Rabu, 05 Agustus 2015

And the journey continues: Bikepacking Bali - Lombok (episode 3)



AND THE JOURNEY CONTINUES

Sabtu 27 Juni 2015 

Pagi ini kita nyantai. Kita bangun pukul 06.30 WITA, mandi dan packing. Pukul delapan kita check out. Yang pertama kita lakukan adalah mencari lokasi JNE untuk mengirim beberapa baju yang tidak akan kita pakai sehingga lumayan meringankan beban pannier. :)

Lebih dari pukul sembilan Mba Ely ngabarin jika dia telah menjemput kita ke Wisma. Wahhh ... Kita pun balik lagi ke penginapan. Kebetulan Mba Ely bawa mobil yang lumayan besar sehingga muat untuk 2 seli yang dilipat, plus tas pannier dll. :) Kita meninggalkan kawasan Cakranegara ke Ampenan, dimana rumah Mba Ely terletak. 

Sesampai rumah Mba Ely di perumahan Mataram Asri, Ampenan, kita langsung disambut gonggongan Milo dan Maxi yang super heboh. Haduh, dua makhluk berkaki empat ini ukurannya besaaarrr, dan suara gonggongannya sempat bikin keder. Untunglah Milo dimasukkan dalam kandang sedangkan Maxi diikat tali sehingga tidak bisa lari kemana-mana. Aku membayangkan Milo – yang paling heboh menggonggong ke arahku, bukan ke Ranz – menyambutku dengan super hangat, dia bakal menerjangku dan aku bakal jatuh terguling-guling. LOL. 

aku bersama Snoopy

Di dalam rumah, kita disambut Snoopy, si pudel yang imuuuut, yang begitu jinak, langsung mengangkat dua kaki depannya, ingin mengajakku bermain.

Siang itu kita diajak ke sebuah rumah makan yang diberi nama “Jeruk Manis” dengan menu andalan nasi campur Bali. Suasananya seperti di rumah sendiri. Bagi orang-orang Semarang yang familiar dengan suasana Kedai Beringin, nah, hampir seperti itulah. 


nasi campur Bali ala JerMan
salah satu dekorasi di rumah makan JerMan

Pulang dari “JerMan” kita langsung ke rumah, istirahat. 

Sorenya, sekitar pukul 15.00 WITA kita meninggalkan perumahan Mataram Asri ke arah pantai Senggigi. Kita akan menjaring pemandangan sunset sore ini. Well, mungkin bagi banyak orang, pemandangan sunset dimana pun sama ya? :D Tapi mumpung kita di Lombok, why not? :)

Mba Ely mengajak kita berhenti tidak tepat di pantai Senggigi yang ada pura-nya, namun masih terus beberapa ratus meter, di satu lokasi yang disebut Pantai Klui.

satu klenteng yang kita lewati di kawasan 'Kota Lama' Mataram, otw ke Senggigi

Pantai Senggigi dari atas

gardu pandang Batu Bolong, tempat orang2 berkumpul membidik pemandangan sunset di Senggigi

in action bersama Austin di pantai Klui

turis bule yang menikmati pantai Klui

Mba Ely di pantai Klui

sunset di Pantai Klui

Usai sunset, kita kembali ke arah Ampenan. Sampai rumah sekitar pukul 19.15 WITA. Kita pun buru-buru mandi karena kita diundang makan malam oleh seorang teman yang kukenal lewat sosmed FB sekitar empat tahun lalu, seorang dokter kandungan bernama Helmanus Damanik yang biasa kupanggil Om Hel.

Om Hel datang dengan istrinya yang tetap cantik jelita meski telah menjadi “Oma” pukul 20.30. ternyata alamat yang kuberikan kurang lengkap sehingga Om Hel kebingungan mencari lokasi. J
Mba Ely menolak untuk ikut karena harus jaga rumah, eh, menjaga penjaga rumahnya yang berupa 3 ekor anjing yang hobinya makan mulu. LOL.

Aku dan Ranz diajak ke sebuah rumah makan “Taliwang Irama” yang kata Tante Hel rasa nikmatnya nomor satu di Lombok Barat. :) Kita dipesankan dua ekor ikan gurame bakar rasa manis pedas, dua potong ayam bakar taliwang, satu porsi plecing kangkung, dan satu sambal terong. Mengapa hanya dua? Ternyata di rumah Om Hel baru saja mengadakan acara buka bersama untuk para kolega dan pegawai. Semula mereka ingin mengundang kita pas acara bukber. Untunglah tidak jadi karena jam segitu kita sedang berburu sunset di pantai Senggigi/Klui.


ayam bakar taliwang, plecing kangkung

sambel beberok terong yang lezat

Maka kita pun bertanggung jawab menghabiskan semua pesanan itu. Semuanya enak (apalagi gratis LOL) namun perut kita tak mampu. Tante Hel mengisyaratkan kita harus menghabiskan semua. Waaaw. Dengan (mencoba) santun, aku berkata, “Biasanya jika kita makan di luar dan kita tak mampu menghabiskan pesanan makanan, kita minta dibungkus untuk dibawa pulang.” Syukurlah Tante setuju, dan memanggil seorang waitress untuk membungkus satu ekor ikan gurame dan satu potong ayam bakar yang masih utuh. Yeayyy.

Kita selesai makan sekitar pukul 22.30, dan kita langsung diantar pulang.

Malam itu kita tak perlu packing karena kita tidak ganti baju sehingga tidak perlu membongkar tas pannier. :D setelah sikat gigi, kita langsung tidur. :)

Minggu 28 Juni 2015 

Merupakan satu kebetulan jika jadual kita menyeberang ke Gili Trawangan jatuh pada hari Minggu. Trust me, semenjak kita turing, sudah lupa apakah itu hari Senin, Selasa, dst. Kita hanya tahu hari libur. LOL. “Everyday is Sunday in Bali” benar-benar kita rasakan. LOL. (Tidak hanya di Bali ya? Namun juga di Lombok.)

Karena Mba Ely mengingatkan bahwa di siang hari ombak kian besar sehingga bakal menyulitkan penyeberangan, kita berangkat ke Terminal Bangsal, tempat pelabuhan penyeberangan ke Gili, pagi-pagi sekali. Sebelum pukul delapan pagi WITA kita telah sampai sana.

anak-anak di pelabuhan Bangsal yang 'hilarious' melihat kita datang naik sepeda lipat :)



suasana di dalam public boat, menyeberang dari Bangsal ke Gili Trawangan

Moda transportasi yang kita naiki bukan berupa ferry, namun perahu bermotor. Satu perahu akan diberangkatkan jika telah ada 40 penumpang yang membeli tiket. Tiket untuk satu orang harganya Rp. 15.000,00. Kebetulan oleh si petugas yang ngecek tiket, dia mengatakan bahwa kita boleh bawa sepeda tanpa perlu beli tiket tambahan. Namun kita menggunakan jasa porter untuk membawakan dua seli dan satu tas pannier besar. Karena ada 3 orang yang berbeda, kita memberikan upah Rp. 30.000,00 meski mereka tidak menyebutkan jumlah tertentu yang harus kita bayarkan.

Kita sampai di Gili Trawangan pukul 08.30 WITA. Karena kamar hotel yang kita booking baru tersedia pukul 11.30 WITA  (jam check in), kita bersepeda di sepanjang pinggiran pulau. Meski ada banyak sepeda di Gili Trawangan, sepeda kita dengan mencolok menarik perhatian orang karena jenisnya yang berbeda, sepeda lipat. Apalagi Austin dengan warna oranyenya yang provoking. LOL. Sempat ada yang bertanya, “Where did you rent this bike?” Ya kita jawab bahwa ini adalah sepeda kita sendiri, yang kita bawa dari pulau Jawa! :)



Gili Trawangan!


bersepeda di Gili Trawangan, menikmati udara tanpa polusi udara

Pukul 11.15 Ranz mulai mengajak mencari lokasi ANDI homestay yang telah kita booking. Begitu banyak gang kecil yang ada di belakang bangunan-bangunan yang terletak di pinggir jalan utama di pinggir pantai. Lumayan susah juga menemukan homestay satu ini. Setelah hampir pukul dua belas siang, Ranz memutuskan untuk menelpon pihak pengelola (setelah aku cukup lelah bersepeda di bawah sinar mentari yang terik). Untunglah pihak homestay berinisiatif untuk menjemput kita.

Setelah check in, kita istirahat sampai pukul 15.30. aku mengajak Ranz bersepeda ke luar mencari lokasi yang indah untuk berburu sunset. Jadi kita telah berburu sunset di 3 pantai yang berbeda, Kuta, Senggigi, dan Gili Trawangan.

suasana di dalam ANDI homestay

ayunan nan spektakuler di Ombak Sunset hotel, untuk narsis disini butuh ngantri lama dengan turis lain :D



Pukul 18.30 kita kembali ke penginapan. Setelah mandi kita keluar untuk melihat kehidupan malam Gili Trawangan. Di daerah “pedalaman” kita mendengar suara orang shalat tarawih dari masjid yang ada, di daerah pinggiran pantai kita mendapati suara hingar bingar khas night club/pub/karaoke.

Pukul 20.30 kita kembali ke penginapan lagi.

Aku memutuskan untuk melanjutkan menulis catatan perjalanan kali ini, sampai pukul 23.30, sementara Ranz sudah molor. J

To be continued.
Gili Trawangan 13.05 29/06/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar