Jumat, 03 Februari 2012

Libur Akhir Tahun : Bikepacking Menantang Tanjakan (Day 3)



DAY 3 31 December 2011

Karena telah packing semalam sebelumnya, pagi ini kita bisa segera bebenah untuk meninggalkan hotel. Setelah sarapan, menyelesaikan pembayaran di resepsionis, kita siap melanjutkan ‘petualangan’. :)

Dari hotel sekitar pukul 07.45, kita langsung menuju jalan setapak dimana ada tulisan “pintu II Grojogan Sewu” dimana di sekitar itu juga terletak villa River Hills. Sampai di the so-called ujung jalan, kita ambil arah ke kiri – kalau ke kanan kita nanjak ke arah Grojogan Sewu. Jalan setapak yang kita lewati memang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki, sepeda, atau sepeda motor trail, jika pengendaranya memiliki jiwa petualang.

Sangat segar di mata maupun di jantung bersepeda melewati ‘areal hutan’ seperti ini. Hanya saja jangan mengharapkan bakal menemukan mini market di kiri atau kanan jalan. Inilah pentingnya mempersiapkan bekal terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan. :) Namun karena permukaan jalan tidak semulus jalan raya, tak jarang aku harus ttb alias tuntun bike. Ga perlu pake jaim lah. :-D


Kita sampai di Candi Sukuh menjelang pukul sebelas siang. Entah apakah acara yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat pada waktu itu merupakan kesempatan baik bagiku namun malah aku tidak bisa menghampiri Candi Sukuh dan mengamatinya dari dekat. Banyak turis mancanegara yang kulihat di antara kerumunan para penampil acara “Sewindu Srawung Seni Candi Sukuh” selain turis dalam negeri.


Ranz dan aku tidak menghabiskan waktu lama disini. Kita langsung melanjutkan perjalanan: menanjak ke Candi Cetho. Om Wiki bilang bahwa candi Hindu satu ini terletak pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut, maka bayangkan saja seberapa tingginya tanjakan yang harus kita daki. Kembali seperti kita mulai menanjak Tawangmangu dua hari sebelumnya. Pelan-pelan kita – terutama aku – mengayuh pedal sepeda untuk mencapai Candi Cetho. Sekian ratus meter melewati tanjakan, kita berhenti untuk minum seteguk dua teguk, atau ngemil sesuatu, untuk tetap menjaga energi. Kemudian kita lanjutkan lagi. Begitu terus. Hingga kita sampai ke tanjakan yang super terjal, yang akhirnya membawa kita ke tempat yang kita idamkan: Candi Cetho.



Meski pada waktu kita datang areal Candi Cetho dipenuhi kabut, aku langsung sangat suka dengan Candi ini ketimbang Candi Sukuh: Mungkin kabut yang melingkupi membuat suasana lebih mistis, mungkin karena bentuk ‘pintu’ masuk berupa pura seperti yang ada di Bali (aku sedang nyidam berkunjung ke Bali soalnya), atau mungkin karena lokasinya yang nampak lebih jauh dari ‘peradaban’ dari pada Candi Sukuh.


If only Ranz and I had arrived here earlier, we would stay a night here, karena ternyata di sekitar lokasi aku melihat ada beberapa pondok wisata tempat para wisatawan bisa menginap. Aku ingin bermain-main (baca berjalan-jalan, nongkrong sambil menulis atau membaca) sepuas hati. Aku membayangkan I would really feel peaceful. Perhaps next visit deh. :)


Di lokasi yang agak belakang, juga ada taman puri Saraswati, tempat dimana katanya bakal dipenuhi para penganut agama Hindu ketika ada perayaan agama. Mereka yang akan menginjakkan kakinya ke pelataran taman puri Saraswati diminta untuk melepaskan alas kaki mereka agar kebersihan (kesucian) tetap terjaga.


Sekitar pukul setengah tiga kita meninggalkan lokasi. Dalam perjalanan turun dari Candi Cetho inilah ‘insiden’ yang menimpa Snow White terjadi. :'( Kampas rem belakang ternyata tinggal sedikit, sementara mau tidak mau Ranz harus terus menerus main rem. Kampas akhirnya habis, dan ban belakang pun selip. :'( Track masih turun dan turun terus sementara tidak mungkin hanya mengandalkan rem depan plus rem kaki. :-D Di daerah perkebunan teh di daerah Kemuning, kita memutuskan untuk berhenti, mencari tumpangan.


We were very lucky ketika akhirnya sebuah colt lewat. Sopirnya, mengaku bernama Encos, sempat melihat kita waktu kita berada di Grojogan Sewu sehari sebelumnya. Pada hari itu, dia mengantar beberapa turis yang ingin berkunjung ke Candi Cetho. Maka, ketika aku dan Ranz melambaikan tangan ke arahnya, dia langsung berhenti.

Kita turun sampai terminal Karang Pandan naik colt yang dikemudikan Encos. Dari KP, kita naik bus jurusan Solo. Dari terminal Tirtonadi, kita ke rumah Ranz gowes. Namun sebelum balik ke rumah Ranz, kita bawa Snow White ke bengkel langganan Ranz terlebih dahulu.

Menjelang setengah enam, kita sampai di rumah Ranz.

We both were fatigued. LOL. Kebetulan malam itu tiga teman selier –  Wahyu Tayux, Dany Saputra dan Rezha Chyna – datang dari Semarang untuk menyambut tahun baru di areal Car Free Night Jalan Slamet Riyadi. Aku tidak berhasrat untuk ikut karena lelah plus pada dasarnya aku tidak menyukai gegap gempita keramaian seperti itu.

Sampai jumpa di petualangan bikepacking Ranz dan Nana selanjutnya. ^__^

PT56 22.29 02012012























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar