Rabu, 05 Agustus 2015

Rejeki oh Rejeki: Bikepacking ke Bali dan Lombok (episode 4)



REJEKI OH REJEKI

Setahun yang lalu waktu aku berkunjung ke Bali mengawal anak-anak field trip, aku bilang ke Ranz, my (biking) soul mate, “Nabung yuk, biar kita bisa bikepacking ke Bali.” (btw, sudah sekitar 3 tahun terakhir aku nyidam bersepeda di Bali, gowes dengan menaiki sepeda sendiri, bukan rental.) Jawaban Ranz sedikit mengecewakan (juga menyedihkan), “Aku pesimis bisa menabung buat bikepacking ke Bali. You know blah blah blah ...” LOL.

Siapa sangka setahun kemudian Ranz lah yang justru berusaha keras untuk mewujudkan impian kita berdua ini? Tak tanggung-tanggung, tak hanya kita bikepacking ke Bali, namun terus berlanjut hingga ke Lombok, terus menyeberang ke Gili Trawangan.

Empat tahun yang lalu Om Hel promosi betapa cantiknya Lombok dan aku KUDU nyempatin diri bersepeda di Lombok. Dengan santai kujawab, “Aku pasti akan ke Lombok Om Hel.” Dia tanya, “Kapan?” “Belum tahu lah kalo sekarang.” Jawabku sekedar ‘menghentikannya’ mengejarku. LOL. “Please come here before you die. Or you will regret,” he insisted. “Don’t worry, I will have long life,” jawabku yakin. LOL. “Are you god?” tanyanya. Hahahahaha ...

Aku sudah lupa perbincangan kita empat tahun lalu sampai setelah aku sampai di Lombok, dan Om Hel mengundangku untuk menginap di rumahnya. Hwaaa ... Sudah telanjur di malam pertama aku sudah check in di Wisma Nusantara di kawasan Cakranegara, dan malam kedua aku sudah setuju untuk menginap di rumah Mba Ely. :)
 
“Mengapa Mba Nana memilih menginap di hotel yang murah? Jika ada yang gratis?” kata Om Hel waktu kita makan malam bersama. LOL.

Begitulah. Kita kadang tidak tahu dari mana rejeki kita datang, baik dalam bentuk uang, waktu senggang, kesehatan, termasuk teman-teman baik yang meski selama ini hanya kita kenal lewat sosial media.

Senin 29 Juni 2015


Kita menginap di ANDI homestay yang harga sewa kamarnya murah meriah untuk ukuran Gili Trawangan, yakni Rp. 350.000,00 (untuk dua malam) dengan fasilitas double bed, fan, kamar mandi dalam + shower, dan breakfast. Mungkin karena kita datang di bulan Ramadhan, penghuni homestay selain kita adalah turis mancanegara. Penghuni dua kamar lain berbahasa Spanyol, dan mereka satu rombongan (3 perempuan, satu laki-laki), penghuni satu kamar tidak jelas berbahasa apa karena aku hanya melihat mereka lewat kamar tempat kita menginap tanpa berbincang, sepasang lelaki dan perempuan. Penghuni kamar di pojok berbahasa Inggris, mereka ramah sekali menyapa, “hello” ke kita ketika mereka lewat dan kita sedang duduk-duduk di teras kamar.

Hari kedua di Gili Trawangan ini aku membangunkan Ranz pukul 06.00 untuk berburu pemandangan sunrise. Namun seperti yang kutulis di status dan foto yang kuunggah beberapa hari lalu, kita memilih spot yang salah. LOL. 





Pemandangan mentari terbit terhalang pulau di seberang. Mungkin itu Gili Air. Setelah mendapatkan beberapa jepretan, (meski sunrise-nya di balik pulau), kita berjalan-jalan di pinggir pantai, merasakan kelembutan pasir dan membuat tapak-tapak kaki yang dengan mudah terhapus kala ombak mencumbu pantai.
Kita kembali ke penginapan sekitar pukul delapan.



Acara pagi ini di penginapan adalah ... mencuci pakaian. LOL. Sebagian baju yang bersih (yang kita cuci di Sanur) telah dikirim balik lewat JNE oleh Ranz. Hadeeehhh ... LOL. Usai mencuci, kita hanya nongkrong-nongkrong di teras, mendengarkan empat turis mancanegara yang ribut sekali berbincang dalam bahasa Spanyol. Sekitar pukul sebelas mereka keluar, mungkin akan berjemur. Kita berdua masuk kamar. LOL. Kita tak perlu mengupayakan warna kulit kita kian eksotis karena bersepeda melewati pulau Bali dari Gilimanuk hingga Padang Bai kemudian menyeberang ke pulau Lombok lantas bersepeda di Lombok, dan menyeberang ke Gili Trawangan, plus nyepeda di GT menunggu jam check in sudah sangat membuat warna kulit kita gelap bercampur merah padam. LOL.

Di penginapan siang itu aku menyibukkan diri mengetik menulis catatan perjalanan bikepacking kita. Sementara itu karena Ranz ga tahu mau ngapain, dia malah molor! LOL.

Kita berdua keluar sekitar pukul tiga sore. Aku ingin bermain air di kawasan “snorkeling” di tempat Ranz memotret Pockie satu hari sebelumnya. To my disappointment, air laut sedang surut. Dan ternyata, seperti di pantai Bama, ketika air laut surut, terlihatlah hamparan rumput hingga puluhan meter. Air memang sangat bening, namun aku kesulitan untuk berjalan menuju tengah laut (melewati hamparan rumput) karena banyaknya coral yang lumayan tajam hingga jika tidak hati-hati bakal melukai tapak kaki. :(



suasana 'night market' di Gili Trawangan

salah satu penjual di 'night market' dengan berbagai macam dagangannya

Setelah membiarkan diri berpanas-panas ria di lokasi itu, kita melanjutkan perjalanan dengan melewati kawasan berpasir, sehingga terpaksa kita harus menggendong sepeda. Well, dalam perjalanan kali ini kita lumayan sering memanjakan sepeda dengan menggendongnya. LOL. Tujuan kita adalah Ombak Sunset hotel, dimana di depan hotel terletak 3 ayunan yang menjadi lokasi favorit turis untuk berfoto ria menjelang sunset. 

Jangan heran jika selama berada di Gili Trawangan kita bakal dimanjakan dengan pemandangan alam – berupa pantai – nan aduhai sekaligus para turis bule yang hanya mengenakan bikini (cewe) maupun boxers (cowo) doang. LOL. Jagalah matamu dengan santun hingga tak nampak begitu ngiler. LOL. Disini kita akan menemukan pasangan, maupun rombongan atau keluarga yang berupa ayah ibu dan anak yang sedang berlibur. Tentu karena kita berkunjung di bulan puasa, sangat jarang kita menemukan turis dalam negeri. Sebagian besar dari mereka berkulit putih dan berambut blonde. 

Gili Trawangan bebas dari polusi kendaraan bermotor karena memang tidak ada kendaraan bermotor. Alat transportasi yang ada disini berupa sepeda, kereta kuda, atau kuda. 

Setelah mendapatkan foto yang kita inginkan – sunset – kita kembali ke penginapan. Sesampai penginapan, kita buru-buru mandi untuk segera menuju pasar malam. Ranz sudah sangat lapar! Dan ... aku ... setelah sampai pasar dan melihat begitu banyak ragam makanan, dengan mudah terprovokasi rasa lapar. LOL. 

Di meja tempat kita makan, ada empat rombongan / pasangan turis yang berbeda. Keempat rombongan itu berbicara dalam bahasa yang berbeda! Ih wow! Kita hanya mendengarkan sambil merasa terkagum-kagum (ndeso banget deh pokoknya! LOL) karena para bule berkulit putih itu makan makanan Indonesia, nasi plus berbagai macam sayuran, dengan botol bir bintang di tangan kiri mereka. LOL. Emang enak ya habis makan minum bir? Hihihihihi ... Sebagian yang lain sih membawa botol air mineral. :)

Pukul setengah sepuluh malam kita kembali ke penginapan. Saatnya packing karena keesokan hari kita akan kembali ke Lombok terus ke Bali.

To be continued.
Sanur 00.17 01.07.2015

2 komentar:

  1. Luar biasa :-)
    Semoga ada waktu untuk bisa menapaki jejakmu, mbak :-)

    BalasHapus