kebelet bareng, jangan lebih dari 5 orang. Jaga jarak sekitar 2 meter antar pelari atau 20 meter antar pesepeda. Pak Yuri mengatakan bahwa ada sekitar 80% penderita covid 19 itu OTG (orang tanpa gejala). Bisa bayangkan bahayanya jika kita bersepeda ramai-ramai karena kita tidak tahu bahwa selalu ada kemungkinan OTG dalam peleton kita.

 

M merupakan singkatan dari Masker; bawalah dan biasakan pakai masker. Jika kita bersepeda di satu jalur yang cukup ramai dilewati orang, kemudian ada seorang pemotor / pesepeda lain menyalip kita, dan kebetulan dia tidak mengenakan masker, plus mendadak dia bersin, atau mungkin meludah, minimal kita telah melindungi diri sendiri dengan mengenakan masker. Bagi para pesepeda profesional -- mungkin atlit yang butuh latihan olahraga dengan serius -- masker bisa dibawa, dan dipakai saat dibutuhkan. Jika kita bersepeda menyusuri sawah yang sepi, ya boleh lah masker kita lepas untuk sementara.

 

 

A merupakan singkatan dari Arm protection; kenakan jersey lengan panjang atau gunakan manset. Pesepeda bisa pakai gloves. Hindari virus menempel di kulit lengan. Kalau memungkinkan, kita tidak perlu mampir warung ya, bawa minum sendiri. Jika butuh cemilan ya bawa sendiri dan ngemil saat melewati tempat yang sepi. Cuci tangan dengan sabun jika hendak makan. Nah, jadi tambah kudu bawa sabun deh. Lol. Ya, pokoknya kalau dirasa butuh mampir warung, dan yakin bahwa warung itu terjaga kebersihannya, kita tetap harus mencuci tangan dengan sabun.

 

 

R merupakan singkatan dari Rute; pilih rute atau lintasan yang tidak ramai. Hindari keramaian, agar tidak berpapasan dengan orang banyak. Jika memungkinkan, perhatikan zona-zona merah di daerah kita, hindari lewat zona-zona tersebut.

 

 

T merupakan singkatan dari Timing; pilih waktu lebih pagi, jam 05.00 - 06.00, jam segini biasanya belum terlalu banyak orang yang keluar rumah, dan udara pun juga masih segar. Jika bersepeda untuk meningkatkan imun tubuh, kita tidak perlu melakukannya sampai lebih dari 60 menit kan ya. Satu jam dengan kecepatan rata-rata 15 km / jam sudah cukup. Jika targetnya lebih dari 15 menit, bisa berangkat lebih pagi lagi, setelah shalat Subuh jam 04.30, kita bisa langsung keluar rumah, dengan catatan pilih rute yang aman, dan jangan kenakan/bawa aksesoris yang tidak penting untuk menghindari kejahatan seperti penodongan.

 

 




Dokter Aristi sebenarnya telah mencoba memasyarakatkan ide "Gowes SMART" ini via media sosial sekitar sejak awal Juni 2020, kemudian diviralkan oleh kawan-kawan pesepeda lain, entah lewat facebook, instagram, maupun twitter. Ini karena dia gemas melihat masih banyak postingan kawan2 pesepeda yang bersepeda dalam gerombolan dengan jumlah orang yang cukup banyak, kemudian berfoto bersama sambil nampak haha hihi tanpa mengenakan masker, konon DEMI EKSIS. Jika yang melakukan ini para pesepeda baru alias baru bersepeda setelah pandemi atau mungkin baru 1-2 tahun terakhir, masih bisa dipahami, (meski juga mengesalkan) mungkin karena mereka butuh eksis. Namun jika yang melakukannya para pesepeda yang sudah lama bersepeda -- entah untuk olahraga entah untuk yang lain -- kira-kira di atas 6 tahun, rasanya memang membuat tangan gatal, untuk mengetik kata-kata kasar di keyboard. Lol.

 

Melalui tulisan ini, saya menghimbau, mari kita yang waras, lol, turut serta memasyarakatkan ide "Gowes SMART" ini, demi Indonesia yang lebih sehat dan membaik secara ekonomi maupun di sektor-sektor yang lain. Be genius. No need to spread stupidity.


LG 14.55 08 June 2020  

 




Jumat, 05 Juni 2020

Pantai-pantai di Kota Semarang

Sebagai kota yang terletak di pinggir utara Pulau Jawa bagian tengah, selayaknya Semarang memiliki garis pantai yang cukup panjang. Akan tetapi sayangnya sampai sekarang, Semarang hanya memiliki satu pantai yang bisa dikatakan cukup diperhatikan oleh pemerintah dan layak dikunjungi; yakni Pantai Marina.

 


  1. PANTAI MARINA

 

Aku lupa mulai kapan Pantai Marina ini direnovasi kemudian dibuka untuk umum. Yang aku ingat, aku kesini tahun 2007 bersama kakakku + istrinya, dua adikku, dan Angie anakku. Waktu itu lumayan lah untuk refreshing, meski pantai ini tidak memilik area berpasir yang luas. Ada satu kompleks perumahan yang dibangun disini dengan rumah-rumah berukuran besar dan design yang cukup keren. Sayangnya beberapa tahun kemudian gegara rob, areanya sering dipenuhi banjir. Dan seperti biasa, untuk menghalau air banjir, kawasan ini ditinggikan. Yang dulunya ada area untuk bermain tamiya jelas tertutup urugan tanah. Dan … deretan rumah di pinggir pantai yang dulu sempat membuatku ngiler, lol, tertutup urugan tanah ini, sehingga tak lagi nampak indah dipandang. Aku membayangkan jika dulu para penghuni bisa langsung menikmati pemandangan laut lepas begitu keluar rumah, sekarang yang mereka lihat ya gundukan tanah.

 

Aku menyayangkan tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk mengelola pantai ini dengan lebih profesional.

 

  1. PANTAI MARON

 

Semenjak mengenal sepedaan tahun 2008, aku mulai mengenal beberapa pantai lain yang ada di Semarang. Yang pertama adalah Pantai Maron. Pantai Maron terletak di 'belakang' bandara A. Yani yang lama. Dulu pengunjung bisa lewat area bandara, atau jl. Jembawan. Pertama kali kesini tahun 2008, area berpasir masih lumayan luas, yang membuatku berpikir Maron ini lebih menarik dikunjungi ketimbang Marina. :) Bahwa permukaan jalan dari bandara menuju pantai sangat tidak bersahabat dengan mobil sedan, karena terdiri dari tanah yang bertaburan batu, tidaklah mengapa buatku, karena sejak tahun 2008 sampai sekarang, aku selalu kesini naik sepeda. Lol.

 


Abrasi yang terjadi terus menerus akhirnya menggerus area berpasir Pantai Maron. Satu kali, deretan ruang untuk berbilas orang-orang setelah bermain air di pantai pun mundur hingga lebih dari 10 meter. Demikian juga deretan warung-warung yang berjualan berbagai jenis makanan dan minuman. Beberapa saat kemudian, area ini direklamasi, hingga garis pantai kembali menjorok ke laut lagi. Meskipun begitu, area ini tak lagi semenarik pertama kali aku ke Pantai Maron.

 

Meski dibuka untuk umum, beberapa tanda yang dipasang di daerah ini memberi info bahwa daerah ini dipakai untuk latihan militer. (Tempat untuk 'pembaretan'.) inilah alasan utama mengapa setelah Bandara Ahmad Yani dipindah ke tempat yang baru, Pantai Maron tertutup untuk umum. Padahal pabrik Phapros sempat membuat area penanaman mangrove yang dibuat cukup instagrammable (sekian tahun lalu, kurleb tahun 2016) untuk menarik pengunjung.

 

  1. PANTAI TIRANG

 

Aku tahu pantai ini semenjak mengenal Pantai Maron karena letaknya berseberangan dengan sungai yang menuju ke laut. Kukira dulu juga bagian dari Pantai Maron, ternyata bukan. Jika di tahun 2008 dulu masih ada jembatan yang menghubungkan jalan masuk menuju Pantai Maron dan jalan masuk yang menuju Pantai Tirang, beberapa tahun kemudian jembatan ini ditutup aksesnya. Setelah akses jembatan ini ditutup, hanya ada satu jalan masuk (via darat) untuk menuju Pantai Tirang, yakni lewat perumahan Graha Padma.

 

vlog besutan Ranz


Permukaan jalan masuk menuju Pantai Tirang, selepas meninggalkan kawasan perumahan Graha Padma, jauh lebih menantang ketimbang jalan masuk menuju Pantai Maron, apalagi jika setelah turun hujan lebat. Dan, karena harus melewati satu jembatan sempit yang menghubungkan antara perumahan GraPad dan jalan masuk menuju Pantai Tirang, mobil tidak bisa menuju area pantai.

 

Tahun 2017 waktu dolan kesini bersama kawan2, area berpasirnya masih cukup luas. Meski areanya dipenuhi sampah (yang nampaknya berupa sampah dari laut yang dibawa ombak ke garis pantai), masih lumayan lah untuk dikunjungi dan menghasilkan foto-foto yang layak ditampilkan di instagram. Namun ketika aku kesini bulan Mei 2020 kemarin, area berpasir dipenuhi dengan tanaman enceng gondok. :(

 

Kembali aku mempertanyakan komitmen pemerintah, apakah pantai yang ada tidak layak mendapatkan perhatian dari pemerintah? Apakah karena jalan masuk ke pantai ini harus lewat perumahan Graha Padma, pantai ini otomatis menjadi milik perumahan? Dan pemerintah tak punya hasrat untuk membuatnya layak untuk dijadikan satu destinasi wisata? Hiks …

 

  1. PANTAI CIPTA

 

Aku tahu pantai ini gegara Ranz yang penasaran mencari pantai Baruna, saat satu kali dolan berdua dengan Tami, mungkin sekitar tahun 2015. Tami mengaku dia sering dolan kesini ketika dia kecil, saat pingin ngelangut, lol. Maka ketika Ranz mencari lokasi pantai Baruna, Tami mengajaknya ke pantai Cipta, karena justru Tami tidak tahu pantai Baruna. (FYI, saat itu mereka dolan berdua karena aku ada kegiatan lain.)

 

Oh ya, yang penasaran letak pantai Cipta, ini ada di balik 'pelabuhan peti kemas', di sebelah Timur pantai Baruna. Karena merupakan 'pelabuhan peti kemas', bayangkan sampah yang berserakan di daerah ini. Sayangnya terakhir aku dolan kesini sudah cukup lama, mungkin sekitar tahun 2016 karena banyak truk-truk yang bersliweran di area menuju pantai, aku enggan kesini.

 

  1. PANTAI BARUNA

 

Pertama kali aku diajak kesini oleh seorang kawan tahun 2008, aku belum kenal sepedaan, maka aku kesini naik motor. Waktu itu, jalan setapak di pinggir pantai masih ada, mungkin panjangnya sekitar 500 meter. Awal mengenal sepedaan, kadang aku kesini sendiri, namun karena jalannya bakal becek jika hujan turun, aku jarang kesini, masih mending ke Maron waktu itu.

 

Aku dan Ranz kesini mungkin sekitar tahun 2015 ketika Ranz bercerita ke aku mencari pantai Baruna malah ketemu pantai Cipta. Pertama kita berdua kesini naik motor. Yang berikutnya kita naik sepeda. Sekitar bulan Oktober/November 2015 Ranz sempat merekam perjalanan kita kesini dengan kameranya dan membuat video pendek.

 

Sekitar tahun 2016 aku mengajak Angie kesini. Ilalang yang tersebar di area yang cukup luas cantik diabadikan dalam kamera. Tahun 2017 aku kesini bareng kawan-kawan dan baru tahu bahwa tak jauh dari pantai ada satu lokasi yang cukup penting mencatat sejarah pertempuran 5 hari di kota Semarang; yakni Monumen Ketenangan Jiwa. Semenjak itu, aku cukup sering bersepeda kesini, dengan catatan di musim kemarau, karena hujan akan membuat jalan yang kulewati bakal becek sebecek-beceknya. Lol.

 

Lihat, minimal ada 5 pantai lho di Semarang ini. Apakah kira-kira pemerintah tidak pernah memasukkan pantai-pantai ini dalam rencana renovasi untuk dijadikan destinasi wisata yang layak?

 

LG 15.36 05-Juni-2020


Rabu, 27 Mei 2020

Kaleidoskop Bikepacking saat Lebaran




Semenjak dolan naik sepeda berdua Solo - Jogja di bulan Juni 2011, aku dan Ranz menyempatkan diri bikepacking ketika ada libur yang lumayan panjang. Biasanya kita memilih saat libur lebaran dan libur akhir tahun. Di tulisan ini, aku hanya akan merangkum bikepacking saat libur (menjelang/sesudah) lebaran.

 

  1. 2011

 

Setelah lebaran 2011, kita (nekad) bersepeda ke Pantai Nampu, dimana kita ternyata 'tersesat' gegara salah informasi tentang jarak dan trek, lol. Sebelum memulai perjalanan, kita mendapat infor bahwa jarak yang harus kita tempuh hanya 80 kilometer, 40 kilometer dari Solo ke Wonogiri (masuk kota Wonogiri), 40 kilometer lagi dari Wonogiri ke Pantai Nampu. Kenyataannya? Dari Laweyan -- rumah Ranz -- sampai Wonogiri jarak yang kita tempuh memang sekitar 40 kilometer, dari sini sampai pusat kecamatan Pracimantoro 30 kilometer, dimana perjalanan kita terhenti karena kelelahan menjelang maghrib. Dari sini ke Pantai Nampu, ternyata masih sekitar 30 kilometer lagi. Trek yang katanya 'biasa saja' yang kita terjemahkan sebagai 'datar-datar saja' ternyata setelah 40 kilometer pertama, treknya naik turun tak kunjung usai. Lol.

 


Meski kita melakukannya beberapa hari setelah lebaran -- saat arus balik para pemudik -- di sepanjang jalan yang kita lewati jarang ada tenda rest area, kecuali di pom bensin.

 

  1. 2012.

 

Setelah menyusuri jalan di kawasan Selatan Pulau Jawa setahun sebelumnya, tahun ini kita menyusuri pantura, bikepacking dari Semarang menuju Tuban.  Di sepanjang pantura, suasana lebaran sangat terasa dengan berderetnya tenda-tenda rest area di banyak titik; seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, bikepacking Semarang - Tuban ini yang paling sering kita rindukan ketika lebaran datang.

 


Tidak ada kisah tersesat karena info yang salah, lol, jadi ga terlalu dramatis, lol. Tapi sesampai Tuban, Ranz sempat panas dan menggigil. Ah iya, kisah dramatis ada, saat kita berburu hotel di Tuban, padahal Ranz sudah merasa tidak sehat.

 

  1. 2013

 

Tahun ini kita kembali menyusuri jalan Selatan Pulau Jawa karena mendadak aku kepengen ke Pantai Klayar, setelah Ranz menunjukkan keindahan karang di pantai ini lewat foto. Oh ya, kita berdiskusi akan bikepacking kemana setelah lebaran lewat WA. Dari beberapa pilihan yang masuk daftar, begitu saja aku memutuskan bikepacking ke Pantai Klayar karena kepincut fotonya. Konsekuensinya? Aku harus menyiapkan mental untuk mengayuh pedal sepeda melewati trek rolling seperti saat aku dan Ranz ke Pantai Nampu, dua tahun sebelumnya.

 



Kisah bikepacking ini didramatisir dengan kenyataan bahwa sakit flu yang diderita Ranz sebelum berangkat justru kian melemahkannya. Dia ngeyel ingin tetap berangkat dengan harapan hati yang gembira akan menyembuhkannya, namun ternyata Ranz sempat membanting Pockie di tengah jalan gegara dia ngambeg melewati trek yang naik turun melulu. Lol. Kisah super manis dari bikepacking ke Klayar ini karena di hari kedua kita dolan, aku ulang tahun, dan ternyata Ranz mempersiapkan surprise berupa kue ultah mungil lengkap dengan lilinnya. Ranz is indeed very sweet.

 

  1. 2014

 

Kisah kita tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya; kita dolan ke Blitar dan Malang di tengah-tengah bulan Ramadan, dengan mengambil moment libur kenaikan kelas. Untuk pertama kali kita mengawali petualangan dengan naik kereta api dari Solo ke Blitar, KA Matarmaja yang bertujuan ke Malang; namun karena waktu itu aku nyidam ke Candi Penataran, aku mengajak Ranz turun di Blitar. Setelah mengunjungi Candi Sawentar, Candi Penataran, makam Bung Karno, dan rumah tempat Bung Karno tinggal ketika masih remaja, kita baru bersepeda ke Malang.

 


Ada kisah dramatis? Ada dong, saat aku termakan rayuan Juli -- sobatku yang tinggal di Malang -- untuk menginap semalam lagi di Malang, padahal satu hari itu rencana aku dan Ranz lanjut gowes ke Sidoarjo, lol. Kupikir Ranz mau menambah satu hari lagi, ternyata dia ngambeg ingin langsung balik ke Solo. Kita naik bus Ro***** I**** balik ke Solo.

 

  1. 2015

 

Seperti setahun sebelumnya, tahun ini kita juga bikepacking di tengah bulan Ramadan, saat libur kenaikan kelas. Kisah bikepacking kali ini sangat special karena kita menghabiskan waktu hampir 2 minggu, setelah tahun-tahun sebelumnya paling lama hanya satu minggu. Kita bersepeda ke Bali dan Lombok, sampai menyeberang ke Gili Trawangan. Kita naik kereta api Sritanjung dari Solo ke Banyuwangi, dari Ketapang, kita menyeberang ke Bali naik ferry, dan memulai petualangan kita bersepeda.

 


Kisah dramatis yang menyedihkan saat dolan ke Bali ini adalah kamera Ranz dicuri orang saat kita mampir ke satu minimarket, di pintu gerbang masuk kampus Universitas Udayana - Denpasar. Nyaris patah hati dan sempat kepikiran untuk membatalkan rencana selanjutnya; namun akhirnya kita bergeming, melanjutkan rencana hingga kita sampai Lombok dan Gili Trawangan.

 

  1. 2016

 

Tahun ini kita tidak hanya dolan sepedaan berdua, namun kita sekalian mengajak 4 kawan perempuan lain: Tami, Dwi, Avitt dan Hesti. Setelah kita bersepeda bersama ke Jepara dalam rangka merayakan Hari Kartini di bulan April 2016, kita bersepeda bersama lagi selepas lebaran di Jogja. Kita berangkat dari Semarang naik KA Kalijaga menuju Solo, dari sana kita lanjut ke Jogja dengan naik KA Prameks.

 


Di Jogja kita mengunjungi Tamansari dan alun-alun Kidul, mencoba peruntungan melewati 2 pohon beringin kembar. :) I did it well twice loh. (legaaa rasanya, entah mengapa. Lol) Di hari kedua kita menyusuri Selokan Mataram menuju Timur, mampir Candi Sambisari, Candi Kalasan, dan Candi Sari. Setelah check in di Hotel Galuh, kita keluar lagi ke Situs Ratu Boko. Hari ketiga aku dan Ranz 'ngerjain' anak-anak gowes ke Tebing Breksi lewat jalan 'blusukan' lewat resto Abhayagiri lanjut ke Candi Barong, dan melewati trek jalan setapak dengan hamparan sawah/tebing di kiri/kanan. Lol. Setelah itu kita masih harus bersepeda sampai stasiun Klaten untuk naik KA Prameks untuk kembali ke Solo.

 

No dramatic moments, bagiku dan Ranz. Namun bagi Avitt ini adalah kisah paling dramatis yang pernah dia alami (saat itu) karena ini adalah kisah pertamanya bikepacking naik sepeda lipat berhari-hari, dan dia harus membawa tas pannier yang beratnya sudah cukup membebani, bahkan sebelum diisi. Lol. 

 

  1. 2017

 

Di kisah kita kali ini, untuk pertama kali kita naik mtb alias sepeda 'gunung' bukan sepeda lipat karena satu 'accident'. Lol. Kita berencana ngikut satu event somewhere di Indonesia Timur, kita sudah mengirim sepeda ke Sidoarjo, eh, karena sesuatu hal, event dibatalkan. Akhirnya? Ketimbang tidak sepedaan, kuajak Ranz ke Sidoarjo 'menjemput sepeda'. Sepeda-sepeda lain kita kirim balik ke Semarang naik mobil pickup -- yang kita naiki ke Sidoarjo -- aku dan Ranz kembali ke Semarang dengan naik Cleopatra (polygon cleo 2.0) dan Orenj (wimcycle champion).

 



Bisa dikatakan bahwa perjalanan ini sekaligus 'napak tilas' bikepacking di tahun 2012, hanya jalurnya kita balik. Di tahun 2012 kita gowes ke arah Timur -- Semarang ke Tuban; sedangkan di tahun 2017 kita gowes ke arah sebaliknya, Sidoarjo - Semarang. 'sayangnya' musim balik (setelah lebaran) telah usai, banyak tenda rest area yang waktu kita berangkat ke Sidoarjo masih kita lihat, waktu kita gowes balik, tenda-tenda itu telah dibongkar.

 

  1. 2018

 

Kita tidak bertualang kemana-mana selepas lebaran 2018 karena Ibuku meninggal pada tanggal 3 Syawal 1439 H. Apa boleh buat aku sedang dalam masa berkabung. Tapi, sebenarnya, selain hal ini, aku dan Ranz sudah berencana untuk dolan ke Makassar + Tana Toraja di bulan September untuk turut menghadiri jambore sepedalipat nasional ke-8.

 


  1. 2019

 

Kembali kita tidak bertualang kemana-mana selepas lebaran 2019 ini karena kakakku meninggal pada tanggal 16 Ramadan 1440 H / 21 Mei 2019. untuk kali pertama, aku dan keluargaku memiliki acara keluarga saat lebaran : dolan ke Cirebon untuk nyekar makam kakakku.

 


Aku dan Ranz mengakhiri tahun 2019 ini dengan bikepacking Solo - Sragen - Ngawi, pp di bulan Desember 2019. alhamdulillah lah pokoknya masih berkesempatan bersepeda antar kota antar propinsi.

 

  1. 2020

 

Kebetulan aku dan Ranz belum sempat berencana untuk bertualang kemana selepas lebaran 2020; karena aku pikir tentu aku dan keluarga akan nyekar ke makam kakakku di Cirebon. Sebagai ganti, kita berencana untuk menyusuri jalan Daendels jalur Selatan, setelah menghadiri Tour de Pangandaran X yang rencananya diselenggarakan tanggal 4 Juli 2020; waktu yang sangat pas buat kita berdua untuk gowes antar kota antar propinsi. Akan tetapi, rencana ini pun kandas di tengah jalan gegara wabah covid 19 yang menghantui banyak negara; tak hanya Indonesia.

 

Apa boleh buat?

 

Well, meski belum bisa bertualang bersepeda puluhan atau bahkan ratusan kilometer sehari, dengan menulis ini, aku sudah cukup fulfilled. Better than nothing deh.

 

PT56 12.30 27-Mei-2020