Jumat, 03 Februari 2012

Gowes Napak Tilas ke Stasiun Kedungjati


18 Desember 2011

Bermula dari diunggah kembali sebuah foto dari gowes bareng ke Stasiun Kedungjati kurang lebih tiga tahun lalu oleh Mas Nasir, akhirnya pada tanggal 18 Desember 2011 kemarin aku bersama Mas Nasir dan Mas Tunggal pun jadi bernostalgia kembali, menyusuri jalan sempit padat yang diakhiri dengan tanjakan yang meskipun tidak 'killing' cukup melelahkan. Kita tidak hanya bertiga tentu saja, namun juga disertai beberapa rekan goweser yang lain: my loved one, Ranz, Tami yang mengajak serta Yuni, Andra yang selalu semangat menyambut setiap ide gowes bareng, Eko Widi yang dengan tega meninggalkan sepupunya Asrul, tak ketinggalan Dany yang juga selalu penuh semangat menyambut ajakan gowes tour, meski sering datang terlambat ke meeting point dan mengejar rombongan, Om Topo yang selalu mengajak serta juniornya yang nampaknya bakal jadi pembalap di masa depan, pak guru Anton yang mengaku gowes ini adalah gowes terjauh setelah sempat mengalami cidera dan tidak bisa gowes selama berbulan-bulan, beserta beberapa lain yang tidak bisa kusebut satu-satu. :) Salah satu peserta yang membuat takjub para partisipan lain adalah dik Lala, putri kesayangan Mas Nasir yang masih duduk di bangku kelas 2 SD, meski harus terhenti di tengah perjalanan.

Aku dan Ranz sampai di meeting point sekitar pukul 05.20 dimana Tami sudah duduk manis menunggu yang lain. Dia bilang khawatir ketinggalan seperti ketika gowes ceria menuju Kudus maka kali ini dia berangkat sangat awal. Di samping Tami sudah ada seorang newbie di kelompok Komselis, Teguh yang baru saja mendarat di Semarang, lengkap dengan tas backpacknya yang terlihat cukup berat di punggungnya.

Setelah ngobrol ngalor ngidul sembari menunggu kedatangan peserta lain, akhirnya kita setuju untuk berangkat sekitar pukul 06.10. Diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Mas Nasir, diikuti dengan sedikit latar belakang mengapa gowes tour ini diadakan (napak tilas gowes tour tiga tahun lalu), akhirnya kurang lebih 23 goweser berangkat bersama dari meeting point. (3 orang menaiki sepeda balap, yang nantinya tidak jadi sampai ke tujuan). Jika 3 tahun lalu semua mengendarai mtb, gowes kali ini didominasi oleh sepeda lipat.Pak Eko ikut bergabung dengan rombongan di perjalanan.

Track memang tidak 'seramah' track menuju alun-alun Demak dimana jalanan lebih lebar, meski sama-sama dipenuhi oleh kendaraan besar, seperti bus dan truck. Selain itu, ada beberapa tempat dimana jalan tidak mulus, berlobang, dan sebagainya, sehingga lebih membutuhkan perhatian dan konsentrasi ekstra.


Aku dan beberapa peserta yang lain sempat berhenti di sebuah SPBU setelah melewati sebuah rel kereta api dimana kondisinya sangat berbahaya bagi mereka yang mengantuk. :) Mas Tung dan Ranz sempat buang hajat, sementara kita menunggu yang lain yang ada di belakang, terutama Mas Nasir dan si kecil Lala. Sebagian yang lain telah berada di depan. Di tempat inilah kita mendapatkan informasi bahwa salah seorang yang menaiki sepeda balap, ban sepeda bocor. Lewat telpon Tami mendapatkan informasi bahwa mereka mengizinkan kita untuk meneruskan perjalanan. Ada kemungkinan mereka tidak akan menyusul. Maka tiga peserta ini tidak sampai finish di Stasiun Kedungjati.


Meskipun track tidak begitu bersahabat -- sempit dan jalan yang rusak di sana-sini -- perjalanan lumayan lancar sampai kita mulai memasuki track tanjakan. Setelah tenaga lumayan terforsir selama kurang lebih 30 kilometer perjalanan, kita diharuskan menaklukkan tanjakan. :) Maka perjalanan pun mulai tersendat. :-D untunglah pemandangan di kanan kiri jalan lumayan menyejukkan mata, ga kalah dengan pemandangan yang bisa kita lihat dalam perjalanan menuju Banyumeneng Park alias BMP (menurut pandangan seorang Nana Podungge).


Sesampai di pasar Kedungjati, sebagian besar dari kita tidak langsung menuju stasiun, namun mampir terlebih dahulu untuk menyicipi pecel gendar. Sempat terjadi percakapan dengan seorang penjual di pasar tersebut bahwa seseorang sedang mencari seorang menantu laki-laki. :-D Nampaknya sih yang waktu itu dimaksud adalah Teguh. hahahaha ...


Kita sampai di stasiun Kedungjati kurang lebih sekitar pukul 11.15 (molor berapa jam yaaa dari perkiraan? :-D) Setelah memuaskan diri bernarsis ria di hadapan kamera masing-masing, kita setuju untuk meninggalkan lokasi sekitar pukul 12.00. Mas Nasir telah mencarter sebuah truck yang terus mengiringi dari Semarang, (yang di perjalanan sempat dimanfaatkan untuk loading, pertama, oleh si mungil Lala, kemudian juga oleh Yuni dan Pak Khudori :-D)

Perjalanan pulang cukup lancar setelah sebelumnya sempat pusing mengatur sepeda di dalam truck dan masing-masing peserta menempatkan diri di dalam truck, agar bisa 'pewe'. :)

Thank you all. Till our next 'biking tour' yah?

Personal note:

Perjalanan ini merupakan pengujian diri apakah aku masih payah seperti dulu sehingga seorang Mas Nasir perlu mendorong sepedaku tatkala melewati tanjakan. Aku selalu berkelit karena pada waktu itu aku masih seorang newbie dalam hal pergowesan dan menaiki sepeda mtb yang jika shifter gear kupindah maka rantainya akan lepas. :) Aku ingat di satu tanjakan waktu itu, aku merasa hampir pingsan karena tidak ada asupan cemilan, mana minum sudah habis. :)

Kali ini aku mengendarai sepeda lipat, Snow White, dimana di boncengan aku membawa tas panier yang di dalamnya berisi ... buku (:-P) dan lain-lain yang tidak begitu penting dalam perjalanan ini kecuali tiga botol berisi air mineral yang begitu kusayangi sehingga aku tidak menerima saran Ranz untuk menaruh tas panier dalam truck. :) Praktis kayuhan yang karena rodanya hanya 20 inchi tidak membawaku jauh melesat ke depan :-P plus berat panier ternyata lumayan mempengaruhi kekuatan dengkulku (I got 3 years older than last time :-P) Tentu aku sangat tidak menerima diri jika aku tidak mampu menaklukkan perjalanan ini, apalagi setelah pada bulan September kemarin aku menempuh track yang kurang lebih mirip dan lebih jauh, sekitar 60 kilometer, dari pintu gerbang masuk kotamadya Wonogiri sampai pertigaan Pracimantoro. And I was ok, meski teler, wkwkwkwkwk ... Analisis Ranz adalah, "Meski kamu bilang tas panier itu tidak memberati dengkulmu, in fact, it really did!" Baiklaaaahhh ... :-P


Gowes napak tilas ini jauh lebih ringan dibandingkan tiga tahun lalu karena pulangnya kita naik truck. :) Nampaknya kalau pulangnya tidak naik truck, Mas Tung tidak akan ikut gowes kali ini, sudah menyerah kalah sebelum bertanding. hahahaha ... Setelah perjalanan 3 tahun lalu, konon Mas Tung hampir tidak bisa berjalan selama kurang lebih satu minggu. :-D

Btw, busway, ternyata aku memang belum, atau mungkin tidak akan kapok gowes tour seperti ini.

PT28 18.49 191211




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar