Rabu, 05 Agustus 2015

Mewujudkan Mimpi : Bikepacking ke Bali dan Lombok (episode 2)



BIKEPACKING KE BALI DAN LOMBOK

Billion thanks from me to Ranz who planned and prepared everything we need to make this big dream of ours come true. 

Sejak awal memang kita berdua berencana bahwa bikepacking kita kali ini tidak hanya akan explore Bali, namun sekaligus ke Lombok. Ranz yang ternyata memiliki bakat untuk menjadi seorang event organizer traveling secara teliti mempersiapkan itinerary – berdasarkan tempat-tempat yang ingin kukunjungi – dengan cara rajin browsing mencari data dan informasi, mulai dari jarak dari satu kota ke kota lain, penginapan, jarak dari penginapan ke destinasi wisata yang ingin kita kunjungi, dll.

Kamis 25 Juni 2015

Kita memulai pagi ini dengan berburu sunrise di pantai Sindhu, kawasan pantai Sanur. Menurut catatan matahari akan terbit pukul 06.33, maka dengan masih setengah mengantuk kita mengayuh pedal sepeda ke arah pantai pukul 06.10. Suasana masih agak gelap. 

Kurang dari lima menit dengan mengendarai Austin dan Pockie dua sepeda lipat kita yang setia menemani kita telah sampai di kawasan pantai dari Srideva guest house. Di ujung jalan yang menuju pantai ini kita berbelok kiri, menyusuri trek yang memang khusus dibangun untuk jalur sepeda. 

Yang membedakan kawasan Sanur dari kawasan Kuta, salah satunya, adalah di Sanur kita banyak berpapasan dengan mereka yang berolahraga dengan naik sepeda, jogging, atau berjalan-jalan santai. Kuta selalu penuh dengan restaurant & bar yang hingar bingar, Sanur adem, tidak ramai. 

Sayangnya di pagi pertama ini kita tak berkesempatan menikmati indahnya sunrise. Langit Sanur dirundung awan mendung, meski tidak tebal, tetap saja menggagalkan kita – dan banyak wisatawan lain yang sudah siap nongkrong di pantai dengan kamera masing-masing – mengabadikan keindahan sunrise.

Sekitar pukul tujuh kita kembali ke penginapan, mandi, dan siap-siap melanjutkan penjelajahan. Jika di hari Selasa kita tidak jadi ke pantai Pandawa yang kata teman-teman spektakuler, kita berniat mewujudkannya di hari Kamis ini.

Kita meninggalkan penginapan sekitar pukul setengah sembilan. Kita kembali menyusuri trek yang sama dengan yang kita lewati dua hari sebelumnya. Ketika melewati gapura Universitas Udayana, kita mulai menapaki tanjakan, dan ... kita harus melihat indomaret dimana Ranz kehilangan kameranya. 

Kita sudah cukup tahu trek tanjakan hingga daerah GWK. Setelah itu, tanjakan terasa kian curam. Tak hanya tanjakan kian curam, namun juga terus meneru rolling, naik turun, naik turun. Masih mending jika kita bersepeda ke arah Umbul Sidomukti maupun Candi Cetho dimana trek hampir 100% tanjakan, hingga pulangnya kita tinggal menikmati ‘bonus’ berupa turunan. Kalo rolling kan ya baik berangkat maupun pulang kita tak terhindarkan melewati tanjakan. :D

Sesampai pantai Pandawa yang treknya ajiiib, kita dibuat nganga melihat beningnya air laut yang ada, warnanya berupa gradasi hehijauan dan biru. Karena tidak menyangka bakal tergoda airnya yang bening, aku tidak membawa baju berenang, atau baju ‘spare’. Sementara itu Ranz malah terus memprovokasiku untuk nyemplung. LOL. Akhirnya, aku pun beli satu celana pendek dan satu tank top agar aku bisa ... canoeing! Yuhuuuu! 

Ranz yang sebenarnya phobia dengan air luas seperti laut pun dengan suka cita menemaniku main canoe bareng-bareng. Ketika di pantai Bama (TN Baluran) kita harus bayar seratus ribu rupiah per orang untuk main canoe selama 2 jam, di pantai Pandawa kita cukup membayar empat puluh ribu rupiah untuk satu canoe. Tentu kita berdua cukup mengendarai satu canoe. 
Pantai Pandawa





Canoeing is indeed fun! Rasanya pingin sampai ke tengah-tengah laut, jauh dari pantai. Tapi karena Ranz phobia air luas, kita ga jauh-jauh mengayuh canoe kita, muter-muter doang di lokasi itu. LOL. 



Sekitar pukul dua belas siang kita meninggalkan kawasan pantai Pandawa. Selanjutnya kita ke arah kawasan tempat membeli oleh-oleh (ada toko JO**R). Ga lama kita melanjutkan perjalanan ke Ubud. Ranz ingin membandingkan monyet yang ada di Goa Kreo dengan yang di Sangeh. :D

Seingatku ketika ke Ubud tahun lalu bersama anak-anak, seusai makan di kawasan Ubud, kita melanjutkan perjalanan kurang dari 15 menit kita telah sampai di destinasi wisata yang banyak monyetnya. Kukira itu Sangeh. Maka aku setuju saja ketika Ranz mengajak ke Sangeh. Ubud kan tidak terlalu jauh dari Sanur, tempat kita menginap. Kita mengandalkan GPS di hp, selain petunjuk lalu lintas yang kita lihat di jalan-jalan.





Maka alangkah herannya aku ketika kita tak kunjung sampai Sangeh setelah melewati daerah Ubud. Terus menerus kita mengikuti petunjuk arah di jalan-jalan yang kita lewati, selain sesekali bertanya pada orang, sekaligus membandingkan dengan GPS di hp. Puluhan kilometer dari Ubud telah kita lewati but where is Sangeh?

Lebih dari pukul empat sore aku melihat petunjuk arah “Desa Sangeh”. Ah ya benar, kita menuju Sangeh. Pukul 16.15 kita pun sampai di “Taman Wisata Sangeh” yang ternyata berbeda dari yang kukunjungi tahun lalu. NAH!

which one is cuter? :D

Mungkin karena telah terlalu sore, ketika kita sampai, tak kulihat satu pun pengunjung lain. Kelelahan malah justru membuat kita kehilangan excitement untuk menikmati destinasi satu ini. Dan karena terlalu sore para monyet pun telah banyak yang bersembunyi. Meskipun begitu, aku menikmati pohon-pohon yang ada yang tingginya sampai puluhan meter, entah jenis apa pohon-pohon itu namun kata para ‘fotografer’ amatiran yang mengikuti kemana pun kita jalan, umur pohon-pohon itu ada yang sampai ratusan tahun. Pohon-pohon itu tak ada yang ditebang, dibiarkan terus tumbuh, baru dipotong-potong, jika telah tumbang dengan sendirinya.

Kita butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai Sangeh, dan kita disana hanya sekitar 45 menit! LOL. 

Pulangnya Ranz tak mau memperhatikan petunjuk-petunjuk arah yang ada di jalan-jalan. Dia ngikutin GPS di hp yang ternyata memang benar memberi kita jalan yang lebih ‘lurus’ tidak mutar-mutar, meski kadang melewati kawasan rumah penduduk dan bukan jalan raya, namun lebih pendek. 

Pukul 18.15 kita telah sampai di Sanur untuk menikmati jagung bakar dan sate ikan. Sekitar pukul 19.00 kita kembali ke hotel. Rencananya setelah mandi Ranz mau menemaniku ngopi di ‘Kopi Kiosk’. Namun ternyata setelah mandi aku teler! LOL. Dengan sangat terpaksa, aku bilang ke Ranz ga jadi keluar jalan-jalan. 

Jarak tempuh hari ini kurang lebih 110 km.

Jumat 26 Juni 2015

Setelah empat malam kita lewatkan di Kuta dan Sanur, hari ini kita melanjutkan perjalanan ke Pulau Lombok!

Ranz yang salah satu hobinya adalah packing, (yuhuuu, I really appreciate her for this!) telah packing barang-barang kita semalam. Sebelum meninggalkan Sanur, kita kembali mencoba peruntungan untuk menangkap momen sunrise. Pukul 06.15 kita telah menuju pantai Sanur.




Kali ini kita beruntung karena alam bersahabat dengan kita yang ingin memotret sunrise. Setelah sehari sebelumnya kita gagal, hari ini kita berhasil mendapatkan foto-foto sunrise dengan menggunakan hape kita. Yay!


otw ke Padangbai

tiket ferry menyeberang ke Lombok :)
Kembali dari pantai, kita mandi dan packing untuk yang terakhir. Pukul 08.15 kita telah menyusuri jalan Danau Tamblingan untuk meninggalkan kawasan Sanur. Kita ke arah Timur, ke Padang Bai, pelabuhan tempat kita akan menyeberang ke Pulau Lombok. 

Trek yang kita lewati rolling, meski tak se’ganas’ trek di kawasan Tabanan. Kekuatan dengkulku mulai menurun karena membawa pannier (meski yang kecil) di rak boncengan Austin. Melihat aku yang selalu keteter di belakang, Ranz ga tega maka dengan setengah memaksa dia meminta tas pannier di rak boncengan Austin dipindah ke Pockie, ditumpuk di atas tas pannier besar yang telah nangkring disana. Jika dilihat orang, betapa unfair aku padanya, rak boncengan Austin kosong (tas pannier kecil tetap kubiarkan nempel di setang Austin karena malas memindahnya) sedangkan rak boncengan Pockie penuh tas pannier yang mungkin baju satu lemari bisa masuk semua. LOL. 




Namun memang setelah tas pannier dipindah, aku bisa terus menempel Ranz, ga ketinggalan di belakang mulu. Dengan begini, kita bisa lebih cepat mencapai Padang Bai, satu hal yang diinginkan Ranz: ga pake lama nyampe Padang Bai. :)
Buta trek memang membuat perjalanan rasanya panjaaaang dan lama. Meski telah ngecek di google map bahwa jarak Sanur – Padang Bai 40 kilometer,  rasanya jarak 40 kilometer itu ‘unbearable’. LOL. Mana tidak ada petunjuk kilometer di pinggir jalan. 

pelabuhan penyeberangan Padang Bai
Akhirnya kita sampai di Padang Bai pukul 12.15 WITA. Yeayyy! Sportstracker di hapeku menunjukkan jarak yang kita tempuh 45 km. Ranz yang excited langsung membeli tiket ferry, tanpa memotret terlebih dahulu. (Shhhttt ... semenjak kehilangan Shane, Ranz jadi jarang motret. Pablebuat? L ) Untuk satu orang plus sepeda kita harus membayar Rp. 64.000,00. 

Ada sedikit incident yang tidak mengenakkan ketika kita akan naik ferry. Mendadak ada seseorang datang, langsung mengambil tas pannier besar yang akan diangkat Ranz (aku telah naik ke dek lantai 2 dengan membawa tas pannier kecil). Namun begitu sampai dek lantai 2, dia langsung meminta bayaran Rp. 20.000,00! Karena ga mau ribut-ribut, Ranz langsung membayar. Namun ada sepasang turis manca yang backpacknya juga dibawakan orang yang itu ngeyel ga mau bayar. Orang (yang ternyata porter, namun cara kerjanya langsung ambil tas turis tanpa meminta persetujuan turis yang bersangkutan) itu berulang kali mengatakan, “Two bags, one bag twenty five. Two bags fifty thousand.” Si bule dengan heran mengatakan, “You took our bags without our permission and now you ask us to pay you that much money? I don’t get it!” Si porter tidak peduli, dia mengulangi kata-katanya, “two bags, one bag 25, two bags 50 thousands.” Si bule bilang, “Why is it so expensive? It is not our mistake. Besides, the distance is not far.” 



Hasil akhirnya si bule memberi uang dua puluh ribu rupiah ke porter. Fiuuuhhh.
Ferry yang kita tumpangi meninggalkan Padang Bai pukul 13.00. Keadaan ferry tidak penuh sehingga kita bisa leluasa memilih tempat duduk. Perjalanan lancar dan kita sampai di pelabuhan penyeberangan Lembar pukul 17.00, tepat 4 jam. 


Pukul 17.20 kita baru turun dari ferry karena kita harus menunggu semua truk di dalam ferry turun. Seli kita terletak di ‘space’ yang tertutup badan truk.
Sempat ketar-ketir apakah trek akan rolling lagi dari Lembar ke kota Mataram. LOL. Namun ternyata trek lumayan bersahabat. Beberapa ratus meter dari Lembar, Ranz baru ngeh kalau sendal gunung yang dia tali di rak depan setang diambil orang! Hadeeehhh ... 





Kita bersepeda dalam diam. Ranz yang di depan sesekali ngecek hape untuk melihat rute di google map. Lepas pukul 18.15 saat keadaan mulai gelap, kita pun memelan memacu sepeda. Untunglah jarak yang semula dikira 30 kilometer, di kilometer 20 kita ternyata telah memasuki pusat kota Mataram. Jika kita sempat booking hotel di Kuta dan Sanur, kita tidak booking hotel di Mataram. Meskipun begitu, Ranz telah browsing alamat beberapa penginapan yang harganya di bawah dua ratus ribu rupiah per malam. 


Dalam perjalanan mencari penginapan, ban belakang Pockie kehabisan udara. Setelah cari-cari tambal ban, mendapatkan satu tambal ban, kita tahu bahwa ban dalam belakang Pockie tak lagi layak pakai. Untunglah Ranz membawa ban dalam cadangan. Setelah diganti yang baru, kita melanjutkan hunting penginapan. 

Kita menginap di Wisma Nusantara 2, yang harga sewa kamarnya Rp. 160.000,00 dengan fasilitas AC. Setelah menaruh barang-barang, kita keluar untuk makan malam.

Malam itu kita kedatangan tamu – Mba Ely yang nama efbenya “Namaku Felie” – yang kebetulan sedang menengok rumahnya di Lombok. Dia pun menawari kita untuk menginap di rumahnya di malam kedua kita di Mataram. Deal! J Kita berteman di efbe belum lama, seingatku, namun dia telah berbaik hati menawari kita menginap. Waaahhh ... pantang menolak rejeki! :)

jarak tempuh gowes hari ini 45 km (Sanur – Padang Bai) plus 22 km (Lembar – penginapan di pusat kota Mataram.

Rekapitulasi rute & jarak

Day 1 Gilimanuk – Negara – Tabanan – Denpasar – Kuta 142 km, trek rolling ala Jambu Ambarawa – Secang, hanya jarak rollingnya 2,5 kali lebih panjang
Day 2 Kuta – Kampus Univ Udayana – GWK pp 50 km, nanjak mulai dari kampus Unud
Day 3 Kuta – Pulau Serangan – Sanur 35 km (tidak termasuk gowes sore di kitaran pantai Sanur – pantai Sindhu pp)
Day 4 Sanur – GWK – Pantai Pandawa – Kuta – Sangeh – Sanur 110 km
Day 5 Sanur – Padang Bai plus Lembar – Mataram kota 67 km

Rekapitulasi penginapan

Night 1 & 2 Tamansari hotel di Legian – Kuta Rp. 365.000,00 untuk 2 malam, fasilitas: double bed, AC, kamar mandi dalam + bath tub + shower, TV, no breakfast
Night 3 & 4 Srideva Guest House – Sanur Rp. 300.000,00 untuk 2 malam, fasilitas: double bed, AC, kamar mandi dalam (shower), no breakfast
Night 5 Wisma Nusantara – Mataram Rp. 160.000,00 untuk 1 malam, fasilitas, 2 single bed, AC, kamar mandi dalam (shower), plus 2 pop mie untuk sarapan

To be continued

Gili Trawangan 23.23 28 June 2015

1 komentar:

  1. salut aku sama mbaknya,,,, jelajah bali dan lombok dengan sepeda,,,, siapa tahu bisa seperti mbaknya,,, salam kenal

    BalasHapus