Rabu, 05 Agustus 2015

When there is beginning, there is end : Bikepacking ke Bali dan Lombok (episode 5)



WHEN THERE IS BEGINNING THERE IS END 
(but we can always start again :) )

Beberapa tahun lalu, di awal-awal kita memulai bikepacking trips, aku dan Ranz sering heran jika melihat kawan-kawan pesepeda yang bisa turing berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Pertanyaan kita adalah, “Apakah mereka tidak bekerja?” “Darimana mereka mendapatkan uang selama turing?” 

Bulan Mei 2013 dalam perjalanan Borobudur – Jogja seusai menghadiri (baca è nonton) upacara Waisak yang chaotic itu, kita bertemu Stephan, seorang bikepacker dari Jerman yang pada saat itu sedang dalam perjalanan keliling Eropa dan Asia. Dia telah berkelana hampir selama 2 tahun. Waktu aku berkunjung ke blognya di www.cyclingeurasia.com aku tahu bahwa dia mendapatkan sponsor. Hmmm ... enak ya kalau bikepacking bisa mendapatkan sponsor? Hehehehe ...

Kembali ke kondisi yang kita miliki. Selama ini paling lama kita bikepacking hanya selama satu minggu saja. Ini waktu kita ke Blitar dan Malang Juli 2014. Sebelum itu paling lama hanya 4 – 5 hari. Ga perlu lah kita iri ke mereka yang bisa turing berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Kita seharusnya cukup bersyukur mendapatkan kesempatan untuk bikepacking selama beberapa hari dimana teman-teman pesepeda lain hanya bisa ngiler melihat kita kelayapan naik sepeda sambil berwisata sampai berhari-hari. LOL. No need to curse the bread just enjoy what we have. :)

Selasa 30 Juni 2015

Saat meninggalkan Gili Trawangan.

Semalam kita sudah packing sehingga pagi itu kita tidak perlu repot membenahi barang bawaan kita. Kita masih sempat berburu sunrise lho, kali ini kita bersepeda ke lokasi yang agak jauh dibanding sehari sebelumnya agar kita bisa mendapatkan pemandangan sunrise tanpa terhalang pulau di seberang. Sekitar pukul tujuh kita telah kembali ke penginapan untuk mandi dan beres-beres terakhir.

Pukul setengah sembilan kita meninggalkan ANDI HOMESTAY yang telah kita inapi selama 2 malam. Tamu dari Spanyol yang menginap di kamar sebelah pagi-pagi telah pergi, mungkin mereka akan snorkeling di Gili Air atau di lokasi lain. Kita langsung menuju dermaga dimana kita membeli tiket untuk naik public boat. Tak lama setelah kita membeli tiket, sudah ada pengumuman bahwa perahu untuk menyeberang ke Bangsal telah siap berangkat. Di dermaga Gili Trawangan ini tidak ada barisan porter yang siap membantu kita membawa barang bawaan kita. Namun petugas yang ngecek para penumpang meminta kita membayar uang kelebihan bagasi ketika dia melihat kita membawa dua buah sepeda lipat. Untuk uang ‘lebih’ itu dia menyuruh petugas yang ngecek tiket membantu kita mengangkat seli ke perahu.



Berbeda dengan saat menyeberang dari Bangsal ke Gili Trawangan dimana waktu kita menaikkan seli perahu masih sepi, kali ini perahu telah penuh penumpang dan barang-barang bawaan penumpang lain. Untunglah kita masih bisa menyelipkan seli dan kita berdua bisa duduk di tengah-tengah perahu. 

satu gang di kawasan Gili Trawangan

suasana perahu penyeberangan dari Gili Trawangan ke Bangsal

Perjalanan menyeberang lancar.

Sesampai Bangsal, para porter yang membantu kita mengangkat barang bawaan kita dua hari lalu langsung menyongsong untuk membawakan seli kita. :)

Menurut rencana awal, sebelum kita berangkat bikepacking, pulang dari Gili Trawangan kita akan gowes ke Mataram, kemudian menginap semalam disana. Keesokan hari baru lanjut ke Lembar, menyeberang ke Padangbai kemudian ke Denpasar. Meski ada Om Hel yang menawarkan penginapan gratis di Mataram, kita memutuskan hari ini kita langsung balik ke Sanur. Baru 2 hari di Mataram dan 2 hari di Gili Trawangan, kita telah kangen Sanur. LOL. Maka, demi mengirit waktu (kalau gowes tentu kita butuh 2 hari dari Gili Trawangan ke Sanur), kali ini kita menyewa taksi. Dari Bangsal kita langsung diantar ke Lembar.







Kita sampai Lembar pukul 12.30 WITA. Tak lama setelah kita naik ferry, ferry pun berangkat. Ferry yang kita naiki kali ini kondisinya lebih bagus ketimbang ferry yang kita naiki sebelumnya namun kurang menguntungkan bagiku karena justru aku tidak bisa menyelonjorkan kaki dengan nyaman. LOL. Apalagi membaringkan tubuhku yang penat. LOL.

Kita sampai di Padangbai sekitar pukul setengah lima. Kebetulan ada bus RASA SAYANG menuju Jakarta yang ada di ferry yang kita tumpangi, maka, sekali lagi untuk mengirit waktu, kita naik bus menuju Denpasar. Kita turun sebelum bus belok ke arah bypass. Dari sana kita gowes ke Sanur, kurang lebih 5 kilometer. 


Rencana kita akan kembali menginap di homestay Sri Deva. Namun sesampai sana, kita tidak menemukan suami istri yang bertugas menjaga homestay itu. Sembari menunggu mereka kembali, kita keluar ke rumah makan yang terletak tak jauh dari sana, yang menyediakan masakan Jawa. Meski hanya menyediakan masakan Jawa, yang datang tak hanya orang-orang Indonesia saja, banyak juga bule yang datang dan makan disana. 

30 menit kemudian kita balik ke Sri Deva. Kita tetap tak menemukan suami istri itu. Dan kita lihat kamar ber-AC yang kita inapi waktu kita di Sanur telah diinapi turis asing. Nampaknya kita memang tak lagi berjodoh. LOL. Kita harus mencari penginapan lain. Sempat gowes kurang lebih 500 meter dari Sri Deva, namun akhirnya kita mendapatkan penginapan yang terletak tepat disamping Sri Deva, yaitu Sanur Holiday. Jika di Sri Deva kita membayar Rp. 300.000,00 untuk 2 malam, di Sanur Holiday kita membayar Rp. 350.000,00. Kamarnya lebih luas dan kamar mandi dilengkapi dengan bath tub. 

Setelah check in, mandi, kita keluar. Ranz mau menraktirku kopi di “Kopi Kiosk!” Kita sampai sana pukul 21.00, tepat saat mereka tutup! LOL. Kita pun kembali ke penginapan, dan ngopi di cafe yang pemiliknya sama dengan Sanur Holiday. :)
 
Pukul 22.30 kita balik ke kamar. Saatnya istirahat. 

Rabu 1 Juli 2015 

Setelah berdiskusi kita mau ngapain hari ini, Ranz menyetujui keinginanku untuk gowes ke Ubud. Yippee ... 

Sekitar pukul setengah sembilan kita meninggalkan kawasan Jalan Danau Poso, kembali menyusuri jalan yang kita lewati ketika kita akan ke Padangbai. Kali ini perjalanan lebih mudah karena kita berdua tidak terbebani pannier. :)
 
Jarak yang “hanya” 26 kilometer, namun karena kita ‘buta’ trek dan tak bisa memperkirakan kira-kira kita masih butuh berapa lama gowes, rasanya gowes sejauh 26 kilometer itu jauh juga. LOL. Trek agak miring sedikit. LOL. Namun ketika kita sudah mulai belok ke arah yang ada tulisan “Ubud” trek mulai lumayan menantang rollingnya. LOL. 

bicycle parking area





Yang ingin “kutemukan” di kawasan Ubud adalah pasar tempat aku dan anak-anak belanja oleh-oleh waktu kita field trip tahun lalu. Selama belum menemukan lokasi itu, aku tidak berhenti. Sementara Ranz yang ada di belakangku mulai resah, “Kamu mau kemana? Ini kita sudah sampai Ubud!” bla bla bla ... Sadar bahwa aku juga tidak tahu lokasi yang kucari, aku juga ga ngerti mau jawab apa. LOL. Ketika kita berhenti di satu minimarket untuk istirahat, kita berdua pun mengecek google map. Aku menunjuk “Ubud palace” sebagai lokasi yang ingin kutuju karena di map, lokasi ‘Sacred Monkey Forest Ubud” nampaknya berada di lokasi yang berbeda, dimana kita harus muter lagi, dan Ranz males kesana. LOL. Ranz setuju kita lanjut ke “Ubud Palace”. 

Setelah kita melanjutkan gowes, tak jauh dari situ, di satu pertigaan, kita malah menemukan petunjuk arah “Sacred Monkey Forest” yang terletak hanya 200 meter dari pertigaan itu. NAH! Yeaayyy. 



Maka, selanjutnya kita menjelma sebagai turis, seperti ratusan turis lain, baik turis mancanegara maupun dari dalam negeri, yang menikmati segala tingkah polah monyet-monyet yang ada. Entah apakah karena waktu itu masih siang sehingga kita bertemu banyak pengunjung – yang rata-rata datang bersama keluarga, lengkap dengan anak-anak kecil – atau karena lokasinya yang di Ubud, satu lokasi yang strategis dan merupakan salah satu lokasi wajib kunjung para turis. Ini jika dibandingkan waktu kita berkunjung ke Sangeh yang waktu kita datang, kita adalah satu-satunya pengunjung.

Jika di Sangeh kita melihat si fotografer amatir memberi potatoe crackers kepada para monyet untuk menarik perhatian mereka agar bisa difoto bersama pengunjung, di Ubud, pengunjung dilarang memberi makanan kecuali pisang. Kebetulan di dalam lokasi ada beberapa ‘penjual’ pisang bertandan-tandan yang memang disediakan untuk dibeli para pengunjung jika mereka ingin memberi makan pada monyet-monyet yang ada.
Aku dan Ranz cukup menikmati suasana yang ada, berjalan mengitari seluruh kawasan, (seolah-olah lupa bahwa kita kesana naik sepeda, dan pulangnya kita masih harus mengayuh pedal sepeda sejauh 27 km!) memandangi tingkah laku para monyet (dan juga pengunjung lain LOL) yang nampak cuek dengan para turis yang sibuk memotret apa pun yang mereka lakukan. 

Kita meninggalkan “Sacred Monkey Forest” di Ubud ini sekitar pukul setengah dua. Kebetulan rute yang kita pilih saat pulang justru membawa kita berdua ke lokasi yang kucari di awal aku mengajak Ranz gowes kesini: pasar pusat oleh-oleh di Ubud yang terletak tak jauh dari “Ubud Palace”, dan ... aku menemukan restoran tempat aku dan anak-anak makan siang setahun lalu “NOMAD” namun kita tidak mampir. 

otw back from Ubud to Sanur


Jalanan Ubud yang sempit dengan lalu lintas yang padat – tak jauh berbeda dari Kuta, namun dengan trek naik turun – membuat Ranz kurang menyukai Ubud. LOL. But you know, she is always sweet, jadi selalu siap menemani kemana aku ingin pergi. :)
 
Perjalanan kembali ke Sanur sempat tersendat karena di beberapa jalan lalu lintas terlalu padat sehingga terjadi kemacetan yang lumayan panjang. Namun setelah kita terlepas dari kemacetan itu, perjalanan jauh lebih lancar karena Ranz telah familiar dengan jalan yang kita lewati. :)
 
Sekitar pukul setengah empat sore kita telah sampai di Pantai Sindhu. Namun karena suasana masih terlalu panas, kita meninggalkan pantai dan masuk ke satu restoran waralaba. Hah, jauh-jauh ke Bali hanya untuk menikmati mcflurry. LOL. Sama halnya dengan makanan, jauh-jauh ke Bali, kita tetap saja menyambangi rumah makan Jawa. LOL.
Pukul lima sore kita kembali ke pantai. Penjual jagung bakar dan sate ikan tak kelihatan di lokasi dimana kita bisa nongkrong. Hari itu kebetulan sedang malam purnama, saat orang-orang (asli) Bali melakukan ritual khusus menyambut malam purnama. Apa boleh buat?

Kita meninggalkan pantai Sindhu sekitar pukul setengah tujuh malam. On the way ke penginapan, kita mampir ke ‘Kopi Kiosk’, Ranz memberiku kesempatan menikmati cappuccino disini. 

cappuccino buatan seorang barista Kopi Kiosk

Kopi Kiosk

Sekitar pukul setengah delapan kita balik ke penginapan. Usai mandi, aku menemani Ranz makan malam berupa sate kambing. Ada sebuah warung berjualan sate kambing terletak tak jauh dari penginapan. 

Pukul sepuluh malam kita balik ke penginapan. Saatnya istirahat. 

Kamis 2 Juli 2015
 
Pagi terakhir di Sanur sebelum kita kembali ke Pulau Jawa kita gunakan sebaik-baiknya untuk menjaring sunrise. Pukul enam seperempat seperti biasa aku membangunkan Ranz untuk kemudian mengayuh pedal sepeda ke pantai. Pukul tujuh kita telah kembali ke penginapan untuk mandi, beres-beres dan packing. 

Pukul sembilan kita telah berada di sepanjang Jalan Danau Tamblingan menuju Denpasar. Dengan terus menerus menekuni google map di hapenya, Ranz memberiku instruksi apakah kita perlu belok kiri atau kanan ataukah lurus terus untuk mencapai Terminal Ubung. Ya, kita memutuskan naik bus untuk menuju Gilimanuk untuk menghemat waktu dan tenaga. :)
 
On the way kita sempat mampir sejenak ke Monumen Brajasandi, yang ternyata merupakan tempat berkumpulnya para pesepeda Bali ketika mereka gowes rame-rame. Kebetulan aja kita lewat di jalan dimana monumen ini terletak. LOL. Tahun lalu aku juga kesini, namun aku dan Ranz tidak sempat masuk ke dalam monumen, kita hanya memotret sepeda kita masing-masing dengan latar belakang monumen. :) Tak lama kemudian kita meneruskan perjalanan.



Meski ga mudah bagi kita berdua menemukan terminal Ubung – Ranz harus terus menerus membaca peta di google map – kita akhirnya sampai disana juga. Yippeee ... Tidak sulit bagi kita mendapatkan bus yang bersedia mengantar kita – dengan barang bawaan kita yang segambreng LOL – ke Gilimanuk. Kita cukup membayar Rp. 150.000,00 saja, meski dalam perjalanan kita terpaksa dipindah ke kendaraan angkutan umum lain dua kali.
Trek naik turun Denpasar – Gilimanuk tak hanya membuat para pesepeda berusaha keras melewatinya (seperti waktu kita berdua gowes dari Gilimanuk ke Denpasar tanggal 22 Juni 2015), angkutan umum yang kita naiki pun juga butuh waktu lebih lama ketimbang jika trek-nya hanya datar saja. :)
 
Kita sampai di Gilimanuk jelang pukul tiga sore. Ada rasa haru waktu kita menaiki ferry, saat kita harus mengucapkan “good bye Bali ... au revoir ... till we meet again” ... (lebay! LOL.) Mungkin bukan hanya kita harus meninggalkan pulau yang indah ini, namun kenyataan bahwa kita harus segera kembali ke “kenyataan”, yang membuat kita merasa berat. :)
 
FYI, ketika kita naik ferry meninggalkan Lombok, kita naik ferry yang kondisinya lebih bagus dibandingkan ketika kita menuju Lombok, sebaliknya waktu kita balik ke Ketapang, ferry yang kita naiki kondisinya lebih mengenaskan ketimbang ferry yang kita naiki menuju Gilimanuk. LOL. 

Pukul empat sore WIB kita telah menapakkan kaki di pulau Jawa. Kita kembali menginap di “Wisma Mulia” karena kita baru balik ke Solo dengan naik KA Sritanjung keesokan hari. 


Jumat 3 Juli 2015 

Pukul enam kurang seperempat pagi kita telah sampai di Stasiun Banyuwangi Baru, namun pintu masuk peron masih ditutup. Pukul enam lebih sedikit kita barus bisa masuk peron. Seperti bulan Mei lalu, kita juga bertemu dengan petugas stasiun yang membuat kita kerepotan menaruh sepeda dalam kereta. (Ranz harus mengangkat Pockie di rak di atas tempat duduk penumpang, sedangkan Austin harus berbaring tak berdaya di bawah kursi penumpang. LOL.) Namun kali ini si petugas tidak mengikuti kita naik kereta, dia hanya bilang, “Sepeda ditaruh di bawah kursi ya Bu.” LOL.

Kita mendapatkan “kerepotan” setelah kereta api berangkat. Aku lupa dimana tepatnya ketika para “polisi khusus KA” mengecek tiket dan barang bawaan penumpang di gerbong yang kita naiki. Entah karena mereka kurang “familiar” dengan peraturan yang telah dikeluarkan oleh PTKAI bahwa sepeda lipat – asal dalam kondisi terlipat rapi – termasuk barang bawaan yang bisa ditaruh dalam gerbong penumpang atau mereka tidak menyadari bahwa serapi apa pun sebuah sepeda lipat terlipat, ukurannya tidak bakal bisa “setipis yang mereka bayangkan”. LOL. Kecuali sepeda lipat merk “br*****n” kali ya ... yang harganya tak kalah dengan sebuah sepeda motor keluaran terbaru. Lha sepeda lipat milikku dan milik Ranz kan seli yang harganya cukup terjangkau bagi rakyat “jelata”.
Anyway, peristiwa “tanya jawab” tentang sepeda lipat ini memperkaya pengalaman kita naik KA dengan menenteng sepeda lipat. :)

Kita sampai di stasiun Purwosari tak jauh dari kediaman Ranz pukul setengah tujuh malam. Setelah turun dari KA, aku sempat mampir ke rumah Ranz sebentar untuk mengambil sesuatu. Kemudian kita berdua makan malam bersama. Usai makan malam, Ranz mengantarku ke Kerten, menungguku hingga aku mendapatkan bus. Sebelum pukul delapan malam aku telah berada dalam bus otw ke Semarang.

Aku sampai rumah sekitar pukul sebelas malam. 

Dan ... aku sudah kangen ingin bikepacking lagi. Hohohohoho ...

LG 17.51 28/07/2015

2 komentar: